Baraya, ieu aya resensi buku tina Kompas poe kamari, terjemahan ti Asian Think's karya Mahbubani diterbitkeun ku Mizan. Aya narik tinu nu nulis resensi ieu buku, soal urang indonesia kudu bebenah ninggalkeun mental abad ka 19 jadi mentalitas abad 21.
Nyanggakeun! Baktos, WALUYA Bangsa-bangsa Asia Butuh Mentalitas Baru Judul buku ini memang amat provokatif dan terkesan mengejek. Pengarangnya lebih mengambil sudut-pandang negatif. Menjadi berbeda misalnya apabila dibandingkan buku Anwar Ibrahim yang banyak bercerita tentang Asian Renaisance, eksotika, dan kekuatan nilai-nilai Asia (Asian values). Membaca buku ini, pembaca segera dihadapkan pada kesan memang Asia punya nilai-nilai, tetapi nilai-nilai itu tenggelam segera bila dibandingkan dengan kemajuan-kemajuan Barat. Buku Mahbubani memang membandingkan antara Asia dan Barat. Bagi pembaca Indonesia, hal demikian mengingatkan pada polemik pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana (STA) tempo dulu. Pada tahun 1930-an, ia pernah berdebat soal, apakah kita harus meniru budaya Barat. STA menjawab tegas, kita harus menyerap budaya Barat kalau mau maju. Sedangkan yang lain, Purbatjaraka, misalnya sebaliknya: nilai-nilai Timur harus kita gali dan kembangkan. Lebih luas lagi, buku ini juga segera mengingatkan orang pada kontroversi pemikiran Samuel P Huntington dalam bukunya The Clash of Civilizations and The Remaking of World Order (1996). Buku ini membedah peta peradaban baru dunia pasca-Perang Dingin, ke dalam The West and The Rest (Barat dan yang lainnya: Amerika Latin, Afrika, Islam, Sinic (China), Hindu, Ortodoks, Buddhis, dan Jepang), dan potensi benturan antar-peradaban. Konteks Indonesia Atas pertanyaan, Bisakah Orang Asia Berpikir?, Dawam Rahardjo dalam kata pengantar buku ini mencatat, pertanyaan itu pantas ditujukan kepada bangsa Indonesia saat ini di mana secara politik tidak stabil, secara ekonomi tidak sejahtera, dan secara sosio-kulturalkhususnya pendidikanterbelakang (hal ix). Apakah orang Indonesia mampu berpikir untuk kesinambungan bangsa? Sekarang banyak kalangan gelisah. Pada usianya ke-60 tahun, muncul pertanyaan kritis: apakah masa depan Indonesia masih tetap seperti Indonesia saat ini di mana luas wilayahnya membentang dari Sabang sampai Merauke, bukan dari Medan hingga ke Ambon? Parakitri T Simbolon (2005) mengutip ucapan pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1954, Allahu Akbar! Dulu orang berkata bahwa Republik Indonesia tidak akan tahan delapan minggu. Kini ia telah berusia lebih dari 450 minggu. Bagi Bung Karno sang presiden, keberhasilan bangsa dan negara kita adalah berkat Tuhan Yang Maha Esa. Seandainya Bung Karno masih Presiden RI, catat Parakitri, awal pidatonya dalam peringatan 17 Agustus 2005, mungkin akan sama, cuma jumlah minggunya disesuaikan menjadi 3.120. Tetapi kira-kira penjelasannya tidak semata karena faktor Tuhan. Mungkin Bung Karno, catatnya lagi, akan menetapkan tahun 2005 sebagai Tahun Perhitungan, A Year of Reckoning. Bung Karno kerap mengutip ayat perubahan: Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum, suatu bangsa, bila kaum itu, bangsa itu tidak mampu mengubah dirinya sendiri. Terkait dengan provokasi Mahbubani: eksistensi dan kesinambungan Indonesia, akan terletak sejauh mana orang-orang Indonesia mampu berpikir, sebagai landasan untuk mengelola perubahan zaman, selain tentunya faktor Tuhan (takdir). Asia yang menawan Kita akan segera menjadi mafhum dalam konteks apa Mahbubani menulis tulisannya. Tulisan Bisakah Orang Asia Berpikir? (Juni 1997) adalah makalahnya pada International Conference on Thinking ke-7 di Singapura. Ia segera menjadi provokatif karena membandingkan peradaban dan cara berpikir orang Asia dengan Barat. Asia memang menawan. Letaknya di belahan dunia yang membentang dari Jepang hingga Indonesia menembus Asia Tengah, Jalur Sutra, hingga Dunia Arab, di mana sejumlah agama besar hadir di sini: Islam, Buddha, Hindu, hingga Konfusianisme. Penduduknya mencapai 60 persen penduduk dunia. Seribu tahun lalu orang China dan Arab memimpin dalam ilmu dan teknologi, dunia pengobatan, dan astronomi. Bangsa Arab mengadopsi sistem desimal dan angka 0 hingga 9 dari India dan mempelajari cara membuat kertas dari orang China. Universitas pertama di dunia didirikan pada tahun 971 di Kairo, Mesir. Sebaliknya bangsa Eropa pada saat itu masih berada dalam Zaman Kegelapan yang dimulai saat Kekaisaran Romawi runtuh pada abad ke-5. (hal 7). Ketertinggalan Asia dibanding Barat hingga kini, ironisnya, belum terkejar. Memasuki abad ke-21, 500 tahun setelah kehadiran penjajah Portugis pertama kali di Asia, catatnya, hanya satu bangsa Asia yang telah mencapai tingkat perkembangan Eropa dan Amerika saat ini: Jepang. Pikiran orang Jepang-lah yang pertama kali bangkit di Asia, dimulai dengan Restorasi Meiji pada 1860-an. Mahbubani bertanya penuh keheranan: jika otak orang Asia bisa berpikir, mengapa saat ini hanya satu bangsa Asia yang mampu menyetarakan dirinya dengan bangsa Barat? Tiga jawaban Mahbubani menyediakan tiga jawaban atas pertanyaan yang diajukannya. Jawaban ya, didasari alasan atas adanya prestasi masyarakat Asia Timur yang luar biasa dalam beberapa dekade belakangan. Juga adanya perubahan penting dalam pikiran-pikiran orang Asia, dan pikiran Asia mulai bergerak. Sementara jawaban tidak, didasari alasan adanya kolonialisme bangsa-bangsa Barat terhadap Asia, yang masih menyisakan kolonialisme mental, yang mempertegas posisi inferioritas bangsa-bangsa Asia. Mungkin merupakan jawaban berikutnya. Alasannya lebih banyak. Di sektor ekonomi, kebanyakan masyarakat Asia, mencakup masyarakat Asia Timur, menghadapi jalan panjang sebelum bisa meraih tingkatan stabilitas dan harmoni politik yang dicapai masyarakat Barat. Di bidang keamanan, satu keuntungan besar yang dimiliki masyarakat Barat atas masyarakat lain di dunia adalah perang di antara mereka pada masa lalu, sementara di Asia ketegangan antar-kawasan masih terjadi. Alasan lain, orang Asia menghadapi tantangan serius di bidang sosial. Jejak feodal, sisa primordialisme dan nepotisme masih terus menghambat perwujudan masyarakat meritokratis. Di sisi lain belum terjawab apakah mind Asia mampu mengembangkan paduan nilai yang tepat, yang akan memelihara kekuatan tradisional Asia dibandingkan dengan nilai-nilai Barat. Mahbubani melihat kelebihan orang Asia dewasa ini, mengingat tatkala mereka melihat peradaban Barat, maka mereka dapat melihat dua perspektif sekaligus: puncak kesenangan yang dihuni sebagian besar masyarakat Barat dan pilihan-pilihan alternatif yang bisa dijadikan model bagi masyarakat mereka sendiri (hal 15). Mentalitas baru Buku ini merupakan bunga rampai dari banyak tulisan yang kebanyakan ditulis sebelum terjadi Peristiwa 11 September 2001. Tetapi, di Pengantar edisi ketiga, Mahbubani menegaskan, serangan teroris tersebut memaparkan dengan gamblang bahwa kita tengah memasuki abad yang penuh ancaman. Ancaman nyata yang dihadapi saat ini, catatnya, adalah kenyataan kita berlayar pada abad ke-21, namun tetap menggunakan mental maps (peta-peta mental) abad ke-19. Untuk mempersiapkan dunia baru, tegasnya, kita harus berani mengikis kebijaksanaan konvensional, mengempas pola pikir lama, dan mulai berpikir dalam koridor-koridor mental baru. Peringatan Mahbubani agar kita memiliki mentalitas baru harus dicamkan. Mochtar Lubis sebenarnya juga sudah mengingatkan kita pada 1977 saat menyampaikan Pidato Kebudayaan di Taman Ismail Marzuki bertema Manusia Indonesia, yang diciri-utamakan antara lain oleh tingginya mentalitas oportunis. Membaca buku ini diharapkan membuat kita, orang Asia yang tinggal di kota-kota dan kampung-kampung Indonesia segera berbenah, mengubah pola pikir dan mentalitas lama, mentalitas abad ke-19, menjadi mentalitas abad ke-21. Selama mindset masih belum terprogram, selama itu pula kita tidak mampu keluar dari keterpurukan. Sadarkah bahwa kita semua tengah menderita penyakit mental? M Alfan Alfian M Direktur Riset Akbar Tandjung Institute dan Dosen FISIP Universitas Nasional Jakarta. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital. http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/0EHolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Komunitas Urang Sunda --> http://www.Urang-Sunda.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/urangsunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

