Mengadili Keyakinan Agama

Komaruddin Hidayat

Semua umat beragama harus siap menghadapi kenyataan munculnya faham
dan keyakinan baru yang berbeda atau keluar dari pemahaman yang telah
mapan yang dianut oleh mayoritas.

Kalaupun tidak setuju, sebaiknya hindari sikap anarkis karena hal itu
lebih menunjukkan defisit moral dan ilmu pengetahuan dalam meresponi
dinamika pemikiran yang semakin sulit dikendalikan.

Dibanding dua agama besar lainnya, yaitu Hindu dan Kristen, varian
perilaku dan kelompok faham keberagamaan dalam Islam tidaklah sebanyak
mereka. Banyak pelajaran yang bisa ditarik, khususnya dari pengalaman
agama Kristen, mengapa dan bagaimana sekte-sekte agama bermunculan
serta faktor apa saja yang terlibat di dalamnya. Sulit disepelekan,
faktor ekonomi, pendidikan, politik dan psikologis selalu mengambil
peran dalam setiap pergolakan dan konflik keagamaan.

Ribut-ribut seputar kasus Ahmadiyah, shalat dua bahasa di Jatim,
kelompok Madi di Palu, dan belum lama ini Lia "Komunitas Eden"
Aminuddin, dan nantinya entah kelompok apa lagi, mungkin sekali akan
bermunculan di Indonesia. Ketika realitas budaya semakin plural dan
perjumpaan antarfaham agama serta pendukungnya semakin intens, maka
keragaman dan penyimpangan faham dari arus utama (mainstream) sulit
dielakkan.

Jadi telanjang

Dialog, benturan, dan tawaran faham keagamaan yang tampil di dunia
internet jauh lebih meriah dan tajam ketimbang yang dibayangkan
masyarakat selama ini. Hanya saja yang mampu mengakses internet untuk
saat ini masih sangat terbatas. Tetapi, ketika internet semakin
meluas, dan siaran televisi lintas benua juga mudah ditonton, apa yang
disebut penyimpangan dan serangan terhadap sebuah agama menjadi
telanjang di depan mata.

Kalau gambaran di atas sudah terjadi, bagaimana para ulama dan umat
beragama akan menyikapi? Rasanya kemarahan hanya akan membuang energi,
sementara perangkat hukum kita juga tidak mampu menyelesaikan. Apakah
kita perlu meniru Arab Saudi yang mengontrol saluran televisi? Tetapi
benarkah efektif?

Apa yang diadili?

Sungguh sulit mengadili sebuah keyakinan. Namun, untuk menilai apakah
pendapat dan perilaku seseorang sejalan ataukah tidak dengan ajaran
dan tradisi agama yang mapan dan dijaga oleh para ulama serta umatnya
selama ini, tentu saja mudah dilakukan. Setiap agama memiliki beberapa
dimensi pokok, yaitu doktrin keselamatan, ketuhanan, ritual, dan
etika/hukum sosial. Doktrin yang paling fundamental adalah konsep
kehidupan setelah mati (eskatologi) dan keselamatan (salvation) di
hadapan mahkamah Tuhan. Perangkat hukum, ritual, dan etika ke semuanya
bersumber dan mengacu kepada dua doktrin utama tadi.

Menyangkut keyakinan agama yang mengakar pada hati dan pikiran yang
terbentuk oleh serangkaian pembelajaran dan pengalaman hidup, sungguh
tidak mudah untuk ditaklukkan dan diadili. Namun tidak berarti
seseorang tidak bisa berubah keyakinan agamanya (konversi). Oleh
karena itu, jika kebenaran agama semata berdasarkan keyakinan—bisa
jadi berdasarkan kitab suci dan pencarian makna hidup—sudah pasti
kebenaran dan agama selalu bersifat plural dan tidak bisa
diseragamkan. Setiap pemeluk agama akan memandang dirinya sebagai
titik terdekat dan jalan pintas meraih keselamatan Tuhan. Orang lain
(the others, outsiders) bagaikan domba-domba sesat atau kelompok kafir
yang harus diselamatkan.

Karena keyakinan sulit ditaklukkan dan diverifikasi sebagaimana dalil
ilmu/sains, maka penerimaan terhadap kebenaran agama tidak seuniversal
kebenaran sains. Siapa pun orangnya akan menerima kehadiran teknologi
mobile-phone atau komputer, misalnya, tetapi kalau sudah menyangkut
keyakinan agama, maka masyarakat akan segera terpilah-pilah. Bahkan,
mobile-phone bisa saja digunakan untuk pemicu meledakkan bom untuk
menyerang yang lain dengan dalih berjuang membasmi musuh-musuh Tuhan.

