Dear Pak Robert, Keberadaan saya di milis ini dan respon yang saya tulis hanya untuk mengemukakan pendapat dan pengetahuan saya pribadi tanpa maksud untuk mewakili pengusaha walet di Singkawang. Jadi tolong jangan kaitkan dengan keluarga ataupun personal yang lain. Mungkin memang pendapat saya ini salah dan itu menjadi sebuah 'makalah' dan mungkin menjadi bahan buat pembelajaran saya.
Bagaimana sebuah ijin itu diterbitkan sedangkan tidak ada peraturan/hukum yang mengaturnya? Yang ada hanyalah IMB. Apakah pada saat meminta IMB perlu dicantumkan IMB dengan catatan membangun rumah walet. 'Merenovasi' rumah dan mencari 'peruntungan' dari walet mungkin bisa saya katakan disini mengingat tidak adanya jaminan 100% kalau rumah yang kita dirikan atau rehab bisa menghasilkan. Kalau misalnya tidak bisa masuk walet nya yah sudah ... mungkin bukan merupakan keberuntungan kita. Hanya itu mungkin yang dipikirkan. Sedangkan walet yang ada di Singkawang itu awal nya itu datang/berkembang secara alami tanpa ada maksud 'merumahkan' seperti skg ini. Apakah proses alami seperti itu juga melanggar sebuah hukum? Saya pikir walet tidak pernah 'sekolah' kalau keberadaan nya di tengah kota dan bisa merugikan atau menimbulkan kecemasan akan wabah penyakit yang ditakuti. "Tidak seorangpun berani menjamin bahwa burung walet aman dari berbagai penyakit dimasa akan datang" (Roberylay) Apakah ada yang bisa mengganti kerugian jika di masa yang datang ternyata walet tidak menimbukan penyakit, sedangkan rumah walet sudah dimusnahkan. Dari artikel2 yang dikumpul oleh Hendy dapat dilihat kalau walet tidak membawa flu burung. Berbicara dimasa yang akan datang saya juga optimis kalau kemajuan teknologi dan medis juga pasti bisa mengatasi flu burung ini ataupun penyakit yang lain. Bila kita terus dirundung ketakutan ini itu yang tidak pasti bagaiman kita bisa bekerja maksimal? Potensi yang sudah jelas di depan mata harus di 'grabbed' dulu daripada kita kehilangan kemudian. Kesempatan tidak duduk manis menunggu kita meraihnya tapi mesti berbuat sesuatu untuk memanfaatkannya. Kondisi terburuk bila memang merugikan yah pasti ada solusinya. Tidak ada kata terlambat buat mencari sebuah solusi karena sumber masalah selalu datang dulu sebelum diperlukan sebuah solusi. Seandainya penangkaran dibuat jauh dari pemukiman penduduk. Sejauh apa dr pemukiman penduduk? Walet bisa 'dirumahkan' dalam radius 5 km dari sentral walet dan sentral walet di Singkawang berada di tengah kota yg awalnya dr alami tanpa sengaja dipancing/dirumahkan. Berarti harusnya tidak jauh dari 5 km. Bila terjadi pemekaran kota dikemudian hari sampai radius lebih dari 5 km, bagaimana nasib rumah walet yang dulu nya sudah didirikan sesuai dengan hukum/peraturan yang ada? Apakah ini akan terus berlanjut tanpa akhir? gusur menggusur dalam selang beberapa tahun. Mungkin saat itu sarang walet sudah merupakan sarapan pagi buat anak cucu cicit kita :) dan tidak menjadi potensi bagi kita. Masalah walet ini tidak ada habisnya dari dulu. Mungkin perlu lebih men-sosialisasikan potensi yg dihasilkan walet daripada ketidakpastian yg dikatakan dapat merugikan. Di Singkawang, usaha walet ini masih tergolong usia muda dibandingkan dengan daerah lain (Lampung, Medan, Jawa, dll). Bila mereka bisa tetap bisa jalan kenapa kita tidak? Mungkin kita perlu seorang Superman atau Superhero buat memecahi masalah ini yang visinya menyelamatkan manusia daripada memikirkan perbaikan kehidupan ekonomi disaat ekonomi kita yg makin terpuruk. Adakah ada Superhero disaat kehidupan materialistic dan individual ini? Mohon maaf bila pendapat saya ini salah dan saya siap menerima masukan dan koreksi2 yang ada. Regards, Jimmy --- In [email protected], Robert Lay <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear Jimmy, > Menurut sumber infomasi dari intelligence di lapangan(kota singkawang)yang saya terima,keluarga anda adalah pengusaha rumah burung walet,kalau tidak salah rumah burung waletnya terletak dekat dengan rumah sakit.Baguslah kalau begitu, membuat saya lebih mudah memberi jawaban atas post anda dan banyak juga pertanyaan yang perlu saya tanyakan kepada anda sebagai pihak pengusaha burung walet. > Coba anda cek ijin usaha burung walet anda itu yg keluarkan oleh pihak berwenang(walikota),bentuk izin permit atau izin sementara? Masa berlakunya sampai berapa lama? > Dari sini anda akan tahu posisi kedudukan hukum.Ingat itu izin! Bisa pihak pemerintah tidak memperpanjang izin itu jika masa lakunya habis.Tidak diperpanjang izin dengan berbagai pertimbangan:misal > - situasi dan kondisi berubah,merusak lingkungan ,menyebarkan penyakit.- > faktor perubahan kebijaksanaan > -penggantian pemerintah(walikota),karena pejabat baru punya kebijaksanaan baru. > Itu nasib "izin".Bukan bentuk dalam satu peraturan(hukum) yang jelas permainan,anda bisa mengadakan lease dengan pemerintah dengan jaminan jangka waktu tertentu,Dengan demikian usaha anda mendapat perlindungan hukum yang jelas.Kalau anda menginvestkan sesuatu usaha belum jelas hukumnya resiko yang harus anda hadapi:yaitu: > -bisa anda dijadikan obyek pemerasan oleh oknum-oknum memanfaatkan situasi yang anda hadapi.Karena anda was-was kalau ada perubahan dapat menyebabkan usaha anda tidak berfungsi. > -dari segi hukum usaha anda tidak mendapat perlindungan hukum(anda tidak bisa menuntut kepada pihak yang memberi izin,"Izin" Itu selalu punya masa laku sangat terbatas(pada umumnya < 3 tahun).Kecuali anda ada perjanjian sewa(lease),anda berhak menuntut kerugian yang sesuai didalam perjanjian kontrak.Sebagai pengusaha bijaksana,anda harus tahu resiko yang akan anda hadapi jika menginvestkan kedalam usaha yang belum jelas kedudukan hukumnya. > > Saya rasa,di forum banyak member ingin tahu bagaimana bentuk pertanggunganjawaban akan diberikan oleh pemilik rumah burung walet, kalau terjadi malapetaka pada suatu hari burung walet ini membawa penyakit epidemis mengancam jiwa manusia.Sewarga kota Singkawang anda juga mempunya kewajiban moral menjaga keselamatan jiwa penduduk kota ini.Tidak seorangpun berani menjamin bahwa burung walet aman dari berbagai penyakit dimasa akan datang.Menurut info dari badan WHO negara Indonesi rawan terhadap penyakit flu burung.Seandainya itu terjadi di kota Singkawang ternyata penularan oleh burung walet,Tindakkan dan prosedur pengamanan apa yang akan diambil oleh pihak pengusaha burung walet untuk menyelamatkan korban penduduk disekitar rumah burung walet itu ? > Biaya pengaobatan siapa yang tanggung ?Kemungkin besar seluruh kota Singkawang akan dibekukan(tutup),bagaiman cara mengungsikan penduduk kekota lain? Siapa yang menanggung semua biaya ekonomi dan sosial? > Ingat ini adalah malapetaka baru, belum pernah dihadapi penduduk kota singkawang.Kekacauan pasti akan terjadi. > Setidak-tidak APW(Asosiasi Pengusaha Walet) harus mempunyai masterplanning untuk menghadapi malapetaka ini kalau itu terjadi,sebagai peace of mind.Tanpa ada perosedur(management) yang jelas dan jaminan(kerugian ekonomi) untuk mengatasi dan menangani malapetaka terjadi.Penduduk kota singkawang ini masih belum mendapat ketenangan dari masalah burung walet. > > Seandainya rumah burung walet terletak pada suatu lokasi jauh dari tempat pemukiman penduduk.Kalau terjadi malapetaka jauh lebih mudah diatas. > > salam, > Robert Lay-sydney > > > > > > > j4mon <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Dear Robert, > > Kalau nanti nya peraturan(hukum) yg mengatur rumah walet ini memang > totally 'menghilangkan' rumah walet di tengah kota, bukankah itu > sesuatu yg 'tidak adil' juga? Misalnya pada saat saya membangun > rumah walet ini tidak aturan ataupun hukum yg mengatur ttg > pembangunan rumah walet. Berarti saya tidak melanggar hukum pada > saat sebelum hukum itu exist dan saya mempunyai hak untuk membangun. > Berarti adanya hukum baru itu telah merugikan pihak2 tertentu yg > exist lebih dahulu daripada hukum itu. Apakah bisa hukum/peraturan > dibuat tetapi berpotensial merugikan pihak2 tertentu? Mengingat > tidak sedikit lagi pengusaha walet di Singkawang, saya kira ini juga > tidak bisa dibilang 'mengorbankan' pihak minoritas(pengusaha walet) > untuk kepentingan orang yang lebih banyak. Tambahan, isu walet > pembawa penyakit itu belum ada kasusnya satu pun di DUNIA. Pernah > saya baca di kompas, walet sendiri memproduksi antibodi untuk > melawan flu burung. > Pencegahan memang lebih baik daripada mengobati. Adanya wabah flu > burung di Indonesia yang masih tidak bisa ditangani pemerintah akan > terus menjadi masalah bagi kita. Dikait-kaitkan dgn walet yang > mungkin menjadi carrier penyakit tsb. Lagi, menurut pengetahuan saya > korban flu burung itu hanya menyerang penduduk yang tinggal di > wilayah pedesaan. Bagaimana unggas di desa tersebut bisa sampai > dijangkitin dan darimana sumber nya? Apakah sudah ada research yang > benar2 bisa kita yakinin cara penularan dll nya tersebut? Bila > unggas yang terserang penyakit itu mati dan kemudian desa yg dinggap > terinfeksi flu burung tsb dimusnahkan unggas nya tapi herannya > kenapa waktu pemusnahan itu warga masih mengelilingi dan > menyaksikannya tanpa memakai masker dll. Bukankah itu suatu resiko > tinggi akan menular nya flu burung? Saya kira pemerintah kita masih > menutup2i keterbatasan atas kemampuan nya dalam mengerti 'flu > burung'sehingga sulit mengatasinya. > > Singkawang sendiri sudah terbentuk APW(Asosiasi Pengusaha Walet) > yang disini berusaha untuk melindungi hak-hak pengusaha dan > kepentingan umum. Pro dan kontra pasti akan terjadi mengingat tidak > sedikit lg penduduk yang berlomba2 untuk membuat rumah walet tsb. > Menurut saya, andaikan semua orang di singkawang 'mampu'mengubah > hunian nya menjadi rumah walet mereka pasti akan ikut juga membangun > rumah walet. Hanya masalah kurangnya biaya yang membuat mereka > tidak 'ikut' usaha ini. Andai saja, saya penduduk singkawang yang > melihat prospek usaha walet ini. Tidak mungkin berdiam diri kalau > memang saya punya sedikit duit untuk membangun rumah walet. Yang > kemudian hari mengharapkan penghasilan yang jauh lebih bagus > ketimbang ekonomi saya saat ini. Hal ini mengingat tidak mudah untuk > memulai usaha lain di Singkawang dan juga resiko yang lebih kecil > daripada kita berbisnis/dagang. Anggap aja mungkin investasi > properti kalau misalnya walet nya tidak masuk. > > Selain sisi negatif keberadaan walet yg 'mungkin' membawa wabah > penyakit. Walet di Singkawang jg berdampak positif bagi penduduk yg > dulunya mempunyai tanah. Melambungnya harga tanah2 menguntungkan > para pemilik tanah tsb. Ini mungkin bisa menyambung nadi kehidupan > para pemilik tanah yang kala ini tidak mempunyai pekerjaan. > Setidaknya mempunyai 'peluang' untuk memperbaiki hidupnya. Tambahan, > hasil walet menjadi salah satu sumber pendapatan bagi penduduk > Singkawang di kemudian hari. > > Mungkin exist nya pemain lama menjadi benefit 'extra' yang dimana > diskriminasi mesti diabaikan(sosialisasikan). Mereka melihat peluang > terlebih dahulu. Hanya yang melihat peluang dulu yang > menjadi 'lebih'. Adanya peluang dan waktu yang tepat itulah menjadi > sesuatu yang 'membedakan' kita dari yang lain. Menjadikan kita 'core > competitive' dengan yang lain. > > Regards, > Jimmy Jamon > > --- In [email protected], Robert Lay <robertlaymas@> > wrote: > > > > Dear Jimmy, > > Tanpa ada peraturan(hukum) yang jelas mengatur rumah burung > walet,ini akan menjadi masalah kalau hanya melarang (tidak diizinkan) > penambahan rumah walet di tengah-tengah kota.Seandainya besok Jimmy > mau membangun rumah walet baru tetapi izin anda ditolak dengan > alasan anda adalah pendatang baru dalam bisnis usaha ini.Bagaimana > reaksi anda ? Tentu saja anda merasa diperlakukan "tidak adil", Anda > juga merasa didiskriminasi(sebagai pendatang baru dalam bisnis ini) > dan seakan-akan bisnis ini "hanya dimonopoli oleh pemain lama > saja".Anda sebagai warga yang baik,anda berkewajiban memperjuangkan > hak-hak anda itu.Karena itu akan merugikan pendapatan anda. > > > > salam, > > Robert Lay-sydney > > > > > > j4mon <j4mon@> wrote: Dear > komunitas, > > > > Saya kira masalah walet ini tidak akan ada akhir nya. Saya > > sependapat dengan Hendy dalam hal ini. Yang mungkin dapat kita > > lakukan mungkin hanya mencegah bertambahnya rumah walet di > tengah2 > > kota. > > Bagaimana mungkin pemerintah bisa menghilangkan rumah walet yang > ada > > di dalam kota yang mungkin sudah mencapai 300 rumah. Seandainya > > seperti rancangan Perda Walet(Pontianak) kalau jadi > direalisasikan, > > pengusaha walet diberi waktu dua tahun buat memindahkan rumah > walet > > nya ke pinggiran kota apakah itu juga efektif? Mengingat tidak > > gampang untuk 'merumahkan' walet dan memerlukan waktu yang lama, > > pengusaha tsb tidak akan mungkin mau start dr awal lagi dan > > mengorbankan penghasilan nya yang super itu. Saya sependapat > dengan > > Hendy dalam hal ini. Yang mungkin dapat kita lakukan mungkin > hanya > > mencegah bertambahnya rumah walet di tengah2 kota. > > > > Regards, > > Jimmy Jamon > > > > > Dear Pak Li, > > > Seandainya pak Li menjadi "calon walikota Pilkada 2006" > > (seharusnya 2007!) seharus masalah rumah burung walet harus > > diselesaikan,sebagai test case kemampuan..Karena sebagai warga > > Amerika dengan "American style"kampanye elalu > > mengutamakan "community safety and environment issue".Anda akan > > menyadari kepada masyarakat betapa pentingnya > issue "environment"itu. > > > Bahkan akan turun kelapangan(reseach) melihat keluhan dari > > masyarakat kena masalah ini,kemudian menyusun bahan kampanye yang > > mengandung gagasan baru untuk memecahkan masalah ini.Sebagai > > politician anda harus punya solution baru,konsep baru yang > > diharapkan oleh pendukung anda.Anda tidak akan berkomplomi dengan > > siapa saja,true only true, > > > Seandainya saya sebagai pemilih,saya tidak akan memilih anda > kalau > > anda tidak mempunya konsep baru pemecahan > > masalah "fundamental"(burung walet,air,listrik) yang dihadapi > kota > > Singkawang sekarang dan masa akan datang.Milih anda berarti sama > > saja memilih pemimpin yang ada,yang tidak membawa perubahan dan > > kemajuan. > > > Maaf,ini hanya "seandainya" > > > > > > salam, > > > Robert Lay-sydney > > > > > > > > > Clement lee <licansee@> wrote: > > > Pak Alang Thjai > > > > > > Inikan cuma saling tukar pikiran (brain storm) masalah rumah > > walet. Jadi tidak perlu kuatir pernyataan Pak Alang itu akan > > menyinggung pihak2 tertentu. > > > Kalau kita2 yg berpendidikan uni. (college grad) juga takut2 > > memberikan opini, tidak akan maju2 lah masyarakat kita. > > > Kalau pada akhirnya kita tetap mempunyai opini yg bertolak > > belakang - kita masih bisa "agree to disagree" and "move on". > Kalau > > kita semua sudah bisa menerima "agree to disagree", itu sudah > > merupakan suatu tanda kedewasaan hidup berdemokrasi. > > > > > > Kalau saya ini calon walikota Pilkada 2006, saya akan "stay > > away" dari masalah rumah walet belum saatnya. Kita tetap > memerlukan > > dukungan mereka. Mereka kan yg punya dana. Yg dapat "make > something > > happen". Segala program kerja perlu dana. Jadi kita tidak > mau "make > > enemy" dgn golongan2 yg memiliki dana. > > > Rakyat kecil (yg jumlahnya lebih besar) kan tidak peduli dgn > > masalah rumah walet atau masalh PETI yg "pollute" sumber air > minum > > Skw dgn limpah merkurinya. Utk calon yg mau "play to win", dia > itu > > harus (choose your fight). Banyir, listrik dan air minum yg > > akan "touch their daily life" mereka dan termasuk kehidupan org > di > > semua golongan ekonomi. > > > > > > Coba tanya ke mereka: "Kalau mereka itu diberi Rp. 50,000 per > > orang, apakah mereka itu akan memilih calon yg memberikan uang > atau > > calon yg akan melarang rumah walet". Politik itu kotor, di- mana2, > > termasuk di Amerika. > > > Fact of life - "money politic" di-mana2. > > > > > > Pemda (Pemkot ?) kan sedang menyusun peraturan rumah walet > sejak > > beberapa tahun yg lalu dan sampai sekarang belum juga ada > hasilnya, > > dan kita tidak lagi membaca masalah rumah walet di Pontianak Post > > lagi. Tahu sendiri alasannya kan. > > > > > > Perlu waktu. > > > > > > Salam > > > > > > Li > > > > > > uray ali sjahran <uray_alisjahran@> wrote: > > > Saya sependapat dengan Pak Robert, > > > > > > Apapun intinnya, kepentingan umum bagaimanapun juga hrs di > > utamakan. Apalagi menyangkut lingkungan hidup dan kesehatan > > masyarakat setempat. > > > > > > Namun sayang sekali apakah pemerintah setempat tdk > memikirkan > > effek sampingan dr rumah burung walet tsb sebelumnya mengeluarkan > > izin tsb. > > > > > > Dalam hal ini pemerintah setempatlah yang hrs bertanggung > jawab. > > > > > > ali sj > > > > > > > > > > > > > > > > > > alang tjhai <qqlang1977@> schrieb: > > > Pengen kasih coment dikit nich.........g, Alang... > > > Masalah walet ini memang seharusnya tidak diperbolehkan di > bangun > > > rumah walet di dlm kota Singkawang, karna dpt menyebabkan > polusi > > > udara yg buruk, membikin polusi suara yg buruk jg karna suara2 > > > kicauan yg dikeluarkan dari si pemilik rumah walet setiap hari > itu > > > dari Hi-fi mereka untuk memanggil walet pulang ke rumah. > > > Bukannya tidak setuju para orang kaya yg ingin menambah > > penghasilan > > > mereka dengan memelihara walet tapi janganlah kami masyarakat > yg > > > dijadikan korban apalagi seperti saat sekarang yg rentan > dengan > > Flu > > > Burung. > > > Apakah memang tidak ada tempat yg lebih sesuai untuk membangun > > rumah > > > walet selain di tengah kota???? > > > Saya sebagai salah satu warga kota Singkawang mengharap > pemerintah > > > daerah memperhatikan masalah ini dengan serius...... > > > Maaf kalau ada pernyataan saya yg menyinggung pihak2 tertentu > dan > > > saya jg ingin mengucapkan terima kasih yg banyak karna melalui > > > artikel2 seperti ini dapat memberi kesempatan untuk memberikan > > opini. > > > > > > --- In [email protected], Li Malikasim <limalik@> > wrote: > > > > > > > > Demikian pula pendapat saya. > > > > Soal walet seharusnya diselesaikan step-by-step. > > > > Pertama: melarang rumah walet baru. > > > > Kedua: cari sistem utk kontrol kotoran walet - umpamanya bisa > > > pasang plastik dilantai. > > > > Ketiga: menganjurkan pemilik rumah walet utk mendirikan > bangunan > > > baru diluar kota dgn uang hasil panen. > > > > Keempat: beri mereka janka waktu, katakanlah sepuluh tahun, > Skw > > > sdh harus bersih dari rumah walet. > > > > > > > > Rumah walet bukan prioritas rakyat pada saat ini. Banyir, > > listrik, > > > air bersih, keamanan, lapangan kerja dan ekonomi rakyat kecil > > adalah > > > hal2 yg lebih mendesak dan semestinya mendapat perhatian dari > > calon2 > > > walikota yg akan datang. Prioritas program kerja sesuai dgn > dana > > yg > > > tersedia dan menggalakan PMDN. > > > > > > > > Li > > > > > > > > Hendy Lie <hendylie@> > > > wrote: > > > > Dear Pak Robert, > > > > > > > > Saya mau mengomentari yang soal walet. Persoalan walet yang > ada > > > di tengah kota memang menjadi polemik, ada yang pro dan ada > yang > > > kontra juga. Dan setau saya saat ini Pemkot Singkawang sedang > > > menyusun Perda soal walet ini. > > > > > > > > Kalau dibilang jangan bangun rumah walet di tengah kota, > mungkin > > > OK untuk bangunan baru. Tapi bagaimana dengan bangunan yang > sudah > > > lama berdiri dan sudah sering panen? Apakah bangunan itu harus > > > dibongkar? Saya rasa ini susah sekali ya, pemiliknya pasti gak > mau > > > soalnya kalau dibongkar berarti mereka harus kehilangan ratusan > > > juta bahkan milyran rupiah. Pindah ke tempat baru berarti harus > > > mulai dari nol lagi dan belum tentu berhasil juga. Apakah > Pemkot > > > Singkawang mau mengganti kerugian mereka? Saya sih sangat yakin > > > Pemkot Singkawang gak akan punya uang sebanyak itu buat ganti > > > rugi :) > > > > > > > > Thanks > > > > > > > > Salam, > > > > Hendy Lie > > > > > > > > > > > > > > > > ----- Original Message ----- > > > > From: Robert Lay > > > > > > > > > > > > > > > > Dear Pak Ali,Rudi dan Alang, > > > > Terima kasih atas komentar anda terhadap post saya yang > > > terdahulu itu. > > > > Kita mengharapkan kelak ada orang yang memimpin kota > Singkawang > > > berazaskan "kepentingan penduduk (kepentingan bersama)kota > > > Singkawang" > > > > Yang mempunyai gagasan bagaiman mengatasi masalah: > > > > -burung walet > > > > -air > > > > -listrik. > > > > --------- dihapus --------------- > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > > > Stay in the know. Pulse on the new Yahoo.com. Check it out. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > > Besseren Schutz gegen Spam - jetzt bei dem neuen Yahoo! > Mail . > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > > Do you Yahoo!? > > > Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail. > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > > Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. > Yahoo! > > Small Business. > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and > 30+ countries) for 2ยข/min or less. > > > > > > > > > --------------------------------- > Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small Business. > ===================================================== ~~~~~~~~~~ Selamat Menunaikan Ibadah Puasa ~~~~~~~~~~ Hapus bagian email yang tidak perlu sebelum me-reply United Singkawang - [http://www.singkawang.us] Friendster - [http://www.friendster.com/singkawang] ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/singkawang/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/singkawang/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
