Arman Sunaryo <[EMAIL PROTECTED]> said:

> Eko, 
> Analisa yang bagus.  Saya jadi ingat waktu di lingkungan rumah saya 
dibangun mesjid, untuk itu warga diminta bantuannya untuk menyumbang.  Nah 
ada satu keluarga yang saya tahu hidupnya lumayan susah, anaknya banyak 
dsb...dsb..., untuk kegiatan lain dia selalu minta dispensasi untuk tidak 
menyumbang.  Tapi untuk pembangunan mesjid itu, dia adalah salah satu 
penyumbang terbesar, ini saya kira pas banget untuk ilustrasi yang anda 
>tulis.
 
Eko:
Arman, thanks atas tanggapannya. Cerita anda diatas adalah contoh
yang amat tepat. Banyak orang di Indonesia mencari jalan pintas
untuk pemecahan masalah-masalah mereka. Orang mengira bahwa
dengan membangun tempat ibadah segala masalah mereka akan
teratasi. Sekali lagi saya bukan anti terhadap tempat ibadah.
Saya prihatin dengan trend disana yang berlomba membangun
tempat ibadah tetapi neglect kewajiban-kewajiban mereka dalam
membangun fasilitas-fasilitas umum yang diperlukan untuk
tumbuhnya masyarakat yang sehat, seperti play ground, taman
bacaan, sekolahan dst.

> Tapi saya kurang setuju dengan kekuatiran anda bahwa  kalau anak anda di 
Indonesia akan menjadi sejelek itu (jidad dan lutut kapalan dengan pikiran 
kerdil).  Semua tergantung bagaimana orangtuanya, dan saya yakin dengan 
pengarahan anda berdua, anak anda akan bagus dimanapun dia berada.  Mungkin 
dia sekarang adalah juara bulutangkis nasional untuk KU 13-14 tahun yang 
siap diorbitkan menjadi pemain nasional.  Dan jangan lupa kita2 ini juga 
produksi lokal yang sekarang cukup bisa bersaing didunia internasional.  
Pernah baca artikel mengenai Gubernur Lemhanas saat ini, dia waktu kecil 
hidupnya sangat susah karena ayahnya meninggal, untuk menyambung sekolahnya 
dia harus bekerja jualan koran, disitu juga dia banyak belajar mengenai 
dunia.  Sekarang dia menjadi Gubernur sebuah institusi terkemuka yang 
mencetak para pemimpin nasional.
> 

Eko:
Anda benar. Tentu saja tergantung pada pribadi (keluarga) masing-
masing. Harap dimengerti tulisan saya bukan saya tujukan pada pribadi-
pribadi tertentu melainkan pada masyarakat Indoensia secara umum.
Contoh mengenai anak saya lebih merupakan kiasan yang sarcastic.
Sebab kalau saya pakai anak orang sebagai contoh pasti orang tuanya
akan tersinggung :-).

Anda juga bener bahwa kita ini adalah produk dari sana. Toh tak ada
jidat kita yang kpalen atau dengkul yang rematik (ini juga kiasan).
Sekali lagi tulisan saya tidak berlaku untuk pribadi-pribadi tertentu 
melainkan untuk jutaan anak Indoensia pada umumnya. Saya kenal dekat
dengan satu keluarga yang memproduksi jago-jago bulu tangkis yang
pernah malang melintang di dunia internasional. Bila dilihat dari
situasi background mereka benar-benar tidak mendukung. Tentunya
kita tidak bisa memakai situasi khusus against all odd tsb sebagai
template untuk pembinaan pemain-pemain bulutangkis nasional.

Kurangnya fasilitas umum yang amat dibutuhkan untuk perkembangan
anak sehat di Indonesia, seperti play ground, taman bacaan, sekolahan,
sementara masyrakat berlomba untuk membangun tempat ibadah. Benar-
benar membuat saya gatal untuk mengkomentari (sesungguhnya karena
kesibukan, saya sudah lama tidak pernah menulis).

Best Regards
Eko Raharjo



--------------------------------------------------------------------------
Milis Archive: http://archive.undip.ac.id
to unsubscribe, mailto:[EMAIL PROTECTED] - Seq. #2294
DIPONEGORO UNIVERSITY MailingList              http://www.undip.ac.id


Kirim email ke