Jadi, ketika sebuah keyakinan melahirkan lembaga dan penyebaran serta
gerakan sosial keagamaan, mau tak mau mesti berbenturan dengan
kelompok lain. Jika dalam internal umat agama muncul pemahaman yang
dianggap menyimpang, biasanya reaksi terhadap kelompok baru ini jauh
lebih keras ketimbang terhadap pemeluk agama lain. Alasannya mungkin
sederhana saja. Kelompok agama lain keberadaannya dilindungi hukum dan
terang-terangan sebagai the others.

Sedangkan gerakan semacam Ahmadiyah dan Lia Aminuddin serta kelompok
sejenis dinilai menodai serta menyesatkan faham dan keyakinan
mayoritas yang telah dijaga dan dihormati selama ini. Mereka dipandang
sebagai suatu pelecehan dan penodaan agama serta menimbulkan keresahan
masyarakat sehingga bisa dijerat dengan pasal-pasal KUHP.

Tetapi menjerat dengan dalih meresahkan masyarakat selalu mengandung
problem, mengingat ukurannya bisa subyektif. Dibanding gerakan Lia
Aminuddin, tentu saja yang jauh meresahkan dan menghancurkan
masyarakat adalah tindakan para koruptor dan pengedar narkoba.
Sayangnya reaksi umat beragama dan ulama terhadap mereka tidak sekeras
ketika menghadapi Ahmadiyah dan Lia Aminuddin.

Di abad pertengahan, pernah ada seorang musafir penganut faham Syiah
yang terpaksa harus bermalam di perkampungan Sunni karena tidak
mungkin meneruskan perjalanan di malam hari. Waktu itu dua kelompok
ini saling bermusuhan. Ketika minta izin untuk bertamu dan menyatakan
diri menumpang bermalam, tuan rumah bertanya, apa agamanya. Tamu tadi
menjawab: "Saya penganut ahli kitab." Maka, tuan rumah melayaninya
sangat baik, dengan keyakinan bahwa tamunya adalah orang Nasrani yang
menurut Al Quran wajib dilindungi. Tamu yang Syiah tadi sengaja
setengah berbohong mengaku ahli kitab demi keamanan dan keselamatan
diri. Dalam hati dia berkata, orang Muslim pun sesungguhnya juga
penganut ahli kitab, yaitu kitab Al Quran. Kalau saja memberi tahu
dirinya Syiah, mungkin ia akan diusir.

Demikianlah, konflik dan permusuhan internal umat agama memang sudah
terjadi sejak dulu. Terlebih lagi kalau seseorang dipandang telah
menodai agama (Islam) semacam Salman Rusydi, Lia Aminuddin ataupun
Ahmadiyah, sejauh ini yang lebih mengemuka adalah bahasa permusuhan
dan penghakiman. Di sini persoalan eskatologis, penghormatan, dan
pemurnian tradisi agama serta hukum negara bercampur baur. Baik yang
mengadili maupun yang diadili masing-masing merasa benar, namun dengan
sudut pandang dan keyakinan yang berbeda.

Yang repot kalau sikap ini menjadi tirani dan anarkis terhadap setiap
perbedaan. Namun bagi mereka yang merasa menemukan kebenaran dan agama
baru, harus siap dengan segala risikonya, karena kita hidup tidak
sendirian di padang pasir.

Kebudayaan hibrida

Ke depan semakin sulit dielakkan munculnya kebudayaan hibrida,
bersamaan dengan proses globalisasi dan menguatnya kebebasan individu.
Pada ranah budaya, pertemuan dan penetrasi budaya asing berlangsung
sangat intens yang hal ini juga akan merambah ke wilayah pikiran dan
perilaku keagamaan. Karena setiap ajaran agama memiliki nilai-nilai
kemanusiaan universal, maka pada aspek ini semua agama bisa bersanding
dan bahkan melebur. Begitu pun dalam upaya penegakan hukum dan
memberantas korupsi. Bahkan, negara Singapura dan China yang jarang
menyebut agama, hukuman terhadap pengedar narkoba dan korupsi lebih
tegas dibandingkan dengan Indonesia.

Ibarat rumah besar dengan halaman yang amat luas, pintu dan jendela
masyarakat pemeluk agama selalu terbuka bagi masuknya pengaruh asing.
Maka, tugas ulama untuk menjaga tradisi keagamaan semakin berat. Tanpa
persiapan moral dan intelektual yang kuat, umat beragama akan lelah
menghadapi munculnya pikiran-pikiran baru yang akan bermunculan di
masa depan.

Kecuali kita memberi kesempatan pada semua pikiran, ideologi, dan
agama untuk bersaing dan berdialog secara damai dan cerdas di panggung
sejarah sehingga terjadi seleksi alami, yang benar akan bertahan, yang
palsu akan ditinggal pemeluknya.

Komaruddin Hidayat Direktur Progam Pascasarjana UIN Jakarta





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Clean water saves lives.  Help make water safe for our children.
http://us.click.yahoo.com/CHhStB/VREMAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke