Tuhan dalam Agama Buddha? Artikel ini akan mencoba mengupas masalah ketuhanan dalam Agama Buddha. Oleh karena topik ini sebagian besar sudah dikupas oleh Bp. C. Wowor, maka saya akan menambahkan sedikit saja. Kalau kita menelaah Buddhisme dengan seksama, maka di dalam Buddhisme juga terdapat beberapa aspek yang dapat disamakan dengan Tuhan menurut pengertian samawi. Jadi meskipun Tuhan yang benar-benar serupa dengan konsep agama samawi tidak dikenal dalam Buddhisme, tetapi setidaknya dalam Buddhisme terdapat pula aspek-aspek yang menyerupai Tuhan samawi. Dengan kata lain kita tidak dapat mengatakan bahwa Buddhisme adalah agama atheistik, yang tidak mengenal sama sekali keberadaan "Tuhan." Sebagai perbandingan adalah agama Hindu, yang meskipun konsep Tuhannya sedikit berbeda dengan agama samawi, tetapi tidak pernah dikatakan atheis. Baik mari kita mulai pembahasan kita. Selamat menikmati!
1. Tuhan sebagai penguasa atau raja Kosmologi Buddhis mengajarkan mengenai adanya tingkatan-tingkatan alam kehidupan, yang terbagi menjadi 3: a.Alam nafsu keinginan (kamadhatu) b.Alam bentuk (rupadhatu) c.Alam tanpa bentuk (arupadhatu) Tentu saja kita tidak akan membahas masing-masing alam ini secara terperinci, karena sangat rumit dan membutuhkan ruang dan waktu yang tidak sedikit. Tetapi para pembaca yang berminat dapat mencoba mencari literatur-literatur yang sesuai seperti Visuddhimagga (Pali) atau Abhidharmakosha (Sanskrit). Kita hidup dalam tataran alam nafsu keinginan (kamadhatu). Di atas alam nafsu keinginan ini terdapatlah dewa yang bernama Mahabrahma, kekuasaannya sungguh sangat besar. Mahadewa ini dapat disamakan dengan Tuhan dalam pengertian samawi. Karena memiliki kekuasaan yang besar itu Mahabrahma dapat menolong umatnya (seperti Tuhan dalam agama samawi yang diyakini dapat menolong umatnya). Namun, kendati memiliki kekuasaan yang sangat besar, tetapi Mahabrahma tidaklah kekal, tidak maha pencipta, dan juga tidak maha kuasa. Dengan kata lain kekuasaannya tidaklah tak terbatas. Ia tunduk kepada hukum sebab akibat (karma), dan selain itu menurut Samyutta Nikaya, ia masih berguru pada Sang Buddha. Sekalipun umurnya teramat sangat panjang menurut ukuran umat manusia (seolah- olah terkesan kekal), tetapi suatu saat ia akan mati juga. Mahabrahma masih memiliki berbagai macam perasaan, karena ia belumlah terbebas dari samsara. Oleh karena itu terkadang ia masih merasa senang atau sedih. Jadi sekali lagi, meskipun ada kemiripan antara Mahabrahma dengan Tuhan samawi, tetapi tetap saja terdapat perbedaan yang nyata. Umat agama samawi cenderung memberikan kuasa yang tak terbatas pada Tuhannya, sementara hal itu tidak dikenal dalam Buddhisme. Tentu saja kita harus dengan pikiran kritis membandingkan kedua konsep ketuhanan ini, yang sebenarnya sudah dibahas dalam suatu bab tersendiri. Namun secara ringkas, ada berbagai pertanyaan yang timbul terhadap konsep Tuhan semacam itu. Pertama-tama harus dijelaskan asal mula kejahatan. Bila Tuhan adalah suci, lalu darimana munculnya kejahatan? Kedua, bila Tuhan itu maha baik, mengapa ia tidak menghapuskan saja penderitaan umat manusia? Sebenarnya masih banyak pertanyaan lainnya, tetapi akan kita cukupkan dua pertanyaan saja, oleh sebab masih banyak hal yang perlu kita bahas. 2. Tuhan sebagai hakim yang adil Para penganut agama samawi yakin bahwa orang yang baik akan memperoleh kebajikan, sebaliknya orang yang berbuat kejahatan akan dihukum. Orang mengatakan bahwa Tuhan memiliki mata dan telinga yang dapat menembus segalanya. Apakah aspek semacam ini juga dikenal dalam Buddhisme? Tentu saja, namanya adalah kamma niyama atau yang lebih dikenal dengan hukum karma. Secara prinsip, hukum karma juga berbunyi: "menanam kebajikan akan menuai kebajikan, menanam kejahatan akan menuai kejahatan." Menurut Buddhisme hukum ini berlangsung tanpa pandang bulu. Meskipun Anda seorang raja yang sangat