From: "Made Wiryana" <[EMAIL PROTECTED]>
|
| On Thu, 18 Apr 2002, Bambang Purnomosidi D. P. wrote:
|
| > > Misal saya mengeluarkan "sertifikasi Linux IMW" sah-sah aja koq. Tanpa
| > > perlu ada keterlibatan LUG, ataupun pemerintah. NAh tentu saja tinggal
| > > apakah orang industri itu percaya dg "Sertifikasi IMW" ini masalah
lain
| >
| > Ya tentu saja siapapun/perusahaan manapun berhak untuk mengadakan
| > sertifikasi. Selanjutnya biarkan mekanisme pasar yang bermain.
| >
| > Lain soalnya kalau ada yang berusaha bikin centralized control
| > (monopoli?) terhadap sertifikasi ini. Kesan ini yang saya tangkap dari
| > dokumen pendirian YLI.
|
| Menurut pengalaman saya di IPKIN, IPKIN sendiri tidak bernafsu menjadi
| "centralized control" tetapi hanya sebagai fasilitator atau hosting
| mekanisme penyusunan sertifikasi.
|
| Masalah Komite penguji, dll itu mungkin diletakkan di luar IPKIN. Termasuk
| sampai penyusunan sertifikasi final juga dilakukan di luar IPKIN. IPKIN
| saat itu hanya sebagai "tuan rumah" yang memfasilitasi terjadinya proses
| itu. Seingat saya versi 1.0 waktu itu disusun dg kerja sama DepNaKer,
| IPKIN, BPPT, berbagai Uni, berbagai persh.
|
| Tentu saja sebagai tuan rumah sering lebih banyak "berkorbannya" ketimbang
| cari untungnya... 8-)
|
| IMW

Nah..
Saya lihat usaha pembentukan lembaga sertifikasi ini mirip dan sudah selaras
dgn apa yg dilakukan IPKIN.  Waktu ide pembentukan ini dilontarkan di KADIN
Pak Hilman memang langsung merefer ke IPKIN dan pernah sekali saya
melontarkan hal ini juga ke Mas Wayan (IPKIN) (walau belum sempat bicara
banyak dgn beliau).

KPLI jkt dlm hal ini bisa dibilang sebagai motor dari pembentukan.  Saya
rasa tidak ada keinginan utk mendominasi (centralized control).  Tapi sbg
tuan rumah justru agak bleeding memfasilitasi.  Dan KPLI saya lihat mengajak
supaya yg bleeding jangan KPLI jkt sendiri saja.  Mengajak perush. jadi
penyandang dana, mengajak orang kompeten jadi penasehat supaya lembaga ini
tidak keluar jalur, mengajak Depnaker utk memberi masukan apa yg dibutuhkan
oleh SDM.  Semua itu "pihak luar".  Jadi saya rasa kurang tepat kalau
dibilang centralized control.

Saya rasa pengusaha tidak dapat keuntungan cepat dari sini.
Saya pribadi baru hanya ikutan memberi ide saja.  Ikutan patungan kasih dana
sih pasti (tergantung kemampuan).  Tapi utk supaya dapet duit
banyak....nggak deh...belum kebayang gimana caranya.:)) (atau memang bodo:))

Tanpa bermaksud menyinggung Bajau (pemilik license RHCE di Indonesia)...saya
lebih senang kalau di Indonesia lebih banyak pemegang sertifikasi yg vendor
independent daripada sertifikasi satu vendor.
Bisa saja sih pengusaha issue sertifikat masing2.  Tapi...get real...Linux
itu masih kecil di Indonesia.  Industri Indonesia masih sangat reluctant dgn
Linux.
IT manager industri mana yg kenal Linux Professional Institute?
Nah...apalagi e-Linux? Linuxindo? Nurul Fikri? dan Linux Training center
lain?  (sorry buat P. Martinus, P. Ase, P. Toosa, dan P. Rus perush.nya
disebut-sebut).
Perlu waktu kompetisi yg lama sekali diantara pebisnis TC ini supaya
"diakui" industri, tenaga kerja, pemerintah, dan pihak terlibat lainnya.

Ngomong ttg in/dependent:  Sertifikasi yg ingin dibuat saya rasa bukan
mendrive orang supaya pake produk spesifik.  Misalnya mengenai mail, yg
disertifikasi itu kemampuan orang dlm menghandle sistem mail mulai dari
konsep.  Kalau dalam prakteknya harus mengujikan sendmail atau qmail itu
bertujuan utk mengarah ke in-depth knowledge of MTA.

Itu saja dulu...oiii...
ntar dilanjut lagi.

thanks,
./tumpal


-- 
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3

Kirim email ke