Benar, bahwa bahasa yang benar-benar sama adalah tidak ada.
Tidak ada pula budaya yang benar-benar sama. Juga tidak ada
bangsa, suku bangsa atau indvidu manusia yang benar-benar
identik, bahkan kembar satu telur pun punya perbedaan
sendiri. Tidak ada pemikiran yang sama. Tidak ada persepsi
yang sama. Tak ada otak yang sama. Tak ada anatomi yang sama.
Suara atau perbuatan yang diproduksi manusia (bukan mesin)  
tidak akan pernah bisa sama. Meskipun sama-sama menggunakan 
bahasa Arab kalau itu dilafalkan oleh orang Jawa kedengarannya
akan lain. Pengertiannyapun tidak akan sama persis. Bahkan
diantara Arab sendiri, Maroko, Mesir, Saudi, Syria, Irak,
akan punya perbedaan sendiri-sendiri. Arab dari suku yang
sama dari jaman yang berbeda akan punya gaya, budaya, lelahi,
jargon, tafsiran yang ada bedanya. Kesimpulannya situasi
sama-persis, sama-sebangun, seperti mass production of robots
or cloning products, itu tidak perlu, dan memang tidak mungkin!.
Tetapi yang penting adalah fundamental principlenya tetap sama.

Seorang sufi pernah berkata: "dari al-Quran aku cucup sungsumnya
dan aku buang tulang-belulangnya". Saya mengartikan bahwa prinsip-
prinsip dasar ajaran Quran lebih penting dari hal-hal lainnya
apakah itu aspek bahasanya (Arab) atau aspek seninya (kaligrafi, 
poetic expression), aspek culture dst. Tentu saja konteks itu
semua diperlukan untuk tujuan berbagai study lanjut dan spesialis.
Tapi aspek pokok-pokok ajaran merupakan domain umum yang
bisa dipahami dan dilaksanakan oleh siapapun yang waras otaknya.
Lagi pula pada akhirnya individu yang bersangkutanlah sendirilah
yang bertanggung jawab terhadap segala sikap dan perbuatan
manusia didunia, bukan ulamanya, kyaine, atau da'i ne, atau
orang Arabe, bahasa Arabnya, dst.

Banyak orang salah mengerti bahwa kalau dia sudah mengikuti
fatwa atau tafsiran dari si ulama anu maka dia akan terbebas
dari tanggung jawab perbuatannya. Cara hidup hiding behind fatwa,
tafsir, sunah etc inilah yang sering membawa masalah dalam masarakat
Muslim, sebab orang semacam itu mudah menjadi target dari penyesatan
dan penyalah-gunaan. Mereka tidak pernuh hidup bertanggung-jawab
sepenuhnya sebagai manusia merdeka. Mirip robot mereka menunggu
orang lain memberi input mengenai apa-apa yang benar dan
apa-apa yang harus dilaksanakan. 

Bukannya saya meremehkan tafsiran para ahli. Tentu saja dalam
banyak kesempatan bisa menjadi petunjuk yang berharga. Ibarat
pendapat dokter apakah harus operasi kek, chemotherapi kek
pada akhirnya patienlah yang mengalami sendiri. Dokter tidak
akan pernah bisa menanggung penderitaan atau kematian pasien
(belum lagi ongkosnya). Pada umumnya mereka yang merasa
bertanggung jawab terhadap kesehatannya sendiri akan hidup
dengan hati-hati, sebaliknya mereka yang sedikit-sedikit
datang ke dokter untuk minta suntikan adalah orang yang tidak
mau berusaha serius untuk hidup sehat. Bagi sang dokter OK saja
wong mereka cari pasien je!

Sekali lagi pada akhirnya kita sendirilah yang akan menghadapi
pengadilan akhir kelak. Segala macam references adalah tinggal
references. Mereka tidak akan menggantikan tanggung jawab 
dari masing-masing manusia.
 
Wassalam
Eko Raharjo

Kuda Suwengi <[EMAIL PROTECTED]> said:

> Setuju mas Thohar.
> 
> Saya mau urun rembug sedikit, semoga benar. Kalau kita 
> ingin menafsirkan sendiri (bila mampu) maka kita harus 
> mencari sumber yang komplit dan alasan-alasan kenapa 
> pernyataan tersebut timbul. Dan juga sebaiknya mencari 
> sumber dari bahasa aslinya. Karena sesungguhnya bahasa 
> yang benar-benar sama tidak ada di dunia ini. Jadi kalau 
> menafsirkan menurut suatu terjemahan ada kemungkinan akan 
> bergeser dari kebenaran berita bahasa aslinya. Karena 
> sesungguhnya penerjemahan suatu bahasa adalah 'termasuk' 
> tafsir (dari penerjemah terhadap) bahasa aslinya.
> 
> Demikian. Salut Mas Thohar.
> 
> Salam
> Kudasuwengi
> 
> On Tue, 12 Oct 2004 09:54:05 +0900
>   Muhamad Thohar Arifin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Eko Raharjo wrote:
> > 
> >>Muhamad Thohar Arifin <[EMAIL PROTECTED]> said:
> >> ## Thohar:
> >>  
> >>
> >>>Dalam memahami ayat ini akan lebih jelas jika menyeluruh 
> >>>Mas, Artinya kebenaran itu harus di gali dalam kontek 
> >>>surat tersebut. Dan telah jelas di sebutkan dalam surat 
> >>>Al Bayinah tersebut kriteria sejelek jeleknya maklhuk di 
> >>>hadapan Allah dan sebaik baiknya Makhluk di hadapan Allah 
> >>>. Dalam surat yang ke tujuh jelas di terangkan bahwa 
> >>>"Those who have faith and do righteous deeds; They are 
> >>>the best of creatures." atau dalam bahasa indonesianya 
> >>>"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan 
> >>>amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Jadi 
> >>>kontek kebenaran di hubungkan dengan keimanan dan 
> >>>mengerjakan amal sholeh. Jelas berbada dong antara orang 
> >>>yang mengerjakan hal baik berdasarkan keimanan kepada 
> >>>Allah denganorang yang mengerjakan hal baik yang tidak 
> >>>dalam kerangka keimanan. Jadi kebaikan yang dimaksud 
> >>>bukan hal baik saja mas, tapi hal baik dalam kerangka 
> >>>ketaatan kepada Allah SWT.
> >>>    
> >>>
> >>
> >>Eko Raharjo:
> >>Saya tidak punya masalah dengan ayat 7 dari al-Bayinah. 
> >>Tetapi
> >>saya punya masalah dengan penafsiran anda mengenai faith 
> >>(iman). Nampaknya anda menterjemahkan iman dalam arti 
> >>sempit yakni
> >>sebatas pengucapan kalimat sahadat dan mengerjakan 
> >>ibadah. Saya
> >>memandang ibadat adalah suatu cara untuk menumbuhkan 
> >>iman. Bukan
> >>suatu garansi bahwa iman seseorang menjadi tumbuh dengan 
> >>rajin
> >>beribadah. Keimanan itu jauh lebih dalam dari sekedar 
> >>ibadah.
> >>Ibadah seseorang bisa diitungi tapi keimanan seseorang 
> >>itu
> >>tidak bisa diukur.
> >>
> >>Oleh karena sulit mengukur keimanan seseoranglah maka 
> >>penilaian
> >>terhadap seseorang harus berdasar perbuatannya. Kalau 
> >>perbuatan
> >>seseorang baik maka dia orang baik tanpa perduli apakah 
> >>imannya
> >>cetek atau dalam. Kalau seorang korupsi maka harus 
> >>dihukum meskipun sudah komplit menunaikan rukun Islam, 
> >>katam al-Quran,
> >>namanya Akbar, Amin, ataupun DurRahman, 
> >>Bahkan nabipun tidak mampu menilai keimanan seseorang. 
> >>Oleh karena
> >>itu ketika seorang musuh dibawah ancaman pedang 
> >>mengucapkan kalimat sahadat dan tentara Muslim 
> >>mengatakan: bohong luh!
> >>Sang nabi berkata: ampunilah dia. Kejujuran nabilah 
> >>(bahwa beliau
> >>tidak bisa mengetahui isi hati, keimanan, orang tsb) 
> >>serta
> >>kemurahan hatinyalah yang menyelamatkan orang tsb. jadi 
> >>bukan kalau seseorang sudah mengucapkan kalimat sahadat 
> >>otomatis dia
> >>menjadi baik atau lebih baik dari yang tidak mengucapkan. 
> >>Tentu saja ini merupakan opini saya, orang lain tidak 
> >>harus setuju.
> >>
> >>Wassalam
> >>Eko Raharjo
> >> 
> >>  
> >>
> >>>M
> >>>
> > ### Thohar:
> > Perasaan saya ini tidak pakai opini  saya mas, Saya 
> >sadar saya ini tidak ada apa apanya dalam mentafsirkan 
> >islam. Saya yang bodoh ini tidak punya hak untuk 
> >mentafsirkan hukum dan kaidah kaidah islam.
> > 
> > Lah yang mengatakan bahwa yang mengucapakan Syahadat itu 
> >lebih baik dari yang tidak mengucapkan itu Allah SWT kok 
> >mas, bukan opini saya. ya monggo kalau mas Eko punya 
> >opini seperti itu.
> > 
> > Dan oleh ulama ahli hadits di katakan bahwa iman akan 
> >bertambah dengan berkurang sesuai dengan amal ibadah 
> >kita. Tentunya yang di maksud amal ibadah ini adalah yang 
> >sesuai sunnah. Ini kaidahnya lho, kalau mas eko punya 
> >anggapan lain ya monggo
> > 
> > Dalam konsep al wala wal baro yang saya pelajari dari 
> >islam kok begitu, semoga saja, tidak salah pemahaman 
> >saya.
> > 
> > Dalam kisah ada orang kafir yang saat perang mengucapkan 
> >syahadat kok setahu saya riwayatnya lain ya. Setahu saya, 
> > dalam pengarang ada orang kafir mengucapkan syahadat 
> >trus di bunuh sama sahabat karena sahabat perfikir dia 
> >hanya mau berlindung dari kematian saja. Trus berita ini 
> >sampai ke Nabi, dan Nabi marah karena siapapun yang telah 
> >mengucapkan syahadat akan terjaga kehormtannya, haram 
> >darahnya untuk di tumpahkan. Kemudian sahabat itu ngeyel 
> >bahwa dia hanya berlindung dari kematian saja, kemudian 
> >Nabi semakin marah, dan beliau berkata, bagaimana nanti 
> >pertanggung jawaban terhadap ucapan kalimat yang sangat 
> >mulia itu ( syahadat maksudnya). Jadi jelaslah bahwa 
> >antara orang yang kafir dan orang yang muslim itu ada 
> >bedanya di sisi Alloh SWT.
> > 
> > Selamat menjalankan ibadah Puasa Ramadhan, semoga di 
> >brekahi Amin
> > 
> > wasalam
> > thohar
> > 
> > -------------------------------------------------------------------------
-
> > Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
> > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - 
> >Seq. #2309
> > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList 
> >             http://www.undip.ac.id
> > 
> > 
> 
> 
=============================================================================
==============
> "Gabung INSTANIA, dapatkan XENIA. Daftar di www.telkomnetinstan.com, 
langsung dapat akses Internet Gratis..
> Dan ..ikuti "Instan Smile" berhadiah Xenia,Tour S'pore, Komputer,dll, info 
hub : TELKOM Jatim 0-800-1-467826 "
> 
=============================================================================
==============
> 
> --------------------------------------------------------------------------
> Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
> to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2310
> DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id
> 
> 
> 



-- 




--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2311
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke