Salam hormat saya utk Pak Sis dan Pak Ono serta rekan-rekan semua, Kalau di lembaga pendidikan sih beda ya Pak (menurut saya), sebagai lembaga inkubator SDM, sudah "seharusnya" lembaga pendidikan mau dan mampu mengelaborasi TI dan tidak terikat birokrasi. Dan kalau di daerah memang terpaksa harus lebih ulet ya Pak :) karena jauh dari sumber "kenyamanan" di Jakarta ...
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi beberapa perguruan tinggi untuk menilai seberapa "smart" mereka menggunakan sumber daya TIK utk seluruh kegiatan disana, mulai dari penerimaan mahasiswa baru sampai pengelolaan alumni. Dari fakta-fakta yg kita lihat dilapangan, saya setuju banget bahwa rekan-rekan di daerah lebih ulet dan bersedia berjuang apa adanya, tanpa sibuk berkeluh kesah soal keterbatasan. Begitu juga dengan berbagai perusahaan daerah, ada bank daerah yg IT-nya hanya dikelola oleh 4 org dgn pendidikan pas-pasan, tapi lumayan bertahan sampai hari ini utk memenuhi berbagai ketentuan Peraturan BI. Ada satu hal yg mungkin saya perlu konfirmasi ke rekan-rekan semua, banyak korporasi di daerah yg merasa kesulitan mencari SDM TIK dan hrs "mengimpor" dari Jakarta. Apa benar begitu ? Apa benar di daerah (luar Jawa) begitu sulitnya menjalin kerjasama dgn pusat kompetensi TIK spt Perguruan Tinggi ? Apa yang dicapai Jembrana memang tamparan bagi semua pihak yg kerap berkeluh tentang keterbatasan TI mereka ... termasuk saya sendiri :) Ambil contoh JID, estimasi saya seharusnya skrg sdh 100% KTP di sana sdh menggunakan chip, dan sdh bisa digunakan utk berobat di RS, serta dipakai absensi dll di sekolah dan di kantor pemerintah. Coba kita lihat ke Departemen di Pusat ? Dgn pegawai yg cuma beberapa ribu atau belas ribu saja mereka belum beres-beres soal manajemen identitas ini, ditambah lagi Kartu Pegawai Negeri yg katanya sdh ada chipnya tapi belum tahu mau dipakai buat apa. Ttg eKTP ada satu berita yg perlu dikonfirmasi lagi, kabarnya chip di Jembrana yg 16kb hrs diubah agar sama dgn eKTP Nasional yg cuma 4kb ??? Apa benar begitu ??? Kalau benar maka ini contoh yg pas utk kondisi yg Pak Sis sebut dgn "memandang rendah kapasitas daerah". Salam hormat, CY On 15/02/2010 7:30, Onno W. Purbo wrote: > > On Mon, 15 Feb 2010, [email protected] wrote: > >> Butir saya bukan disana Mas, >> tetapi di semangat memandang rendah kapasitas daerah >> dan ini in line dengan thread "e-voting, sebuah tamparan dari Jembrana" > > Betul Pak Sis .. > Pengalaman saya berkelana ke banyak daerah di Indonesia > orang di daerah lebih haus ilmu, lebih struggle > lebih ulet untuk maju di bandingkan di Jakarta& kota besar .. > > Saya sampai terharu melihat guru-guru SMA di Weleri > selama dua hari kita workshop untuk belajar Distro SchoolOnffLine > yang saya buat ... sampai kita tidur di lantai sekolah > karena sudah jam 12 malem waktu itu .. > > Hal yang sama di Lamongan saya ke Pesantren SPMAA di sana > sampai tidur di lantai .. > > Semoga para penyelenggara negara di Jakarta > mau lebih membuka matanya, terjun ke lapangan, > mau ngemper, tidur di lantai .. > > Bangsa ini sangat besar& dahsyat > jika kita tahu potensi yang ada sebenarnya
