Tumpal Augustinus H. wrote:
 >
 >
 > KPLI jkt dlm hal ini bisa dibilang sebagai motor dari pembentukan.
 > Saya rasa tidak ada keinginan utk mendominasi (centralized control).
 > Tapi sbg tuan rumah justru agak bleeding memfasilitasi.  Dan KPLI
 > saya lihat mengajak supaya yg bleeding jangan KPLI jkt sendiri saja.
 > Mengajak perush. jadi penyandang dana, mengajak orang kompeten jadi
 > penasehat supaya lembaga ini tidak keluar jalur, mengajak Depnaker
 > utk memberi masukan apa yg dibutuhkan oleh SDM.  Semua itu "pihak
 > luar".  Jadi saya rasa kurang tepat kalau dibilang centralized
 > control.
 >

Memang yang dipermasalahkan bukan centralized control oleh KPLI tetapi 
centralized control oleh YLI. Mohon dicermati hal 15, Anggota dan 
Pendiri. Atau saya yang salah paham?

 > Bisa saja sih pengusaha issue sertifikat masing2.  Tapi...get
 > real...Linux itu masih kecil di Indonesia.  Industri Indonesia masih
 > sangat reluctant dgn Linux. IT manager industri mana yg kenal Linux
 > Professional Institute? Nah...apalagi e-Linux? Linuxindo? Nurul
 > Fikri? dan Linux Training center lain?  (sorry buat P. Martinus, P.
 > Ase, P. Toosa, dan P. Rus perush.nya disebut-sebut). Perlu waktu
 > kompetisi yg lama sekali diantara pebisnis TC ini supaya "diakui"
 > industri, tenaga kerja, pemerintah, dan pihak terlibat lainnya.
 >

Ya memang yang namanya bisnis ya begitu, ada kompetisi, ada yang mati, 
ada yang sustain, wajar saja lah.

 > Ngomong ttg in/dependent:  Sertifikasi yg ingin dibuat saya rasa
 > bukan mendrive orang supaya pake produk spesifik.  Misalnya mengenai
 > mail, yg disertifikasi itu kemampuan orang dlm menghandle sistem
 > mail mulai dari konsep.  Kalau dalam prakteknya harus mengujikan
 > sendmail atau qmail itu bertujuan utk mengarah ke in-depth knowledge
 > of MTA.

Apakah sedemikian mudahnya berpindah software?

--
bpdp



-- 
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3

Kirim email ke