berkuasa, Anda tetap tidak akan sanggup meluputkan diri dari cengkeraman hukum karma. Perbedaan nyata antara hukum karma dengan Tuhan, adalah dalam hal berpribadi dan tidak berpribadi. Hukum karma bukanlah sesuatu yang berpribadi (impersona), sedangkan Tuhan adalah sesuatu yang berpribadi (persona). Bila kita menelaah secara kritis, maka justru konsep Tuhan persona-lah yang menimbulkan pertanyaan. Jikalau Tuhan masih memiliki pribadi, maka bagaimana mungkin hukumnya itu dijalankan secara adil? Ada agama tertentu yang mengajarkan bahwa bila kita memohon ampun atas segenap kesalahan yang pernah dilakukan, maka Tuhan akan mengampuni kita dan tidak jadi menjatuhkan hukumannya. Keyakinan semacam ini tentu saja bersifat kontradiktif dengan ketentuan Tuhan yang telah digariskan sebelumnya, yakni kejahatan akan diganjar dengan kejahatan. Adanya pembatalan hukuman ini dimungkinkan bila Tuhan dianggap bersifat persona. Agama lain lagi, bahkan mengajarkan berbagai upacara ritual untuk mengambil hati Tuhan, sehingga ia tidak marah lagi dan membatalkan hukuman yang hendak dijatuhkan. Buddhisme tidak mengenal konsep-konsep seperti di atas. Hukum karma berlaku mutlak dan tidak dapat disuap! Bila hukum karma dapat disuap, misalnya dengan berbagai upacara ritual, maka kasihan sekali orang yang miskin, karena mereka belum tentu sanggup membiayai penyelenggaraan upacara ritual tersebut. 3. Tuhan yang maha pengasih Agama samawi mengajarkan mengenai Tuhan maha pengasih yang "menurunkan hujan baik bagi orang jahat maupun orang baik." Konsep semacam ini terdapat dalam diri Sang Buddha, yang bahkan memiliki cakupan kasih jauh lebih luas. Kasih itu tidak hanya ditujukan bagi umat manusia saja, melainkan setiap makhluk, termasuk setan dan penghuni neraka. Sang Buddha di dalam Sutra Saddharmapundarika menyatakan bahwa ia adalah Bapak bagi Semua Makhluk. Jadi personifikasi sifat-sifat Tuhan itu ada dalam diri Sang Buddha, karena Buddhisme mengajarkan untuk mewujudkan kualitas Tuhan dalam diri umat manusia. Sekarang kita hendak mengajukan pertanyaan bagi konsep Tuhan maha pengasih. Bila benar Tuhan adalah maha pengasih, mengapa ia menciptakan neraka sebagai hukuman bagi kejahatan? Tuhan adalah juga bersifat maha kuasa, sehingga ia seharusnya sanggup mencegah agar para pelaku kejahatan tidak dilahirkan di muka bumi ini, sehingga ia tidak perlu melemparkan mereka ke dalam neraka kelak. Selain itu, jika benar Tuhan maha pengasih, maka mengapa penderitaan di muka bumi ini? Lebih jauh lagi, fakta membuktikan bahwa kitab-kitab suci agama tertentu mengandung kekejaman serta menganjurkan genosida. Nah, kita boleh merenungkan apakah benar Tuhan maha pengasih yang mengajarkan semua itu? 4. Tuhan yang maha mengetahui Tuhan sanggup mengetahui segalanya (omniscience), karenanya ia disebut maha tahu. Ternyata Buddha juga disebut maha tahu (sarvajnana) dan selain itu salah satu gelar Buddha adalah Pengenal Segenap Alam (lokavidu). Hanya saja ada perbedaan konsep maha tahu dalam Buddhisme dan agama samawi. Konsep maha tahu samawi adalah Tuhan mengetahui segalanya sepanjang waktu mulai dari masa lampau yang tak terhingga hingga masa depan yang tak terhingga pula. Semuanya telah berada dalam benak Tuhan kapanpun juga, termasuk sejarah alam semesta. Tuhan sudah mengetahui apa yang terjadi 1 detik, 1 menit, 1 hari, 1 tahun, 1 abad, atau bahkan jutaan tahun yang akan datang. Konsep maha tahu dalam Buddhisme berbeda dengan konsep di atas. Kemaha-tahuan dalam Buddhisme justru berarti mengetahui "apa yang mungkin diketahui dan tidak mungkin diketahui." Menurut ilmu fisika kuantum, tidak semua hal dapat diketahui dengan pasti (ingat Prinsip Ketidakpastian Heisenberg), karena banyaknya faktor dinamis yang berinteraksi satu sama lain. Kita mustahil untuk mengetahui semuanya dan hanya dapat mengungkapkan atau memprediksikan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi secara parsial saja. Jadi tidak ada peristiwa yang dapat diramalkan pasti terjadi secara 100 %, karena alam semesta bersifat dinamis. Apa yang Buddha dapat ramal atau prediksikan adalah pencapaian Kebuddhaan seorang Bodhisatta pada masa mendatang yang disebut vekkarana (Sanskrit: vyakarana). Jika demikian, apakah Tuhan samawi lebih hebat dibandingkan Buddha, karena sanggup mengetahui segalanya hanya dalam satu kilasan pikiran saja? Tunggu dulu! Baiklah kita akan melakukan telaah secara kritis. Salah seorang penganut agama samawi pernah mengatakan bahwa Tuhan mengetahui penderitaan kita dan ikut bersedih karenanya, sebaliknya bila kita berbahagia Tuhan juga ikut berbahagia. Sekilas memang hal ini nampak "mengharukan." Tuhan sungguh peduli dan mengetahui perasaan kita. Tetapi marilah kira renungkan lebih jauh. Dalam saat yang bersamaan, tentu ada orang yang merasa senang dan juga sedih. Jika demikian, apakah Tuhan akan merasa senang dan sedih sekaligus? Ini tentu mustahil Kedua, jika Tuhan maha mengetahui, maka ia tentunya sudah mengetahui bahwa malaikat akan berkhianat dan menjadi iblis. Mengapa ia membiarkannya begitu saja? 5. Tuhan sebagai pencipta segalanya Tuhan sebagai pencipta segalanya secara jujur tidak dikenal dalam Buddhisme. Ada kisah mengenai Brahma Baka dalam Buddhisme yang secara salah menganggap dirinya sebagai pencipta alam semesta. Namun setelah dijelaskan oleh Buddha maka ia jadi mengetahui duduk perkaranya. Buddhisme juga mengenal adanya dewa-dewa tertentu yang bila menginginkan sesuatu tinggal memikirkannya saja, maka benda itu akan terwujud dengan sendirinya. Namun tentu saja benda yang dapat "diciptakan" sang dewa itu juga terbatas, jadi ia tidaklah maha pencipta. Menariknya ini juga mirip dengan konsep Tuhan dalam agama samawi yang tinggal berfirman saja, maka segala sesuatu itu jadi. Konsep maha pencipta ini juga menimbulkan masalah. Bila Tuhan sanggup menciptakan segalanya, maka apakah Tuhan juga sanggup menciptakan makhluk lain yang lebih berkuasa dibandingkan dirinya? Ataukah Tuhan sanggup menciptakan batu yang sedemikian beratnya sehingga Tuhan sendiri tidak sanggup mengangkatnya? Demikianlah, mau tidak mau para penganut agama samawi harus mengakui keterbatasan Tuhannya dalam hal penciptaan. 6. Tuhan yang mewujudkan dirinya dalam bentuk hukum-hukum alam Pergerakan planet-planet, bintang, dan lain sebagainya, merupakan wujud dari hukum yang mengatur alam semesta. Hukum ini oleh sebagian kalangan diidentikkan dengan Tuhan sendiri. Buddhisme juga mengenal hukum semacam ini, yang disebut dengan niyama. Secara rinci ada lima niyama yang dikenal dalam Buddhisme, salah satunya adalah kamma niyama atau hukum karma. Tetapi kita tidak akan membahasnya secara terperinci di sini. Cukuplah dikatakan bahwa niyama adalah hukum alam yang mengatur semesta ini, dan ia bersifat impersona (tidak berpribadi) Para penganut agama samawi ada yang berargumen, bahwa adanya niyama ini menunjukkan adanya Tuhan yang menciptakan segalanya. Tetapi marilah kita sanggah hal ini secara kritis: Premis 1: Segala sesuatu harus ada penciptanya Premis 2: Niyama juga harus ada penciptanya Kesimpulan: Niyama diciptakan Tuhan. Tetapi kita boleh mengajukan pertanyaan balik, bahwa jika segala sesuatu harus ada penciptanya, maka Tuhan juga harus ada penciptanya. Bila Tuhan diizinkan untuk tidak memiliki pencipta, maka demikian pula halnya dengan niyama. 7. Tuhan yang tidak dilahirkan, tidak tercipta, dan lain sebagainya Ini mengacu pada nibanna sebagaimana yang dicantumkan dalam kitab Udana dan buku karya Bapak C. Wowor, jadi tidak perlu dibahas lagi di sini. Tetapi secara ringkas nibanna bersifat impersona dan boleh dianggap sebagai suatu "tujuan." 8. Rangkuman Agar memperoleh perbandingan yang lebih jelas, maka persamaan dan perbedaan konsep Tuhan dalam Buddhisme akan disajikan dalam bentuk tabel. [Tabel hanya ada dalam naskah asli.] Karena browser dalam milis tidak dapat menerima bentuk tabel, maka perbandingan di atas akan disajikan sebagai berikut: Tuhan sebagai penguasa atau raja Persamaan : Memiliki kekuasaan yang besar, dan berkedudukan lebih tinggi dibandingkan para makhluk. Dapat menolong umat manusia Perbedaan: -Buddha: Tidak kekal, tidak maha kuasa, masih terikat oleh hukum karma -Samawi: Maha kuasa, kekal, dan lain sebagainya Tuhan sebagai hakim yang adil Persamaan: Orang yang bajik akan memperoleh kebajikan dan orang yang jahat akan memperoleh kemalangan. Perbedaan: -Buddha: hukum karma atau kamma niyama yang impersona -Samawi: persona atau memiliki pribadi Tuhan yang maha pengasih Persamaan: Kasih tanpa pandang bulu Perbedaan: -Buddha: Lebih luas, kepada semua makhluk, termasuk binatang, setan, dan makhluk penghuni neraka. Belas kasih murni tanpa syarat dan tanpa pengecualian -Samawi: Hanya kepada umat manusia. Terkadang masih dinodai oleh kebencian terhadap orang yang melanggar perintahnya atau melawan bangsa/ ras pilihannya. Tuhan yang maha mengetahui Persamaan: Sama-sama menggunakan istilah maha tahu Perbedaan: -Buddha: Mengetahui batasan apa yang dapat diketahui dan tidak dapat diketahui -Samawi: Semuanya telah berada dalam benak Tuhan kapanpun juga, termasuk sejarah alam semesta. Tuhan sudah mengetahui apa yang terjadi 1 detik, 1 menit, 1 hari, 1 tahun, 1 abad, atau bahkan jutaan tahun yang akan datang Tuhan sebagai pencipta segalanya Persamaan: Adanya suatu makhluk yang dapat menciptakan sesuatu dengan pikirannya saja. Perbedaan: -Buddha: Adanya suatu makhluk yang dapat menciptakan sesuatu dengan pikirannya saja -Samawi: Tuhan yang menciptakan segalanya. Tuhan yang mewujudkan dirinya dalam bentuk hukum-hukum alam Persamaan: Adanya hukum yang mengatur alam semesta Perbedaan: -Buddha: niyama, bersifat impersona, tidak ada yang menciptakan -Samawi: Ada yang menganggapnya sebagai Tuhan sendiri, atau diciptakan Tuhan yang bersifat persona Tuhan yang tidak dilahirkan, tidak tercipta, dan lain sebagainya Persamaan: Definisi hampir sama Perbedaan: -Buddha: Nibanna, impersona, suatu tujuan -Samawi: Tuhan, suatu makhluk persona. 9. Kesimpulan Demikianlah berdasarkan pembahasan kita kali ini, maka kita menyadari bahwa terdapat beberapa aspek-aspek dalam Buddhisme yang dapat disepadankan dengan konsep ketuhanan samawi, meskipun tidak sepenuhnya identik. Dengan demikian, diharapkan agar karangan ini dapat menjawab apakah Buddhisme merupakan agama atheistik atau bukan. Namun, kita patut mengakui bahwa ini semua berpulang kembali pada apakah definisi atheistik itu. Bila atheistik didefinisikan sebagai tidak mempunyai Tuhan sebagaimana halnya agama samawi, maka tentu saja Buddhisme dapat digolongkan sebagai atheis. Menilik persamaan2 di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa agama samawi menggolongkan beberapa aspek-aspek alam yang berbeda-beda menjadi satu sebutan saja, yakni Tuhan. Berbeda dengan agama samawi, Buddhisme mengajarkan untuk merealisasi Tuhan, yakni dalam wujud menampilkan "sifat-sifat Tuhan" (cinta kasih, keadilan, kebajikan, dan lain sebagainya) dalam hidup kesehariannya. Demikianlah karya tulis ini. Semoga dapat mendatangkan manfaat bagi para pembaca. Salam metta, Tan, 3-11-2005, jam 22.20 Catatan: Karya tulis ini dimaksudkan hanya BAGI KALANGAN SENDIRI dan tidak dimaksudkan untuk menyerang agama lainnya. Karya ini hanya ditujukan untuk meningkatkan pemahaman umat Buddha terhadap keyakinannya sendiri. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Click here to rescue a little child from a life of poverty. http://us.click.yahoo.com/rAWabB/gYnLAA/i1hLAA/UlWolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya ** ** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh ** ** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian ** ** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
