Biasanya naskah-2 seperti ini disebut 'Journal'.. Kalau yurisprudensi memang terminologi Hukum.
Masing2 "kasus" bisa jadi satu artikel Journal... lalu from time-to-time ada yg terpanggil bikin meta-analysis.. Kalau ditanya "siapa yg mengasuh Journal?".. ya akademisi.. sistem insentif nya juga sudah tersedia untuk itu. Salam, -K- 2010/4/23 Djarot Purbadi <[email protected]> > > > Dear Sahabats, > > Eyang Guru ABY yang baik, pertanyaan siapa yang akan mengerjakan, bisa > dijawab dengan pikiran sederhana atau rumit. Jika setiap warga milia > referensi ini menulis satu kasus saja, mungkin yang diminati atau dekat > dengan rumahnya, saya kira dalam waktu yang tidak terlalu lama kita sudah > punya "ensiklopedi kasus-kasus keruangan" yang akan menjadi bahan pelajaran > yang mencerdaskan kita semua. Ilmunya bisa maju, prakteknya bisa lebih > mantap karena ensiklopedia itu ada dan terus berkembang. Tentang > Parangtritis, misalnya, atau sepak terjang "Wagiman" (Walikota Gila Taman = > Hery Zudianto), misalnya, saya berusaha menuliskan atau yang lain yang > menarik dan di dalamnya ada bahan pelajarannya....bisa saja kasus itu > dikerjakan setahun karena rumitnya penyelidikan atau dikerjakan di sela-sela > waktu sibuk, tetapi jika kita sepakat dan memulai, niscaya tahun depan milis > referensi akan menjadi milis yang plus plus plus....begitu Kanjeng Eyang !!! > > Kalau mau gampang lagi, kita bikin weblog kemudian kita kumpulkan > "serpihan-serpihan" berita tentang suatu kasus, lantas kapan-kapan kita > tuliskan dengan lebih sistematis ditambahi dengan informasi yang kita gali > sendiri, dikemas dengan penalaran kita sendiri, atau menggunakan model kita > sendiri entah etnografi atau fenomenografi. Saya sendiri secara "tidak > sengaja" memulai dengan cara itu, dengan weblog yang mengumpulkan informasi > arsitektur yang tersingkir, tergusur dan terlantar, juga tergeser !!! > > Salam, > > Djarot Purbadi > > http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] > http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF] > http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com > > --- On *Fri, 4/23/10, hengky abiyoso <[email protected]>* wrote: > > > From: hengky abiyoso <[email protected]> > > Subject: [referensi] Re: Yurisprudensi?/ Kumpulan Kasus Dalam Penataan > Ruang? > To: "referensi" <[email protected]> > Date: Friday, April 23, 2010, 8:57 AM > > > > > Milisters ysh, > > Sebagai ‘outsider’ keuntungan dari Dr. Djarot (maupun keuntungan kita) > adalah bhw beliau bisa selalu berpikir bebas, kreatip, obyektip, kritis (dan > tanpa beban) ttg apa2 saja yg beliau pikir akan baik bagi kemajuan sains > perencanaan, planologi atau teknik penataan ruang kita………termasuk ketika > usai muncul kasus mbah Priok kemarin ….. beliau melontarkan ide ttg bgmn > kalau kita mengkompilasikan ttg semacam ‘yurisprudensi’ / kumpulan kasus2 > keputusan atas kasus2 keruangan …….. > > Ya tentu saja itu ide yg baik sekali ……semacam ‘yurisprudensi’ atau > kompilasi karya2 planologik/ karya enjinering penataan ruang negeri kita > ……namun berbeda dgn ‘yurisprudensi‘ hukum dimana produk hukum berupa > keputusan2 hukum/ vonis merupakan solusi akhir atas pihak2 yang > berperkara/ bertentangan (baik keruangan atau bukan) ……. Sementara itu > produk2 keputusan/ langkah keruangan tak selalu harus berupa solusi > diatas dua pihak yg beperkara dgn nuansa pertentangan ……namun banyak juga > porsi new spatial development (spt utk kawasn tertinggal yg 90% wilayah > RI kita) yg perlu dikembangkan dgn tanpa terdapat nuansa pertentangan > kepentingan yg tajam antara pihak2 yg berseberangan………. > > Yg jelas adlh bhw produk karya2 enjinering keruangan itu mau tak mau secara > garis besar l.k karakternya adlh disatu sisi berupa produk enjinering > keruangan untuk kawasan maju yg isinya akan lbh banyak bersifat regulasi > plus pengendalian ….sementara itu disisi lain produk enjinering keruangan > dikawasan tertinggal/ 90% kawasan RI akan perlu lbh bersifat enhancing > …..dan sifatnya perlu lbh berbentuk proactive spatial organizer / habitat > organizer lbh daripada normative and pasive spatial regulator ……. Itu krn > bila dikawasn maju spatial planning tak perlu lagi memikirkan bgmn > membentuk aglomerasi ruang atau redistribusi populasi/ aktivities > ……….sementara itu sebaliknya dikawasn tertinggal (kalau maudapet hasil nyata > dan menimbulkan respek) enjinering ruang harus mengorganisasikan mobilisasi/ > migrasi SDM perkotaan unggulan dari kawasan maju utk membentuk > ruang2/perekonomian perkotaan plus investasi2 perkotaan dan manufaktur…….. > > Kembali ke rencana kompilasi ‘yurisprudensi’ keputusan keruangan/ kumpulan > kasus2 (enjinering) keruangan ……kalau boleh diibaratkan dikawasan maju dn > kawasan tertinggal masing2 terdapat 100 macam kemungkinan langkah2 > enjinering keruangan ……dan kalau diibaratkan dikawasan maju telah dpt > dikompilasikan 50% atau katakankah 75% atau berapa % model situasi gitu > …….sementara itu dari kawasan tertinggal yg adlh 90 % ruangnegeri kita > .......anda brkali jangan2 baru dpt mengkompilasikan 5 atau 10 studi kasus > (pembangunan Batam, Timika/ Tembagapura, Lombok dsb…..) …dan tentu bukan > pemikiran yg tak waras kalau planologi juga perlu memikirkan bgmn > menjalankan enjinering keruangan utk mengembangkan kota2 diperbatasan yg > dinamis dan menjadi beranda depan beneran spt di Entikong, Sebatik, > Kupang, Natuna, Sangir/ Talaud, Halmahera, Merauke, Pacitan dsb………. > > Masalahnya adlh siapa akan berminat/ bersemangat mengkompilasikan karya2 > dgn jumlah/ porsentase angka yg jauh dibawah angka pantas (atau > pertanyaannya jadi mengkompilasi dulu barang yg amat minimum dan tak > pernah dibuat atau membuat sebanyak2 karya nyata dulu)………setidaknya utk > kawasan tertinggal (semula Batam, lalu Timika, Bontang, Soroako. Lombok sbg > spillover Bali … dsb) selalu modelnya adlh sdh ada leading/ propulsive > activities yg mendahului (spt SIngapura utk Batam, aktivitas tambang utk > kota2 sisanya, juga pariwisata Bali yg mendunia dan Lombok hanya amat dekat > diseberangnya) …….dan kita blm pernah (dan sdh gitu dableg gak pernah mau) > mengembangkan (setidaknya wacana dulu) karya2 enjiinering keruangan berupa > pengembangan kota, habitat dan pusat kesempatan kerja sekaligus produk > wisata yg jauh dari kawan maju …dimana segalanya harus diciptakan dulu : > aktivitas memimpin …migrasi SDM….skenario aglomerasi …skenario menyemai > industri manufaktur memimpin …..redesain size kota dll …….salam, > > aby > > > > > > > > > > > > > > > >

