On Thu, 14 Dec 2000, Syafrudin wrote:
> Sekarang dengan maraknya 'Magister Teknologi Informasi', lebih banyak lagi
> tuh lulusan S2 Komputer nggak paham jeroan :-) Tapi buat saya sih nggak
> masalah karena memang arah pendidikan mereka kan lain, buat saya yang penting
> mereka tetap kenal Linux dan kalau jadi Manajer IT mau menerima Linux :-)
>
Iya sih. Masak sudah jadi manajer masih harus melongok /usr/src/linux ?
Kan bisa suruhan anak buahnya :-)
> >sedikit developer Indoensia "real developer"...he.he
> >
> Saya merasakan fenomena ini begitu Visual Basic mulai populer, tahun 93 - 94.
> Ketika saya bertemu dengan rekan saya yang kebetulan 'ilmu programming'-nya
> saya merasa 'nggak ada' tapi bisa mem-program, saya merasa tampaknya sebentar
> lagi akan banyak program - program 'apa adanya'. Lebih lanjut lagi, akan
> banyak sarjana komputer yang kurang akrab algoritma.
>
Ditambah lagi dengan kurikulum yang kurang memberi dasar kuat ttg
programming. Atau kalaupun ada, penerapannya kurang pas.
Yang kayak gini enggak cuma di Indonesia. Di Monash sendiri, untuk
program undergrad Bachelor of Computing, sama sekali enggak ada
MK dasar spt. matematika, analisis algoritma, dsb. Jadi lulusannya
enggak punya background kuat ttg. ilmu yg dikuasanya, dan orientasinya
murni pragmatis saja.
> Ini serupa dengan kebanyakan orang yang saya temui. Dugaan saya, mungkin mereka
> terkena semacam 'perfect syndrome' ? maunya tulisan yang dihasilkan mesti
> 'perfect' ?
Ini mungkin karena si mhs tidak pernah 'diajari' menulis ?
Hmm...ingat dlu waktu SD saya ada pelajaran mengarang.
Gede juga manfaatnya ya ?
Lukito
----------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]