Sumbernya disini  Pak

http://metrotvnews.com/index.php/metromain/newsprograms/2010/02/04/4576/176/E-Voting

Sebenarnya dan sebenar-benarnya, titik kritis awal seperti selama ini terlihat bermasalah besar adalah di KTP dan proses pemilihan. Disain e-voting Jembrana menjaga dan menyelesaikan ke dua hal itu dengan mendisain dua entry point dalam disain touch screen e-voting system.

Pertama entry point untuk data pemilih yang akan memilih berdasar KTP yang data base nya sudah ada di gudang penyimpanan data sebagai basis data atau DPT sehingga fungsinya adalah verifikasi. Dari point ini banyak disian informasi yang isa dihasilkan sesuai dengan keinginan pengguna. Ke dua entry point untuk memilih berdasar data calon yang dipilih. Disinilah sebenarnya titik kritis itu. Bila disian system tahap ini beres, seperti telah ditunjukkan oleh Bupati Jembrana. Ingat bahwa technology itu value free namun begitu attach to human maka menjadi tidak value free lagi. Rekayasa sosial yang dilakukan oleh Bupati Jembrana, termasuk kepemimpinannya perlu juga dipelajari sebagai key success factor. Jadi, kloning itu bukan hanya teknologi tetapi juga manajemen teknologinya.

Bila system di tingkat Kabupaten beres seperti ditunjukkan oleh praktek Jembrana, maka sebenarnya masalah hingga ke pusat adalah tinggal kompilasi data dan network communication. Namun, ini akan menjadi masalah besar bila harus diadopsi oleh disain sistem pemilu yang sudah ada. Bandingkan disain edp system pemilu 2004 dan 2009.

Membereskan masala KTP di tingkat paling bawah adalah lebih mudah dibanding membereskannya secara terpusat. Ini juga sesuai dengan axioma organisasi sejak jaman Moses. Keragaman Indonesia bukan hanya sebagai negara kepulauan tetapi juga aneka keragaman lingkungan sosial, budaya, ekonomi, dan politik telah membuahkan keunikan yang tidak bisa diseragamkan seperti konsep UN yang akhinya "kebentus ing tawang kesandhung ing roto" atau terantuk udara dan tersandung jalan rata. Bhinneka Tunggal Ika itu tidak perlu dipersempit pemahamannya hanya pada keragaman budaya, tetapi juga lingkungan demografinya, alam. ekonomi, dan politiknya. Bupati Jembrana, Gorontalo, Jombang, Sukoharjo, Wakatobi paling tidak telah memberi contoh. Jangan "mbeguguk mutho waton" atau tidak bergeming meskipun tahu kalau tidak benar dan tidak tepat. Daerah makmur dan sejahtera maka negara dan bangsa akan makmur dan sejahtera pula.


Terbayang kalau transportasi yang menuju Jakarta terputus, misal Krakatau meletus .



salam





On 2/12/2010 10:18 AM, S Roestam wrote:
Pak AS dan Kawan2 Yth,

Contoh keberhasilan Kabupaten Jembraan ini tolong disebarluaskan ke
seluruh Indonesa, agar masayarakat sadar, ada pilihan yg jauh lebih
baik dengan e-Voting, tanpa biaya yang mahal, waktu yg lama, dan
kesalahan2 yang sulit untuk dilacak.

Semoga ini menggugah KPU, Pemerintah dan DPR untuk menerapkannya,
untuk menghemat biaya dan waktu secara nasional.

Wassalam,
S Roestam
http://wartamastel.blogspot.com
----------------------------------

----Original Message----
From: [email protected]
Date: 11/02/2010 20:00
To:<[email protected]>,<[email protected]>
Subj: [Telematika] e-voting, tamparan dari Jembrana Bali

_e-voting, sebuah tamparan dari Bali

_Melihat e-voting di Jembrana Bali dan kesederhanaan
penuturna dari Bupati Bali dan staf IT yang telihat,
terbayang bagaimana kesajahaan itu membuahkan
hasil yang ternilai.

