On Sat, 16 Dec 2000, lukito wrote:

> > mereka tetap kenal Linux dan kalau jadi Manajer IT mau menerima Linux :-)
> >
> Iya sih. Masak sudah jadi manajer masih harus melongok /usr/src/linux ?
> Kan bisa suruhan anak buahnya :-)

Kenapa tidak... ? saya baru aja abis baca buku  New New thing (cerita ttg
Jim Clarknya Netscape).. ternyata orang selevel dia masih suka
coding.. dan ngelongok ke barang-barang macam /usr/src/linux

> MK dasar spt. matematika, analisis algoritma, dsb. Jadi lulusannya
> enggak punya background kuat ttg. ilmu yg dikuasanya, dan orientasinya
> murni pragmatis saja.

Ini juga melanda kita.. 8-)  sayangnya ketika diingatkan.. malah bisa-bisa
dianggap kita ini yang "berkhayal" dan tidak mencboa realistis.  Padahal
dg kecepatan perkembangan TI, yang bisa dilakukan adalah menguatkan
dasar. sehingga bisa cepat mengadaptasi... 

> > terkena semacam 'perfect syndrome' ? maunya tulisan yang dihasilkan mesti
> > 'perfect' ?
> 
> Ini mungkin karena si mhs tidak pernah 'diajari' menulis ?
> Hmm...ingat dlu waktu SD saya ada pelajaran mengarang.
> Gede juga manfaatnya ya ?

Betul... pelajaran menulis (atau bahasa) rata-rata diajarin menjadi
pelajaran tata bahasa (konyolnya jadi pelajaran "menghafal" tata
bahasa).  Untung juga guru Bahasa Indonesia saya waktu di SMA tidak
seperti itu.  

Oh iya..pelajaran "mengetik" itu juga sangat besar manfaatnya..he.eh.

IMW


----------------------------------------------------------------------------
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
Pengelola dapat dihubungi lewat [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke