Maaf nih kang Cecep, kalau saya katakan 3-5 th lagi LKPP kita bakalan
discalimer terus, bukan berarti saya pesimis. Tapi ini adalah ungkapan
kegusaran saya melihat kerja temen2 kita di kantor pusat khususnya
subdit2 yg terkait dg penyusunan LKPP. Saya lihat sendiri bagaimana
mereka mengadakan Bimbingan SAI hanya seremoni yg berulang-ulang tanpa
ada perbaikan. Masa dari tahun ketahun yg disampaikan nggak ada
perubahan. Kurang inovasi bahkan cenderung apa adanya yang penting
menjalankan tugas. Sudah begitu kadang jumlah jam pelatihan dikurangi
tapi di lpj jml harinya lebih besar dari semestinya. Belum lagi acara2
konsinyering di hotel2 yang membutuhkan biaya banyak yang seharusnya
bisa memberi ouput yg baik justru malah jadi ajang untuk menghabiskan
anggaran. Bagaimana mau bagus hasilnya jika jadwal 5 hari cuma dipakai
2-3 hari. 
Inikah yg namanya serius? Masih banyak lagi yg mesti dibenahi dr
pembuatan LKPP ini. Yang penting kemauan dulu, nawaitunya dulu yg
dibenahi.

--- In [email protected], "acep_hadinata"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Assalamualaikum Wr.Wb.
> 
> Selamat pagi semua miliser di manapun anda berada..Dari Sabang sampe
> Merauke, dari negeri kincir angin sampe negeri kangguru yang ikutan
> milis ini.
> 
> Subhanalloh, si akang teh lamun keur serius 'tajam' pisan euy...salut!  
> Iya kang, kita butuh akselerasi dalam 'transfer of knowledge' ke
> stakeholder yang kita layani. Setelah pemetaan terhadap stakeholder
> yang bandel (yang APBD nya sampai bulan ini belum diserahkan ke Ibunda
> Menkeu)dilakukan, lanjut ke pemetaan penyerapan dana/realisasi
> APBN/APBD yang masih rendah sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi
> 'batuk-batuk' (mungkin trendnya linier dengan terlambat menyerahkan
> APBD), trus dipetakan juga daerah yang 'hobi' banget naruh duit APBD
> nya di SBI dan ORI dibandingkan buat bangun infrastruktur (ngikutin
> rata-rata bankir swasta/BUMN kita), trus lanjut ke memetakan Aset-aset
> negara (vertikal dan Pemda) yang perlu di revaluasi (nilai ulang)
> sehingga dapat mencerminkan keadaan sesungguhnya...
> 
> Memang ibarat benang kusut trus basah, ribet banget..tapi kita semua
> mesti optimis, sedih banget rasanya melihat adik-adik yang belum-belum
>  sudah pesimistis kalau 3-5 tahu lagi LKPP Pemerintah Pusat disclaimer
> lagi..Aduh, gimana dong kalo 'niat' optimistis pun sudah tidak ada di
> dada dan dikepala (eh, niat itu di dada yah..)
> 
> Akselerai 'transfer of knowledge' buat stakeholder bisa dimulai dari
> KPPN, misalnya dengan tidak 'membuatkan' SPM yang sudah menjadi
> nomenklatur pekerjaan satker..Satker harus diberdayakan agar mampu
> mengejar ketertinggalannya memahami pengelolaan keuangan negara dan
> daerah, kalo satker pintar dan pandai LKPP mereka bisa jadi
> representatif..KPPN dan Kanwil memiliki beban yang seimbang untuk
> mencerdaskan kehidupan stakeholder..Milis ini juga menginspirasi saya
> dan teman-teman di kantor untuk membuat website dan forum diskui
> seperti ini untuk stakeholder (mudah-mudahan bisa di launcing dalam
> waktu dekat) Trims untuk Suyalynx dan Nanky yang sudah mau repot-repot
>  memikirkan hal ini..Dengan tutorial online, diskusi online, telepon
> bebas pulsa atau bahkan SMS khusus kita harus bisa memanfaatkan semua
> celah untuk mencerdaskan kehidupan stakeholder..Kita semua mungkin
> beruntung pernah mendapatkan ilmu mengelola keuangan negara/daerah di
> jurangmangu dan balai diklat keuangan atau BPPK, bagaimana dengan
> stakeholder kita yang dari sabang sampai merauke...
