On 2/13/2010 6:04 PM, Chandra Yulistia wrote:
[del]

Download informasinya disini :
http://www.jembranakab.go.id/main.php?module=e-voting

terima kasih banyak
Silahkan dibaca-baca catatan dari "man behind the scene" di Jembrana :
http://guslong.wordpress.com/2009/12/18/mengupas-e-voting-di-jembrana/

sekali lagi terima kasih
Berita terakhir di fb-nya beliau "Pemilihan ketua OSIS di SMPN 1 Negara
menggunakan E-Voting" :
http://www.facebook.com/album.php?aid=2042045&id=1601358390&ref=mf

segudang terima asih
Namun, "tidak ada gading yang tidak retak" ...

Beberapa catatan dibawah ini sama sekali tidak ada tujuan negatif dan
saya yakin tidak akan dapat mengurangi sedikit pencapaian para pejuang
egov di Jembrana :

1. Keberhasilan Jembrana sangat ditentukan oleh "tangan besi" sang
Bupati dan kerja keras tim TI mereka, dan tentunya semangat warganya utk
maju. Lalu bagaimana nanti jika sang Bupati lengser ? Sudah siapkah
jajaran aparat disana utk meneruskan semangat beliau ?

Ini menarik untuk ditanggapi :-D

Maka, itu salah satu alasan saya menulis setelah melihat kisahnya di Metro. Agar masyarakat Jembrana mempuinyai rasa kebanggan yang akhinrya akan mempersatukan mereka untuk menjaga kelangsungan apa yang baik dan telah dibuat. Jangan sampai epidemi atau virus pejabat mewabnah di Jembrana sehingga nanti kalau Bupatinya ganti maka apa yang telah dilakukan diganti semua.

Secara empirik saya mempunyai pengalaman bagaimana pemimpin menghancurkan sebuah sistem yang menonjol di organisasi namun karena terlalu menonjol dan konon katanya sulit dikontrol maka sistem tersebut dihancurkan dengan mengganti adminnya. Yang lebih parah anggota organisasi yang telah merasakan manfaatnya selama bertahun-tahun juga cuma diam saja. Ini salah satu argumentasi saya mengapa perlu membangkitakan kebanggaan masyarajkat dan generasi muda Jembrana, secara khusus, agar mereka tidak menghancurkan apa yang telah mereka buat bersama.

2. Websitenya :), akhirnya diupdate juga :). Sebagai jendela dunia utk
"mengintip" Jembrana, websitenya sempat "tak terurus", namun kini sudah
sangat diurus, walaupun masih tersisa "kemiripan" dgn situs pemda lain,
yaitu "begitu banyak foto Bupati" disana, saya pikir ini blog beliau :)

Kritik ini bagus agar kultus individu itu berkurang.
3. Saya mencoba mencari-cari peraturan (Perda, KepBup, InBup, dll) yang
terkait dgn TI, sayang hanya menemukan 1-2 peraturan saja. Lalu apa
dasar hukum e-voting dan berbagai solusi TI yg skrg dijalankan disana ?
Kenapa tidak ada Perda tentang TI ya ? ... ada apa dgn DPRD nya ???

Ini juga sudah saya singgung dalam tulisan saya. Namun, itulah fakta yang harus dihadapi oleh para tarnsitional leaders. Lihat pula Bukan Bupati Biasa Kick Andy. http://kickandy.com/video/2010/01/22/1777/1/1/1/BUKAN-BUPATI-BIASA

4. Dari semua link di situs ada satu link yang mati yaitu "Legislatif",
lagi-lagi muncul pertanyaan ... ada apa dgn DPRD nya Jembrana ???

Semoga ini dibaca pula oleh para anggota DPRD Jembrana

Sekedar sumbang saran ... mudah-mudahan kita tetap ingat bahwa berbagai
layanan publik di Jembrana dilakukan oleh lembaga formal pemerintahan,
dan rasanya agak "deg-degan" jika tidak peraturan yg mendasarinya ...

Maka, perlu berpikir yang mengindonesia Mas.
Jangan berpikir menjakarta. Ketika ke Jogja, saya mendapat
kesan bahwa rombongan Kominfo dari Jakarta superficial.
Maka, mereka terkejut etika mendengar bahwa di Jogja
sudah ada digital school yang bahkan sudah membangun
SMS gateway dimana system presensi siswa mengunakan
kartu pelajar ber barcode yang mereka scan pada saat masuk.
Bila ada siswa yang tidak masuk maka sistem segera mengirm
smns kepada ortunya bahwa anak mereka tidak masuk sekolah.
Sistem ini sekaligus menjadi feed back bagi ortu agar kalau ada
hal khusus yang membuat anak mereka tidak masuk memberi tahu.

Indonesia itu terbentang dari Sabang sampai Merauke,
dari India sampai Australia atau selebar Seattle ke Washington
Belasan ribu pula dengan disparitas luar biasa sehingga
sebenarnya tidak bisa ditala oleh tiga standard gradasi
kelulusan UN itu. Demikian pula dengan diparitas lingkungannya.
e-voting Jembrana bagaimanapun juga menyentak dan demikian
pula dengan Bupati mobile Gorontalo. Saya percaya bahwa sebenarnya
sudah banyak mereka yang bergelut dengan perkembangan IT
untuk memenuhi kebutuhan pemerintah daerahnya, salah satunya
adalah Mas Ibenk. Saya pikir ratusan seperti beliau yang berserakan
dan ingin maju. Namun, masalah lingkungan dan birokrasi organisasi
sering membuat mereka tidak berdaya. Arsip diskusi di e-gove
menjelaskan hal ini.

Keberhasilan pembangunan bangsa ini salah satunya semakin
banyaknya mereka yang berpendidikan menjadi Transitional
Leaders. Ini tentu beda dengan jaman Orba. Kalau melihat
dialog interaktif di berbagai stasiun TV, rasa hati ini semakin
bangga. Hampir disegala bidang sosial, teknologi, hukum,
budaya muncul tokoh-tokoh baru yang luar biasa dan selam
ini tidak dikenal. Paling tidak semakin melihat bahwa demikian
banyak ahli IT termasuk ahli IT forensik serta Mobile Computing
dan bahkan Pervasive Computing.  sehinga bukan hanya
KRMT RS saja sepertyi yang selama ini dikenal.

Jadi, sudah selayaknya dan sepantasnya kalau media center
yaitu media menjadi pusat informasi melalui perkembangan
teknologi digital sehingga kemajuan bangsa ini semakin merata
dan dirasakan manfaatnya oleh semua. Jaman kooptasi itu sudah
berlalu. Publik yang sekarang menjadi pusat dan media adalah
penyambung suaranya.  Misal Kick Andy dalam Peradilan
Sesat http://kickandy.com/video/2010/02/12/1793/1/1/1/PERADILAN-SESAT-




Ada beberapa hal lain yg kritikal bagi kelangsungan e-gov disana ...
tapi lain kali sajalah, rekan-rekan mungkin sdh mulai emosi dgn komentar
saya ... :)



Kalau anda tertarik bagi kemajuan e-gov disana dan umunnya di Indonesia agar bisa menjadi pembelajaran dan bangsa ini menjadi a learning nation, maka mestinya and membuka itu dengan niat baik. Tetapi kalau takut terjerat UU ITE yan monggo saja he... he...



Kirim email ke