Bayangkan, lompatan tak terhingga, sebuha quantum leap
bagi masyarakat pedesaan yang bahwakan pegang compi
saja belum pernah namun didisain sebuah sistem yang
memungkinkan siapa saja bisa melakukan proses voting
secara elektronik secara sederhana. Bahkan dilakukan oleh
orang-orang tua yang belum tentu bisa membaca dan
menulis.

Proses e-voting sederhana sekali, yaitu hanya terjadi dua
tahap, yaitu verifikasi data dan voting dengan touch screen
pada foto yang dipilih.

Di verifikasi data, ini smartnya, KTP tinggal diletakkan diatas
scanner da kemudian layar akan menjelaskan foto dan nama
pemilih. Proses verifikasi ini saya yakin juga didata buka hanya
untuk mengetahui keabsahan calon pemilih, juga untuk mendeteksi
pengguinaan KTP yang tidak dikeluarkan atau dididsain oleh
Kabupaten Jembrana untuk tujuan e-voting dengan menggunakan
mungkin bar-code.

Ini tentu saja bukan hanya akan membuat perkembangan bisa
diikuti secara real time, tetapi juga verifikasi pemilih yang berhak.
Hal ini dimungkinkan oleh  wireless comunication system antara
pusat-pusat informasi diseluruh kabupaten Jembrana untuk
berkomunikasi data.  Disain program saya yakin telah
meperhitungkan satu KTP satu suara sehingga kehawatiran KTP
atau pemilh double pasti tidak dimungkinkan tanpa proses yang
sulit karena tidak mungkin seorang pemilih yang telah memilih
di sebua tempat kemudian pergi ke tampat lain untuk memilih lagi.
Petugas yang mengawasi dari jauh proses verifikasi yang dilakukan
sendiri oleh pemilih pasti tahu atau system pasti sudah di disain
untuk
memberi tahu.

Disain touch screen sungguh sebuah inovasi techno-sosial yang luar
biasa. Sangat efektif dan efisien untuk menyelesaikan masalah
IT devide bagi masyarakat Jembrana yang sebagian lanjut usia,
tidak berpendidikan, sudah lanjut usia, namun berhak atas pemilihan.

Teknologi touch screen dengan foto dan KTP scanner sungguh sebuah
disain system yang pantas diacungi jempol. Apalagi, pemilu kemarin
kita baru saja disuguhi tontonan tidak mutu dengan amburadulnya
DPT dan DPS. Bahkan , berita menyesakkan dada, pilkada di Jatim
pun, yang pemilu lalu bermasalah dengan DPT hingga Kapoldanya
dipanggil ke Mabes seperti penjelasan Deni Indrayana staf khusus
Presiden dalam acara debat di TV One, masih bermasalah dengan
DPS. Seakan tidak berkaca kepada pengalaman masa lalau dan
tidak ada proses pembelajaran kepada pengalaman.

Kabupaten Jembrana dengan segala kesederhaan dan kerendahan
hatinya, termasuk keterbatasan anggarannya, mampu membuat
sebuah terobosan luar biasa bagi kemajuan negeri yang layak
diangkat di tingkat dunia. Seakan menyindir pemilu yang
menghabiskan dana puluhan trilyun namun IT nya tampak segan
untuk unjuk diri.

Apa yang terjadi dengan kabupaten Jembrana seakan menampar
realita bernegara. e-voting tidak diakui karena peraturan mengatur
pemilu yang sah adalah di coblos atau di conrtreng.......;
gedubraaakak !!!

Indonesiana !!! segala hal bisa terjadi

Maka, jangan pernah berpikir atau melihat daerah hanya dari Jakarta.
Lihatlah pula kiprah para  BUPATI BUKAN BIASA di Kick Andy dan
bandingkan dengan keangkuhan serta kejumawaaan para penguasa
negeri seakan merekalh yang paling ............ hingga sebuah kemajuan
peradaban pun tidak diakui dan harus melalui Judicial Review.








------------------------------------

http://www.egovindonesia.com/Yahoo! Groups Links





No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 9.0.733 / Virus Database: 271.1.1/2683 - Release Date: 02/12/10 
14:35:00


Kirim email ke