On 2/15/2010 7:30 AM, Onno W. Purbo wrote:

Semoga para penyelenggara negara di Jakarta
mau lebih membuka matanya, terjun ke lapangan,
mau ngemper, tidur di lantai ..

Bangsa ini sangat besar&  dahsyat
jika kita tahu potensi yang ada sebenarnya



Benar Pak Onno,

Saya baru saja ketemu dengan beberapa guru Matematika yang sedang
punya kerja bersama secara volunter dan bukan atas dasar PROYEK.
Salah satu yang menarik adalah bahwa logika matematika dibentuk sejak
kecil mulai dari rumah dan lingkungan bukan melalui simbol matematik
tetapi melalui permainan dimana logika matematika bekerja. Menurut
mereka, ini sangat fundamental yang jkhas mengindonesia namun mulai
hilang seiring dengan laju pembangunan ekonomi bangsa. Ini sebuah
taruhan masa depan kata mereka.

Mereka adalah dosen ilmu Matematika dari berbagai perguruan tinggi
negeri dan swasta terkemuka di Indoensia yang merasa resah dengan
perkembangan pendidikan matematika di Indonesia.  Menurut mereka ada
 yang perlu dilihat kembali pendidkan matematika yang sedang berjalan.
Maka, salah satunya adalah dosen dosen statistik saya,  yang satu dekade
yang lalu telah mulai mengajar di SD dan hasil dari apa yang telah mereka
lakukan  sudah mulai bisa diamati untuk dibedakan dari model pemerintah
melalui kurikulum nasional dan standard buku nasional sebagai controlable
variable.

Mereka sangat low profile meskipun berasal dari berbagai perti terkemuka dan
doktor matematikanya dari remarkable university. Mereka bekerja secara
network dengan model kurang lebih secara Pak Onno lakukan , namun hasilnya
tidak jelek meskipun tanpa hura-hura dan protokoler. "Sepi ing pamrih rame ing
gawe" atau jauh dari motif pribadi yang negatif dan bekerja nyata.

Mereka saat ini sedang menyiapkan pelatihan untuk guru-guru
matematika Asean di Jogja. Yang menggelikan, sekarang ini banyak yang
terkagum-kagum dengan negara tetangga yang dulu tahun 1970 awal
mendatangkan guru-guru dari Indonesia untuk mengajar. Seakan tidak percaya
atas kedahsyatan dan kehebatan anak bangsa :'(     Rumput tetangga memang
lebih hijau. :-D Sehingga memunculkan sikap panik karena merasa tertinggal
dan kemudian mencari jalan keluar melalui UN dan berbagai standard yang
sifatnya internasional termasuk SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL
yang mencerminkan jati diri sebuah bangsa yang tidak percaya diri.

Kirim email ke