> 
> Kalau anda pernah menyimak pernyataan pejabat kita bahwa akuntan
> beregister yang bekerja menjadi pegawai Pemda di seluruh indonesia
> saat ini tidak sampai puluhan, kebayangkan betapa jomplangnya dengan
> swasta...Akuntan kita saat ini sudah hampir 40 ribu jumlahnya, mereka
> lebih senang menjadi pegawai swasta tentu salahsatunya karena
> penghasilan yang layak...Renumerasi di swasta lebih baik dan
> profesional, di Pemda ??? Kalau ada akuntan yang masih mau
> berkecimpung di keuangan negara dan daerah sudah selayaknya diberi
> acungan jempol karena masih ada sedikit 'idealisme membangun
> negeri'...Nah tugas berat memang buat kita semua, tetapi saya yakin
> nggak ada yang sulit kalo dibarengi niat baik, kemampuan dan segumpal
> optimisme...  
> 
> Saya sudah sangat senang dan bahagia bahwa rumah kita di Depkeu ini
> diisi orang-orang yang pintar-pintar dan cerdas-cerdas, muda-muda dan
> penuh gairah (gairah yang 'lain' loh...)Generasi saya dan kang zamzam
> mungkin sudah tinggal mengarahkan yang baik-baik saja, enerji generasi
> kami tidak sebesar adik-adik yang masih muda ini...
> 
> Sewaktu saya dalam perjalan pulang meminta tandatangan dosen
> pembimbing tesis dan merenungi SK korpel saya ke KPPN Marisa yang
> belum lama saya terima, seorang teman baik yang bekerja di KAP 
> menelpon, dia tanya : "Jadi nggak bergabung, kita lagi butuh banyak
> yang beregister kang...oh ya, aku sudah masukin CV nya ke HRD
> department, entar telepon aku lagi yah kang..." Saya tidak segera
> menjawab, saya cuma bilang saya lagi di jalan...Dalam hati kecil saya
> ada suara berbisik "saya masih ingin memberikan yang terbaik untuk
> negeri ini...entah sampai kapan?" 
> 
> Mudah-mudahan ada hikmahnya...
> Tetap semangat dan sambut perubahan
> 
> Adin-Somewhere at Gorontalo
>   
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> --- In [email protected], "jm_hndsm" <jm_hndsm@>
> wrote:
> >
> > kalo udah ketemu akar masalah, pastinya ya dicarikan solusinya, kalo
> > bisa dipetakan mana departemen yang gak kualified LKP nya kan bisa
> > dibina atau dibinasakan, begitu juga dengan Pemda Tk I atau pemda Tk
> > II yang masih primitif LKP nya, ada tanggungjawab kanwil DJPB disitu,
> > salah besar kalo malah semua sdm daerah dikonsentrasikan untuk
> > pencairan (KPPN)....
> > kalo lima puluh akuntan diperlukan untuk setiap 1 triliun asset
> > kita berarti perlu 1.253 x 50 akuntan,.... semua mesti ada solusinya,
> > makanya sy nantangin orang orang yang pinter di djpb as intitusi yg tg
> > jawab untuk  fight this challenge... 
> > mereka digaji untuk itukan, untuk mikirin solusi masalah2 begini. yang
> > bikin susah kadang sistim yg kita buat sendiri, ember plastik aja
> > mesti di kasih nomer inventaris..
> >   kalo alasan bapak Hekinus ke biaya besar yang diperlukan, ya udah
> > segala nya macet  "if you stuck in money matters you stuck in
> > everything". 
> > balik lagi ke kemauan akhirnya...
> > 
> > zamzam gorontalo
> >
>


Kirim email ke