Sae pisan ulasana Kang RH, 
Di kampung abdi aya istilah "teu meunang naek haji" saparantos ku abdi 
ditaroskeun ka mama kuwu naha kunaon bet teu meunang naek haji? Jawaban na 
teh... oooh eta mah teu lengkep istilahna nu bener mah ceunah ceuk karuhun 
baheula "teu meunang naek haji lamun parilaku urang can leuwih hade ti karuhun 
anu baheula" tah lamun geus perilakuna luhung leuwih mantabh ti karuhun baheula 
mangga teh teuing ceunah. Soalna pasti jadi mamala lamun parilaku can bener 
naek haji, pas balik ti haji teh euweuh parobihan anu antukna tungtungna makna 
haji anu sabenerna jadi kalahka goreng. 

Haji tapi korupsi, haji tapi resep "huhuy", haji tapi maling, jrrd. Anu antukna 
timbul early warning system lamun urang panggih jeung haji 

Salam,
Asep

  ----- Original Message ----- 
  From: Rahman 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, December 15, 2006 2:30 AM
  Subject: [Baraya_Sunda] Re: Haji Sosial?


  Haji Sosial

  Jabir Alfaruqi

  Pada zaman Rasulullah ada pedagang kulit domba ingin naik haji.
  Setelah dihitung, ia menabung selama 20 tahun. Dalam perjalanan ke
  Mekkah, ia menyaksikan kemiskinan di mana-mana, membuat ia memberikan
  semua uangnya bagi kaum duafa.

  Dia bingung. cita-cita berhaji kian sulit diwujudkan sebab dibutuhkan
  waktu lama untuk menabung, dan usianya kian senja. Hal itu diketahui
  Rasulullah dan bersabda, hajimu sah dan bagimu surga.

  Kisah ini kurang populer di kalangan umat Islam maupun ulama. Andai
  kisah ini populer di Indonesia, mungkin umat Islam tidak perlu
  berdesak-desak dan memaksakan diri ke Mekkah untuk berhaji. Orang pun
  tidak perlu berulang kali naik haji. Departemen Agama pun tak perlu
  sibuk mengurus ratusan ribu umat yang mau berhaji setiap tahun.

  Haji sosial

  Kisah itu mengundang kita untuk bertanya, apakah makna haji yang
  sebenarnya?

  Kisah itu memperluas cakrawala kita, haji adalah makna kiasan, sarana
  dan bukan tujuan. Tujuan lebih tinggi di balik ritual itu adalah
  tercapainya keikhlasan dan kenikmatan muslimin untuk berkorban atas
  apa yang dimiliki demi saudara-saudaranya yang lebih membutuhkan.
  Itulah makna hakiki haji dan bisa dipahami sebagai haji sosial.

  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kemiskinan di Indonesia
  mencapai 17,9 persen. Menurut Bank Dunia, kemiskinan mencapai hampir
  separuh rakyat Indonesia, 49 persen.

  Bank Dunia mencatat, penghasilan separuh penduduk Indonesia di bawah
  dua dollar AS. Itu baru data kemiskinan, belum lagi jumlah
  pengangguran murni, semi pengangguran, dan orang yang terancam PHK
  (dirumahkan). Dari data kemiskinan itu akan diikuti derita sosial,
  seperti tingginya putus sekolah, mudah terjangkit wabah penyakit,
  perceraian, kriminalitas tinggi, dan konflik sosial kian rawan.

  Kondisi yang memprihatinkan ini diperparah daerah-daerah yang terkena
  bencana alam, seperti Aceh, Yogyakarta, Klaten, Pengandaran, dan
  Sidoarjo. Hingga kini masih banyak dari mereka yang belum bisa keluar
  dari kesulitan hidup.

  Amat mulia

  Konteks sosial ini seharusnya bisa mendorong umat Muslim berani
  menafsirkan ibadah haji secara subtansial. Haji sosial adalah haji
  yang amat mulia, dicintai fakir miskin dan diridhoi Allah. Inilah
  sebenarnya haji mabrur.

  Sekali lagi, andaikata pemahaman tentang perlunya haji sosial ini bisa
  diterapkan di kalangan umat Islam, penderitaan saudara-saudara Muslim
  akan bisa dikurangi. Pemerintah tidak perlu minta bantuan negara lain
  dengan menjual kemiskinan dan bencana alam. Berbagai kebutuhan sosial
  kemanusiaan itu bisa dipenuhi dari rakyat Indonesia sendiri melalui
  haji sosial.

  Mungkin haji sosial inilah yang dalam bahasa sufinya termasuk ibadah
  yang dirahasiakan (sirri). Orang yang berani berhaji sosial berarti
  sudah mampu melepaskan diri dari kungkungan formalisme agama dan
  merambah jalan baru memasuki cita-cita sosial yang menjadi misi utama
  agama.

  Jauhnya pemahaman agama pada dimensi subtansial karena manusia sering
  dilingkupi dengan berbagai kepentingan duniawi.

  Haji bukan hanya urusan surga dan neraka, tetapi memiliki pengaruh
  sosial yang tinggi dan prestise. Haji secara duniawi sering dimaknai
  sebagai puncak pencapai ibadah dan stempel kuat bahwa pelakunya pasti
  bermoral tinggi lagi mulia.

  Fenomena prestise dan status sosial inilah yang mendorong kuat bagi
  muslimin bahwa jika ingin menjadi orang berkualitas tinggi ibadahnya
  harus pergi haji ke Mekkah. Apa pun jalannya harus ditempuh.

  Maka, tidak aneh sering ditemukan, banyak pejabat yang minta fasilitas
  negara agar bisa naik haji. Para koruptor juga berlomba untuk bisa
  berulang kali haji dan umroh. Para petani harus menjual sawah dan
  ladang dan rela menjadi miskin setelahnya asal bisa pergi haji.

  Itu semua dilakukan karena ibadah haji bisa dijadikan bungkus atas
  ketidakberesan moralitas sosial manusia.

  Jabir Alfaruqi Direktur Lembaga Studi Agama dan Pembangunan (LSAP)
  Jawa Tengah; Peminat Sufistik Islam Kuno 



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke