Tetapi bagaimanapun saya bangga hidup di Indonesia. Walaupun saya tidak termasuk orang yang agamis, tapi saya nggak pernah dan nggak ingin mengolok olok kehidupan beragama. Saya yakin, bila manusia memakai agama sebagai semangat hidup dan jalan hidup bukan sebagai ajang pamer, jalan menuju ke kekuasaan dan lain sebagainya, maka akan terjadi keseimbangan hidup di dunia.
Kalau boleh saya memberi saran kepada anda, sebaiknya jangan mengolok-olok seperti itu. Olok-olok hanya akan mengakibatkan suatu benturan saja yang kemudian bisa menjadi tidak produktif. Alangkah baiknya bila anda mau dan sudi memberi saran dan masukan kepada "pengelola & pemain" kehidupan agama di Indonesia untuk kemajuan dan pembenahan kehidupan beragama di sini. Mungkin anda berkata,"Saya sudah memberikan saran kepada mereka, tetapi mereka nggak mau menerima". Bila memang benar seperti itu, berarti anda harus "metani" diri sendiri, berarti harus meningkatkan kompetensi anda yang katanya pak Spencer seperti gunung es di laut, yang 3 yaitu self concept, trait dan motive ada di bawah air. Berarti anda harus meningkatkan kemampuan Impact and Influence (IMP) sehingga ide-ide anda bisa diterima orang yang anda pengaruhi. Dengan demikian anda bisa Developing Others (DEV) atau mengembangkan orang lain. Itu katanya pak Spencer lho.
Demikian, bila ada salahnya mohon maaf. Karena saya hanya orang desa yang tidak berpendidikan.
Salam
On Tue, 28 Sep 2004 15:16:56 -0600 "Eko Raharjo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Tempat Ibadah Vs Play Ground Eko Raharjo
Mana kala itu mengenai tempat ibadah masyarakat indonesia
menjadi bergairah berlebihan. Semangat lomba mereka amat
luar biasa. Seratus mesjid dibangun di suatu RW, maka
seratus gerejapun didirikan. Saking bergairahnya, bahkan
mereka merasa punya hak untuk menghalalkan segala cara.
Tentu saja pembubaran tempat ibadah akan sanggup
mengundang jihad.
Dilain pihak tidak pernah terdengar masyarakat rame-rame memperjuangkan eksistensi play ground. Penggusuran play ground juga tak pernah menjadi issu besar. Dalam logika Indonesia jawabnya sangat mudah. Ibadah adalah perkara religius yang serius, sedangkan play ground jelas cuma soal main-main untuk anak-anak saja.
Di negara maju seperti Kanada dan Jerman situasinya
terbalik. Masyarakat sangat bergairah dalam mengadakan
play ground. Kalau di Indonesia disetiap sudut RW/RT
selalu dijumpai tempat ibadah disini selalu ada play
ground. Tentu saja anak-anak, tanpa perduli apapun
ras dan agama orang tuanya, punya kesempatan untuk
bermain-main sepuas-puasnya.
Anak saya yang sejak umur 5 bulan tinggal di Jerman (kemudian pindah Kanada) keranjingan dengan play ground. Sampai umur 7 tahun kapan saja dimana saja bila melihat play ground ia selalu minta untuk diperbolehkan mencoba. Oleh karena itulah ia tumbuh menjadi anak dengan fisik sehat dan kuat. Umur 11 ia menjuarai kompetisi gymnastic tingkat nasional di Kanada. Sekarang umur 13 dikirim ke kejuaraan nasional fencing (anggar) di Montreal.
Men Sana in Corpore Sano demikian kata pepatah Romawi
kuno. Tidak saja anak saya suka olah raga ia juga
gemar olah pikiran dan jiwa. Baik puisi, karangan prosa
maupun ilmiahnya selalu membuat saya terheran. Permainan
musiknya apakah itu lantunan dari Bach, Mozart ataupun
rec time dari Scott Joplin selalu mengundang decak kagum.
Sulit dibayangkan bagaimana kalau anak saya tinggal
di Indonesia dan menjadi keranjingan tempat ibadah.
Boleh jadi jidatnya menjadi kapalen (karena kebanyakan
sujud di mesjid) dan dengkulnya kuat (karena kebanyakan
berlutut di gereja). Terus terang saya meragukan
jika pikiran dan jiwa yang sehat suka bersemayam dalam
jidat dan dengkul yang kapalen.
Dari ratusan ribu mesjid berapa yang menyediakan air wudhu yang memenuhi syarat kesehatan? Pernah dengar air wudhu dimasak dulu untuk mematikan kuman-kuman? Jika undang-undang kesehatan masyarakat yang ketat disini diterapkan di Indonesia mungkin tak ada satupun mesjid yang lulus perijinannya. Mengapa masyarakat yang mengupayakan nilai kerohanian yang luhur tak mampu memahami prinsip-prinsip dasar kesehatan jasmani. Sebab dalam agama common sense tidak menempati tempat yang utama.
Apakah masyarakat Muslim satu-satunya yang irasional?
Tentu saja tidak. Kaul selibat yang bertanggung jawab
pada banyak kasus seksual abuse dan pedophilia dalam
komunitas Katolik merupakan contoh pengingkaran dari
nalar sehat secara semena-mena.
Anak-anak memerlukan lingkungan yang menstimulasi
pertumbuhan dari semua aspek kemanusiaannya. Tidak
lingkungan yang penuh dengan pembatasan yang tak masuk
akal.
Saya bukanlah anti agama. Namun saya melihat bahwa masyarakat agama sangat mengabaikan pertumbuhan kemanusiaan dari anak-anak. Adalah cute melihat anak- anak memakai peci atau kerudung. Sangat memilukan kalau menyadari kenyataan sesungguhnya bahwa pikiran dan jiwa mereka tekerdilkan oleh balutan peci dan kerudung.
Perlombaan pembangunan tempat ibadah di Indonesia tanpa mengindahkan miskinnya play ground merupakan gambaran dari masyarakat yang keranjingan akan uceng (sumbu) namun dipastikan akan kehilangan deleg (reservoar minyak).
Eko Raharjo
Calgary
--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2290
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
=========================================================================================== "Gabung INSTANIA, dapatkan XENIA. Daftar di www.telkomnetinstan.com, langsung dapat akses Internet Gratis.. Dan ..ikuti "Instan Smile" berhadiah Xenia,Tour S'pore, Komputer,dll, info hub : TELKOM Jatim 0-800-1-467826 " ===========================================================================================
-------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2291 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
