Muhamad Thohar Arifin <[EMAIL PROTECTED]> said: > Mas Eko tulisannya bisa memancing perdebatan lagi lho. > Yang tidak setuju dengan Mas Eko nampaknya akan banyak. Jadi siap siap >saja. > Tapi tak pikir pikir ini baik juga untuk diskusi antar muslim ( no > offense for Non Muslim karena bahasannya lagi untuk muslim) Dik Thohar, bukankah science itu sendiri hakekatnya dibangun dari kontroversi dan perdebatan, misal teori Copernicus, Galileo, Darwin, Freud, Einstein, Hawkins etc. Merupakan hal yang semestinya pula bahwa kaum terdidik (cendekiawan) turut serta memikirkan (mendebatkan) gejala dan gejolak yang terjadi dalam masyarakat.
Tentu saja kalau melemparkan permasalahan saya mengharapkan tanggapan. Semakin banyak tanggapan semakin gayeng. Kalau ada orang yang tidak bersedia mengacu pada permasalahannya but take it personally dan menjadi sakit hati. Saya juga tidak kaget. Well, saya hanya bisa mengatakan itu adalah tanda dari low self esteem yang lumrah diderita oleh rakyat dari negara ketiga. Banyak orang kurang menyadari bahwa jagad terus berputar dan jaman terus berubah. Bangsa yang stay infantile tidak akan ditunggu dan dimaklumi terus-terusan. Pada gilirannya jagad ini akan dimiliki oleh bangsa-bangsa yang maju. Nantinya Kuda Suwengi tidak bisa lagi membangga-banggakan kampung halamannya karena bukan lagi miliknya. Bukankah ini sudah pernah terjadi pada jaman gubernur Van Den Bosch (kultur stelsel) orang bahkan tidak bisa lagi menanam bahan makanan yang dibutuhkan. Kekuatan dari suatu bangsa diukur dari reaksi mereka terhadap adversity. Bangsa Yahudi malah thrive menghadapi adversity yang tiada henti, sebaliknya bangsa Arab (Palestina) malah comitted suicide (suicide bomber) dalam bereaksi terhadap adversity. Bangsa Indonesia selalu cari excuses and run away dari tantangan. Apakah bangsa Indonesia tidak ingin memperoleh solusi dari permaslahan yang anda. Tentu saja! Namun mereka menginginkan jalan pintas. Berita mengenai berdirinya 13 gereja hanya disatu kawasan kecil Perumnas Bumi Rancaekek Bandung bagi saya mengherankan. Kalau ada 13 gereja di kawasan kecil tsb lalu ada berapa mesjid?. Bagaimana dengan sekolahan dan play ground? Seorang teman kirim email ke saya dengan ilustrasi yang tepat. Ada keluarga yang punya anak banyak. Hidupnya pas-pasan. Bahkan sering minta dispensasi dari berbagai kewajiban financial. Tapi giliran iuran pembangunan mesjid. Ia penyumbang terbanyak. Menyedihkan. Tempat ibadah dianggap jalan pintas untuk solusi dari segala problemnya. (sekali lagi saya bukan anti agama atau tempat ibadah). Kalau ditanya siapa yang salah. Saya tunjuk Kuda Suwengi. K.S. adalah contoh lumrah dari orang yang berpendidikan tinggi namun hanya bersandar pada kebanggaan kosong dari desanya dan berdalih (making excuses) bahwa permasalahan hendaknya ditampilkan secara simpatik, pertama pakai sorjan, blangkon, sandal selop, kedua tangan menutupi perkutut, jari jempol mendongak, bla..bla...bla... Kebanggaan emosional saja tidak punya arti apa-apa. Anak desa yang menderita thalassemia pun akan suka membangga-banggakan desanya. > Tapi bagaimanapun mas eko, hidup di negara muslim ( kayak indonesia) > lebih berfaedah, mau taklim banyak, mau penajian banyak, mau sholat lima > waktu tepat pada waktunya bisa, insya allah di mudahkan lah sama Allah > untuk hidup di negri muslim. > > Dan Nabi berlepas diri terhadap orang orang yang hidup di negri kafir ( > sumber : http://assunnah.mine.nu/index.php?op=articulos&task=verart&aid=4 ) Saya menghormati keyakinan orang. Setiap orang boleh menentukan kriteria yang mereka anggap bisa membuat tentram dan bahagia. Namun tidak berarti orang harus berhenti berpikir demi memperoleh pengertian yang sebaik-baiknya. Ukuran kafir bagi saya tidak terbatas pada KTP. Mereka dengan KTP non-Islam belum tentu kafir, sebaliknya mereka yang ber KTP Islam belum tentu beriman. Perintah Allah SWT yang mudah dan bisa dilaksanakan bersama-sama adalah mengupayakan kebersihan dan kesehatan. Berabad-abad mayarakat Muslim terkenal champion dalam hal ini sementara masyarakat Barat hidup kemproh dan menjadi sarang segala penyakit, dari syphilis sampai TBC. Namun sekarang ini siapa yang menjalankan perintah Allah? Masyarakat barat. Siapa yang tidak menjalankan perintanNya? Negara dengan mayoritas Muslim seperti Indonesia. Jadi mana yang kafir dan mana yang nggugu perintah Nya? Oleh karena itu ketika saya di Indonesia dan bolak-balik mencret. Saya bisa berdoa:" Ya Allah yang maha pemurah. Lindungilah saya. Sebab nyawa saya terancam oleh para kafir (mereka yang tidak menghiraukan perintah MU)". Ketika pesawat mendarat kembali di Calgary, saya bisa berdoa: " Alhamdullilah, saya kembali aman di negeri orang-orang yang percaya dan melaksanakan perintah MU. Ya Allah maha besarlah Engkau". Amin. Wassalam Eko Raharjo Calgary > demikian Mas Eko. > > wasalam > thohar > > -------------------------------------------------------------------------- > Milis Archive: http://archive.undip.ac.id > to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2292 > DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id > > > -- -------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2293 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
