Setuju mas Thohar.
Saya mau urun rembug sedikit, semoga benar. Kalau kita ingin menafsirkan sendiri (bila mampu) maka kita harus mencari sumber yang komplit dan alasan-alasan kenapa pernyataan tersebut timbul. Dan juga sebaiknya mencari sumber dari bahasa aslinya. Karena sesungguhnya bahasa yang benar-benar sama tidak ada di dunia ini. Jadi kalau menafsirkan menurut suatu terjemahan ada kemungkinan akan bergeser dari kebenaran berita bahasa aslinya. Karena sesungguhnya penerjemahan suatu bahasa adalah 'termasuk' tafsir (dari penerjemah terhadap) bahasa aslinya.
Demikian. Salut Mas Thohar.
Salam Kudasuwengi
On Tue, 12 Oct 2004 09:54:05 +0900 Muhamad Thohar Arifin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Eko Raharjo wrote:
Muhamad Thohar Arifin <[EMAIL PROTECTED]> said:### Thohar:
## Thohar:
Dalam memahami ayat ini akan lebih jelas jika menyeluruh Mas, Artinya kebenaran itu harus di gali dalam kontek surat tersebut. Dan telah jelas di sebutkan dalam surat Al Bayinah tersebut kriteria sejelek jeleknya maklhuk di hadapan Allah dan sebaik baiknya Makhluk di hadapan Allah . Dalam surat yang ke tujuh jelas di terangkan bahwa "Those who have faith and do righteous deeds; They are the best of creatures." atau dalam bahasa indonesianya "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Jadi kontek kebenaran di hubungkan dengan keimanan dan mengerjakan amal sholeh. Jelas berbada dong antara orang yang mengerjakan hal baik berdasarkan keimanan kepada Allah denganorang yang mengerjakan hal baik yang tidak dalam kerangka keimanan. Jadi kebaikan yang dimaksud bukan hal baik saja mas, tapi hal baik dalam kerangka ketaatan kepada Allah SWT.
Eko Raharjo:
Saya tidak punya masalah dengan ayat 7 dari al-Bayinah. Tetapi
saya punya masalah dengan penafsiran anda mengenai faith (iman). Nampaknya anda menterjemahkan iman dalam arti sempit yakni
sebatas pengucapan kalimat sahadat dan mengerjakan ibadah. Saya
memandang ibadat adalah suatu cara untuk menumbuhkan iman. Bukan
suatu garansi bahwa iman seseorang menjadi tumbuh dengan rajin
beribadah. Keimanan itu jauh lebih dalam dari sekedar ibadah.
Ibadah seseorang bisa diitungi tapi keimanan seseorang itu
tidak bisa diukur.
Oleh karena sulit mengukur keimanan seseoranglah maka penilaian
terhadap seseorang harus berdasar perbuatannya. Kalau perbuatan
seseorang baik maka dia orang baik tanpa perduli apakah imannya
cetek atau dalam. Kalau seorang korupsi maka harus dihukum meskipun sudah komplit menunaikan rukun Islam, katam al-Quran,
namanya Akbar, Amin, ataupun DurRahman, Bahkan nabipun tidak mampu menilai keimanan seseorang. Oleh karena
itu ketika seorang musuh dibawah ancaman pedang mengucapkan kalimat sahadat dan tentara Muslim mengatakan: bohong luh!
Sang nabi berkata: ampunilah dia. Kejujuran nabilah (bahwa beliau
tidak bisa mengetahui isi hati, keimanan, orang tsb) serta
kemurahan hatinyalah yang menyelamatkan orang tsb. jadi bukan kalau seseorang sudah mengucapkan kalimat sahadat otomatis dia
menjadi baik atau lebih baik dari yang tidak mengucapkan. Tentu saja ini merupakan opini saya, orang lain tidak harus setuju.
Wassalam Eko Raharjo
M
Perasaan saya ini tidak pakai opini saya mas, Saya sadar saya ini tidak ada apa apanya dalam mentafsirkan islam. Saya yang bodoh ini tidak punya hak untuk mentafsirkan hukum dan kaidah kaidah islam.
Lah yang mengatakan bahwa yang mengucapakan Syahadat itu lebih baik dari yang tidak mengucapkan itu Allah SWT kok mas, bukan opini saya. ya monggo kalau mas Eko punya opini seperti itu.
Dan oleh ulama ahli hadits di katakan bahwa iman akan bertambah dengan berkurang sesuai dengan amal ibadah kita. Tentunya yang di maksud amal ibadah ini adalah yang sesuai sunnah. Ini kaidahnya lho, kalau mas eko punya anggapan lain ya monggo
Dalam konsep al wala wal baro yang saya pelajari dari islam kok begitu, semoga saja, tidak salah pemahaman saya.
Dalam kisah ada orang kafir yang saat perang mengucapkan syahadat kok setahu saya riwayatnya lain ya. Setahu saya, dalam pengarang ada orang kafir mengucapkan syahadat trus di bunuh sama sahabat karena sahabat perfikir dia hanya mau berlindung dari kematian saja. Trus berita ini sampai ke Nabi, dan Nabi marah karena siapapun yang telah mengucapkan syahadat akan terjaga kehormtannya, haram darahnya untuk di tumpahkan. Kemudian sahabat itu ngeyel bahwa dia hanya berlindung dari kematian saja, kemudian Nabi semakin marah, dan beliau berkata, bagaimana nanti pertanggung jawaban terhadap ucapan kalimat yang sangat mulia itu ( syahadat maksudnya). Jadi jelaslah bahwa antara orang yang kafir dan orang yang muslim itu ada bedanya di sisi Alloh SWT.
Selamat menjalankan ibadah Puasa Ramadhan, semoga di brekahi Amin
wasalam thohar
--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2309
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
=========================================================================================== "Gabung INSTANIA, dapatkan XENIA. Daftar di www.telkomnetinstan.com, langsung dapat akses Internet Gratis.. Dan ..ikuti "Instan Smile" berhadiah Xenia,Tour S'pore, Komputer,dll, info hub : TELKOM Jatim 0-800-1-467826 " ===========================================================================================
-------------------------------------------------------------------------- Milis Archive: http://archive.undip.ac.id to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2310 DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList http://www.undip.ac.id
