Prihantoosa wrote:
Waktu itu memang rada nekat (sambil menerawang
nostalgia :) ),
kami (was NCS) baik penerbit maupun Sofyan sebagai
penulis. Semangat nya yang palin kuat adalah ada
kepercayaan tersendiri bahwa kita tidak akan rugi
kalau berbagi ilmu secara tulus, dan ternyata
subhanallah.
Ada bukti walaupun ada internet, Buku tetap memiliki
ke-khas-an nya sendiri.
Sampai saat ini saya masih percaya bahwa buku Linux
tetap akan mendapat tempat dimasyarakat baca indonesia
demikian pula dimata pebisnis penerbitan.
Mau buktinya .... ?
Ayo kita buktikan sama-sama dengan membuat buku Linux
& segala sesuatu yang terkait dengannya. Kalau bagus
... insyaALLAH laku.
Untuk yang bilang "gak suka baca buku berbahasa
indonesia" .... hmmm sedih juga ya walaupun ini
kenyataan.
Saya pikir bukan krn bahasa-nya, tapi krn isinya.
Justru buku berbahasa indonesia segmen marketnya lebih besar
dibandingkan yg berbahasa asing.
Tapi memang peminat buku linux itu kecil, krn memang marketnya juga kecil.
Siapa yg suka* linux? jawabnya adalah 'geeks' saja (IT admin, hacker,
dan sebagian mahasiswa yg terpaksa (krn tugas kuliah, ta dll), admin
warnet dll)
Dari jumlah diatas masih dikurangi level mid-expert yg lebih suka cari
dokumentasi diinternet atau beli buku asing (baik bajakan ataupun ebooks :)
Jadi memang kecil bukan?
note: suka bukan berarti pemakai. seorang pemakai blm tentu suka
(contohnya user-2 di kantor saya :). dan kalau sudah tdk suka (baca tdk
peduli) jgn harap akan beli buku linux :)
--
--beast
sum.ldap.or.id/blog
--
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis