Pak RM,
menarik melihat data bapak... 

Planner (alumni sekolah Planologi/PWK) kan kira-kira sekitar 75%
kerja di instansi pemerintah, 15% mungkin konsultannya pemerintah,
sisanya 10% jadi lain-lain (pengusaha, di bank, di bisnis lainnya)....

pertanyaannya kenapa yg di instansi pemerintah itu bisa "kalah" dengan alumni 
non-PWK????
maaf kalau ada yang tersinggung dengan pertanyaan ini. saya sendiri ada di 
bagian "10%" & tidak bisa lagi masuk kategori planner. 


salam,
nita


 



________________________________
From: Risfan M <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, October 25, 2009 12:20:59
Subject: Re: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?

  
Rekan Nita dan temans ysh,
 
Bicara lantang? Komunikasi membumi?
 
Seperti apa ya? Terus terang kalau bicara Rencana, bayangan saya ada RTRW yang 
jadi Perda, dilaksanakan oleh pemerintah. Kalau ada masyarakat yang membangun 
IMB, ijin lokasi juga izin dari pemerintah. Jadi kalau ada yang melanggar juga 
urusan pemerintah, kenapa kok ada instansi yang kasih izin. Atau kenapa ada 
yang melanggar kok tidak ditindak?
 
Jadi kalau harus lantang? Apa tidak mereka rapatkan saja tiap hari Senin atau 
Rabu di Bappeda masing-masing? Apa orang "luar" boleh bicara?
 
Kalau mau ada yang jadi relawan. Biasanya relawan adalah "pembela kepentingan 
kaum lemah", karena itu idealisme, energi dan justifikasinya. Tapi umumnya RTRW 
justru dipakai Pemda untuk "menggusur" kaum lemah. Bagaimana relawan itu akan 
teriak. Kalau relawan teriak membela pemerintah melawan masyarakat, kayaknya 
kok aneh ya? 
 
Yang layak diteriakkan mungkin yang jelas-jelas menyangkut "pembangunan fisik" 
kawasan/area konservasi, seperti jalur hijau. Tapi ini sering tidak menyangkut 
kepentingan kaum lemah secara langsung, jadi energi untuk meneriakkannya kurang 
dukungan.
 
Bagaimana ya Mbak Nita. Rencana dibuat instansi pemerintah (Bappeda), 
dilaksanakan SKPD, diteken Walikota. Nanti kalau ada perubahan (pelanggaran) 
besar juga diteken Walikota. Kan secara hukum itu syah. Jadi dimana posisi 
relawan yang mau teriak? 
 
Planner (alumni sekolah Planologi/PWK) kan kira-kira sekitar 75% kerja di 
instansi pemerintah, 15% mungkin konsultannya pemerintah, sisanya 10% jadi 
lain-lain (pengusaha, di bank, di bisnis lainnya).
 
Yang bisa dilakukan ya bicara teori, standar, review rencana, merancang 
regulasi, yang semuanya adalah pekerjaan silent. Apanya yang mesti diteriakkan? 
He he he...(I know what you mean, however..... .)
 
Tapi itu dalam bidang "tata ruang" ya, sementara kiprah Planner sekarang kan 
banyak di bidang "development planning" (RPJMD, Renstra, dll), Pengembangan 
Ekonomi Lokal, Pemberdayaan Masyarakat, pengentasan kemiskinan, perbaikan 
lingkungan, pengembangan kapasitas institusi-institusi pembangunan. 
Kegiatan-kegiatan ini lebih praktis, berjalan, diterapkan, dan bisa dilihat 
output, outcome, dan sebagian mungkin impactnya. Dalam hal "development" ini, 
kayaknya kerja planner lebih "terlibat", karena bisa partisipasi dalam 
pelaksanaannya, sehingga ya "just do it", memang tak banyak yang perlu 
diteriakkan. Begitukah?
 
Salam,
Risfan Munir
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


--- On Sat, 10/24/09, arinynta <ariny...@yahoo. com> wrote:


>From: arinynta <ariny...@yahoo. com>
>Subject: Re: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
>To: refere...@yahoogrou ps.com
>Date: Saturday, October 24, 2009, 1:24 AM
>
>
>  
>saatnya planners bicara dengan lebih lantang, agar bisa terdengar. dengan cara 
>komunikasi yang lebih membumi, tidak terlalu akademis, apalagi teoritis.
>
>ditunggu.
>
>salam
>nita
>
>
>
>
>
________________________________
 From: Roos Akbar <[email protected]. net.id>
>To: Risfan M <risf...@yahoo. com>; Milis Referensi <refere...@yahoogrou ps.com>
>Sent: Saturday, October 24, 2009 12:36:38
>Subject: Re: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
>
>  
>Rekans,
>Jika ingin dengar ibu kepala Bappenas berbicara tentang perencanaan di 
>indonesia dalam kondisi krisis global, silakan berbondong hadir pada seminar 
>internasional (PLANO 50) pada tanggal 12 november 2009. Sekarang masih dalam 
>proses konfirmasi dan beliau sudah setuju. Tinggal disesuaikan dg jadwal 
>beliau. 
>
>Salam,
>Roos Akbar
>Send on Sat, Oct 24, 2009 at 12:36:06 
________________________________
 >
>From: Risfan M <risf...@yahoo. com> 
>Date: Fri, 23 Oct 2009 21:41:11 -0700 (PDT)
>To: <refere...@yahoogrou ps.com>
>Subject: Re: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
>
>  
>Pak Eko, Pak Eka dan eko..planners ysh,
> 
>Banyak lah planner yang akhirnya mendalami ekonomi di S3nya seperti Eko 
>Wuryanto, Ek..eh Heri Darwanto, Syafrudin Tumenggung dst. Syaf ini malah 
>sempat jadi Ka BPPN kan (entah apa hubungannya dengan planning?). 
>Ekonomi sendiri, kalau menurut saya sudah lebih dari ilmu, sudah menjadi 
>"aspek" sehingga siapapun bisa mempelajari dan terlibat, entah sebagai pelaku 
>atau ahli (embel-embel bidangnya). 
>Dalam dunia lintas ilmu jaman sekarang ini kayaknya yang bisa "menjembatani" 
>dua bidang kayaknya malah yang mendapat peluang lebih luas daripada "murni" 
>satu ilmu tertentu saja.
>Kalau pemenang Nobel ekonomi kan juga macam-macam, ada ahli sejarah ekonomi, 
>ekonomi kelembagaan (North), ekonomi spatial (Krugman), sekarang terkait 
>governance.
> 
>Salam,
>Risfan Munir
>www.samuraisejati. blogspot. com
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>
>
>--- On Fri, 10/23/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:
>
>
>>From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
>>Subject: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
>>To: refere...@yahoogrou ps.com
>>Date: Friday, October 23, 2009, 10:16 PM
>>
>>
>>  
>>Pak Dr. Eko, saya kira juga juri Nobel memilih Ostrom  karena sudah sampai 
>>pada penilaian fundamental. Mengingat nenek moyang kaum ekonom itu mulai dari 
>>Adam Smith dst adalah etnografer, seperti dapat dilihat dari buku-bukunya. 
>>Salam.
>>-ekadj
>>
>>--- In refere...@yahoogrou ps.com, Eko B K <ekobu...@...> wrote:
>>>
>>> Pak Aby, Pak Risfan,
>>> 
>>> Menurut saya Ka Bappenas selain mengerti masalah keruangan juga perlu 
>>> sangat mengerti masalah ekonomi, karena banyak implikasi dr pembangunan 
>>> wilayah yg juga terkait masalah ekonomi makro dan riil (bukan sekedar 
>>> economic geography, regional economics, etc.)...
>>> 
>>> Karenanya Ekonom yang belajar masalah ruang atau Planolog yg belajar ilmu 
>>> ekonomi memang cocok sebagai Ka Bappenas... Beberapa Ekonom Indonesia 
>>> belajar dan serius menggeluti masalah "keruangan" seperti Bu Armida (lihat 
>>> kiprah beliau di IRSA) atau Pak Nuzul Achjar, Iwan Jaya Azis, dll .... Tapi 
>>> siapa ya Planolog Indonesia yg serius belajar dan menggeluti Ilmu Ekonomi? 
>>> Saya belum pernah dengar.... Pemberian hadiah Nobel utk Ilmu Ekonomi tahun 
>>> ini ke Elinor Ostrom yg Political Scientist sebetulnya bisa menjadi 
>>> pertanda bahwa Ilmu Ekonomi tidak bisa
>> eksklusif milik Ekonom saja (sementara mereka bebas memasuki field yg 
>> lain)... Jadi mengapa tidak Planolog mulai mengambil Ilmu Ekonomi sebagai 
>> major mereka di graduate studies? Siapa tahu bisa menjadi Ka Bappenas di 
>> masa yg akan datang... 
>>> 
>>> Salam.
>>> 
>>> 
>>> 
>>> 
>>> 
>>> --- On Fri, 10/23/09, Risfan Munir risf...@... wrote:
>>> 
>>> From: Risfan Munir risf...@...
>>> Subject: RE: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
>>> To: refere...@yahoogrou ps.com
>>> Date: Friday, October 23, 2009, 10:12 AM
>>> 
>>> 
>>> 
>>> 
>>> 
>>> 
>>> Â 
>>> 
>>> 
>>> 
>>> 
>>> 
>>> Pak Aby dan rekans ysh,
>>> 
>>> Kalau kenapa? Ya mungkin Pak Beye sendiri yang tahu.
>>> 
>>> Kalau jadi wakil (profesional biasanya) kan sudah sejak lama selalu ada 
>>> Deputi dari Planologi.
>>> 
>>> Kalau ilmunya Bu AA, saya baca buku
>> dia ttg Kajian Daya Saing Daerah pasca Desentralisasi. Jadi pasti familiar 
>> lah dia soal relasi antar daerah.
>>> 
>>> Soal Planologi belajar ekonomi (pembangunan) . Yang saya alami selama S-1, 
>>> S-2 rasanya materi ekonomi (teori lokasi, geografi ekonomi, ekonomi 
>>> kota/daerah, analisis daerah/kota) total bisa 40 persen dari kuliah. Hanya 
>>> karena forum Referensi ini mayoritas jamaahnya DJPR maka kalau bicara 
>>> ekonomi disuruh pindah ke UI. Sementara bagi alumni yang di Bappenas, 
>>> Bappeda, kajian pembangunan yang 'sos-ek-link' adalah menu sehari-hari.
>>> 
>>> Terima kasih doa Pak Aby, mudah-mudahan nanti teman yang jd Kepala 
>>> Bappenas. Tentu harus ada yang main di politik juga, supaya ada yang 
>>> nendang bolanya.
>>> Setidaknya Menpera alumni PL, Deputi Bappenas, Deputi Menkokesra, Deputi 
>>> KaBKPM, Deputi Men Drh Tertinggal, Staf Ahli Mendagri, di PU dulu ada 
>>> Dirjen, dst. Di luar pemerintah ada Ka REI, Dir Perumnas, dll.
>>> 
>>> Salam,
>> 
>>> Risfan Munir
>>> www.samuraisejati. blogspot. com
>>> 
>>> 
>>> 
>>> From: hengky abiyoso watashi...@yahoo. com>
>>> Sent: Friday, October 23, 2009 8:51 AM
>>> To: refere...@yahoogrou ps.com
>>> Cc: pl...@yahoogroups. com
>>> Subject: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa?
>>> 
>>> Â  Milisters ysh,Pengumuman susunan kabinet srta pelantikannya usai 
>>> sudah….spt biasa muncul pro-kontra pendapat berbg kalangan….Satu  
>>> pertanyaan iseng adlh kenapa Kepala Bappenas hampir selalu berasal dari 
>>> studi ekonomi dan belum pernah dipilih dari latar belakang studi a.l. 
>>> teknik perencanaan? ........tak cukupkah studi ekonomi menduduki posisi 
>>> Menko Perekonomian, Menkeu dan Ketua BI?…….Selain pemilihan menteri 
>>> adlh hak prerogatif presiden….umumnya bbrp pertimbangan adlh a.l. krn 
>>> a/…kapabilitasnya (umum)…b/…krn kesetiaan dan ekstra
>> kepatuhannya (orba)…krn keterpaksaan harus bagi kursi pada koalisi (pasca 
>> reformasi)….dsb…….Namun sebaliknya.. keberhasilan seorang menteri/ 
>> pejabat tinggi  kadang tak sekedar ditentukan oleh latar blkng studinya yg 
>> tepat benar  dgn bidang yg ditangani……Fadel Muhammad misalnya, dgn 
>> latar belakang teknik industri, ilmu administrasi negara dan kewiraswastaan 
>> misalnya… terlihat sukses memimpin
>>> sebuah propinsi baru dan mengangkatnya melalui maize economy……dan boleh 
>>> jadi kinerjanya jg tak akan buruk bila ia kini hrs memimpin 
>>> DKP….….Kalau saja presiden terpilih (bukan maksa dipilih macem spt 
>>> orba) memiliki kekeluasaan yg cukup utk milih menteri terbaiknya…... 
>>> kembali kepertanyaan diatas….kenapa Kepala Badan Perencanaan Pembangunan 
>>> Nasional blm pernah dipilih dari latar belakang studi teknik perencanaan 
>>> ruang?...... . Salah satu dugaan ngawur saya adalah krn
>> rata2 presiden terpilih bukanlah dari studi perencanaan (yg sudah adlh : 
>> dari studi arsitektur, dari tentara lokal bentukan knil/ nippon, dari 
>> teknik/elektronika penerbangan, pesantren, pecandu film the beauty and the 
>> beast, lalu dari akademi militer nas/internas dan studi pertanian)…… krn 
>> itu para presiden terpilih kita boleh jadi tak sbrp mengerti apa konsentrasi 
>> studi teknik perencanaan itu…..…Itu alasan yg saya susun agar rada enak 
>> didengar oleh masyarakat
>>> perencanaan…….tapi kalau jaga2 brkali ada juga alasan yg bisa rada 
>>> kurang enak didengar oleh masy. Teknik Perencanaan…. Alasan itu saya duga 
>>> ya maap….krn ‘salah’ masyarakat perencanaan sendiri… kenapa tak 
>>> berhasil meyakinkan kepada masyarakat luas (trmsk para capres, krn juga 
>>> umumnya berasal dari kalangan luas juga, mantan jendral, tokoh pesantren, 
>>> bnintang film dsb)…….bhw studi (teknik) perencanaan
>>  adalah studi yg tepat utk memimpin Bappenas (makanya  jgn hanya berpikir 
>> fisik terus saja)……..Masyarakat (trmsk para capres dan pres terpilih) 
>> spt memandang bhw perencanaan (kembali)  pembangunan bagi  negeri miskin 
>> dan porak poranda spt Indonesia (akibat penjajahan…  jg akibat perusakan 
>> moral korupsi dan represif oleh orba) yg cocok adalah dimulai dgn 
>> pembangunan fundamental ekonomi yg kokoh….. Itu benar….tetapi mereka spt 
>> lupa jg bhw fundamental keruangan dan demografik  kita juga amatlah sangat 
>> timpang sejak dari
>>> dulu……dan itu jg adalah keadaan yg tak kalah gawat dibanding dgn 
>>> porakporanda ekonomi dan moral……Para Kepala Bappenas ybs. (dari studi 
>>> ekonomi dan studi ekonomi pembangunan) mengerti bhw masalah Jawa-luar Jawa 
>>> dan KBI-KTI adalah masalah klasik ketimpangan  keruangan kita…..namun 
>>> krn mereka  umumnya bukan dari studi
>> ‘teknik’ keruangan….. maka mereka akan selalu menomor-duakan  atau 
>> menomor-tigakan pemberesan masalah ketimpangan keruangan dan demografik 
>> klasik kita itu (studi teknik perencanaan lbh mendingan krn masih belajar 
>> ttg makro-mikro ekonomi dan studio pembangunan……tapi studi ekonomi dan 
>> studi pembangunan samasekali tidak belajar ttg teknik perencanaan 
>> ruang)……mereka tak mengerti apa manfaat teknik keruangan bagi peredaan 
>> ketimpangan keruangan Jawa-luar Jawa dan KB-KTI  itu……Selain bagi 
>> mereka ekonomi adalah selalu nomor satu…..mereka jg tak pernah cukup 
>> mengerti skenario bgmn memulai meredakan ketimpangan itu dgn
>>> cara masuk akal dan dgn biaya yg terjangkau………krn mereka lbh terbiasa 
>>> pd analisa masalah  dgn logika2 non-eksak lebih daripada logika2 
>>> eksak…….justru krn mereka bukan dari studi eksakta teknik……. Mereka 
>>> rata2 mengerti
>> skenario umum bgmn mengembangkan luar Jawa atau  memajukan KTI….tetapi 
>> dgn logika non-teknik  (yg dikira sdh memadai) spt dgn (apalagi kalau 
>> bukan) “investasi2 yg besar� serta “dgn pembangunan infrastruktur� 
>> (semua juga tau kalau  investasinya luar biasa besar pasti hasilnya akan 
>> jelas…tapi semua juga tau itu sesuatu yg tak mungkin…krn  APBN tak 
>> pernah akan longgar dan swasta siapa yg mau menjadi pemula membangun dan mau 
>> berinvestasi secara besar2an di timur sendirian?)……walhasil skenario2 
>> demikian selalu kandas…..justru krn  skenario yg dibayangkan adalah 
>> selalu skenario2  finansial (non-keruangan) dgn investasi besar……dan 
>> tak pernah dicari “skenario keruangan� yg relatif mudah dan murah
>>> …justru krn yg kecil dan murah dipercaya tak bakalan manjur……..Jangan 
>>> lupa  bhw dalam diseminasi ekonomi
>> … tak hanya terdapat persemaian perekonomian saja… namun juga terdapat 
>> persemaian  pertumbuhan kegiatan  keruangan…..terdapat pula persemaian 
>> pergerakan demografik (migrasi)……persemaian kehidupan sosial….aspek 
>> hankam (kalau diperbatasan) dsb……..Suatu saat dulu pernah  di Bappenas 
>> ada Kepala dan Wakil kepala Bappenas……yg belakangan kemudian 
>> dihapus…... Kini tantangan terpulang kembali kemasyarakat 
>> perencanaan…….kalau percaya bhw teknik perencanaan bukanlah hanya 
>> sekedar fisik semata (lalu asal ingin belajar ekonomi disuruh ke UI dan 
>> belajar sosial ke Gama)…namun juga ekonomi, sosial budaya hankam 
>> dsb……maka para pemuka studi perencanaan ruang kita seharusnya dapat 
>> menduduki setidaknya  harga mati  jabatan Wakil kepala Bappenas….jadi 
>> dgn demikian  visi ekonomi dan visi keruangan bisa menyatu dan saling
>>>
>> menguatkan…… Tentulah  syaratnya adalah berhentilah dgn hanya visi 
>> monodisipliner perencanaan ruang adalah  fisik semata……namun tambahlah 
>> jg dgn visi lintas dimensional sosial, ekonomi, budaya, hankam, 
>> penanggulangan kemiskinan, penciptaan kesempatan kerja, kewiraswastaan, 
>> manufaktur dsb….Jangan2 Fadel nanti tahu2 cocok juga jadi the next 
>> KaBappenas… sama seperti Purnomo yg dari studi pertambangan juga kini 
>> Menhan….. Salam,    
>>>
>> 
>
>________________________________
 Get your new Email address! 
>Grab the Email name you've always wanted before someone else does!  

   


      Get your new Email address!
Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke