Dear all,
Sekedar memberikan komentar tentang jembrana yang secara sengaja saya
berkunjung kesana.
Kemampuan utk melakukan sosialisasi pengembangan teknologi yang di
lakukan oleh jajaran pemerintah dgn tim teknisnya di bawah Mas Agus
memang harus di angkat dgn 10 jari. Penetrasi yg menembus ada
birokrasi dgn landasan yg kuat membuat keyakinan saya dalam melihat
secara langsung pelaksanaan e-voting dan layanan lainnya.
Di sisi lain, ketakutan akan re-generasi program dan layanan yg
sekarang berjalan ini ketika sang "leader" berganti sepertinya mungkin
akan menipis, karena secara langsung masyarakat telah merasakan
manfaatnya di hampir semua lapisan. Walaupun tidak lama saya
berdiskusi mulai dari kepala desa hingga pak Bupati langsung terlihat
bagaimana mereka mengamini sistem ini walaupun butuh perbaikan di
beberapa tempat.
Belum lagi bicara tentang bagaimana proses layanan mulai dari
pengurusan ijin hingga sistem e-ktp yang hampir bisa di katakan
mengikuti sistem social number yg ada di luar negeri. Salut melihat
langsung dgn keterbatasan infrastruktur (noc) yg demikian sederhana
mampu utk di optimalisasi.
Keterbukaan sang pimpinan (bupati) terlihat dalam beberapa kali saya
bercakap dgn beliau walaupun seperti di sebutkan sebagai "tangan
besi". Kekaguman ini saya sampaikan lantaran telah telah mengunjungi
berbagai kabupaten di Indonesia.
Sekali lagi memang tidak ada gading yang tak retak tetapi perlu di
ingatkan bahwa retakpun itu masih sebuah gading dan harganya masih
tetap mahal. Salut buat Jembrana.
Salam
Bona Simanjuntak
Dari Dinginnya Kota Malang..
Terkirim dari Berry Hitam via operator telekomunikasi. Email lain:
[email protected]. Terima kasih
------------------------------------------------------------------------
*From: * "[email protected]" <[email protected]>
*Date: *Sun, 14 Feb 2010 17:56:14 +0700
*To: *<[email protected]>; <[email protected]>
*Subject: *[Telematika] Re: [eGovIndonesia] e-voting, tamparan dari
Jembrana Bali
On 2/13/2010 6:04 PM, Chandra Yulistia wrote:
[del]
Download informasinya disini :
http://www.jembranakab.go.id/main.php?module=e-voting
terima kasih banyak
Silahkan dibaca-baca catatan dari "man behind the scene" di Jembrana :
http://guslong.wordpress.com/2009/12/18/mengupas-e-voting-di-jembrana/
sekali lagi terima kasih
Berita terakhir di fb-nya beliau "Pemilihan ketua OSIS di SMPN 1 Negara
menggunakan E-Voting" :
http://www.facebook.com/album.php?aid=2042045&id=1601358390&ref=mf
segudang terima asih
Namun, "tidak ada gading yang tidak retak" ...
Beberapa catatan dibawah ini sama sekali tidak ada tujuan negatif dan
saya yakin tidak akan dapat mengurangi sedikit pencapaian para pejuang
egov di Jembrana :
1. Keberhasilan Jembrana sangat ditentukan oleh "tangan besi" sang
Bupati dan kerja keras tim TI mereka, dan tentunya semangat warganya utk
maju. Lalu bagaimana nanti jika sang Bupati lengser ? Sudah siapkah
jajaran aparat disana utk meneruskan semangat beliau ?
Ini menarik untuk ditanggapi :-D
Maka, itu salah satu alasan saya menulis setelah melihat kisahnya di
Metro. Agar masyarakat Jembrana mempuinyai rasa kebanggan yang
akhinrya akan mempersatukan mereka untuk menjaga kelangsungan apa yang
baik dan telah dibuat. Jangan sampai epidemi atau virus pejabat
mewabnah di Jembrana sehingga nanti kalau Bupatinya ganti maka apa
yang telah dilakukan diganti semua.
Secara empirik saya mempunyai pengalaman bagaimana pemimpin
menghancurkan sebuah sistem yang menonjol di organisasi namun karena
terlalu menonjol dan konon katanya sulit dikontrol maka sistem
tersebut dihancurkan dengan mengganti adminnya. Yang lebih parah
anggota organisasi yang telah merasakan manfaatnya selama
bertahun-tahun juga cuma diam saja. Ini salah satu argumentasi saya
mengapa perlu membangkitakan kebanggaan masyarajkat dan generasi muda
Jembrana, secara khusus, agar mereka tidak menghancurkan apa yang
telah mereka buat bersama.
2. Websitenya :), akhirnya diupdate juga :). Sebagai jendela dunia utk
"mengintip" Jembrana, websitenya sempat "tak terurus", namun kini sudah
sangat diurus, walaupun masih tersisa "kemiripan" dgn situs pemda lain,
yaitu "begitu banyak foto Bupati" disana, saya pikir ini blog beliau :)
Kritik ini bagus agar kultus individu itu berkurang.
3. Saya mencoba mencari-cari peraturan (Perda, KepBup, InBup, dll) yang
terkait dgn TI, sayang hanya menemukan 1-2 peraturan saja. Lalu apa
dasar hukum e-voting dan berbagai solusi TI yg skrg dijalankan disana ?
Kenapa tidak ada Perda tentang TI ya ? ... ada apa dgn DPRD nya ???
Ini juga sudah saya singgung dalam tulisan saya. Namun, itulah fakta
yang harus dihadapi oleh para tarnsitional leaders. Lihat pula Bukan
Bupati Biasa Kick Andy.
http://kickandy.com/video/2010/01/22/1777/1/1/1/BUKAN-BUPATI-BIASA
4. Dari semua link di situs ada satu link yang mati yaitu "Legislatif",
lagi-lagi muncul pertanyaan ... ada apa dgn DPRD nya Jembrana ???
Semoga ini dibaca pula oleh para anggota DPRD Jembrana
Sekedar sumbang saran ... mudah-mudahan kita tetap ingat bahwa berbagai
layanan publik di Jembrana dilakukan oleh lembaga formal pemerintahan,
dan rasanya agak "deg-degan" jika tidak peraturan yg mendasarinya ...
Maka, perlu berpikir yang mengindonesia Mas.
Jangan berpikir menjakarta. Ketika ke Jogja, saya mendapat
kesan bahwa rombongan Kominfo dari Jakarta superficial.
Maka, mereka terkejut etika mendengar bahwa di Jogja
sudah ada digital school yang bahkan sudah membangun
SMS gateway dimana system presensi siswa mengunakan
kartu pelajar ber barcode yang mereka scan pada saat masuk.
Bila ada siswa yang tidak masuk maka sistem segera mengirm
smns kepada ortunya bahwa anak mereka tidak masuk sekolah.
Sistem ini sekaligus menjadi feed back bagi ortu agar kalau ada
hal khusus yang membuat anak mereka tidak masuk memberi tahu.
Indonesia itu terbentang dari Sabang sampai Merauke,
dari India sampai Australia atau selebar Seattle ke Washington
Belasan ribu pula dengan disparitas luar biasa sehingga
sebenarnya tidak bisa ditala oleh tiga standard gradasi
kelulusan UN itu. Demikian pula dengan diparitas lingkungannya.
e-voting Jembrana bagaimanapun juga menyentak dan demikian
pula dengan Bupati mobile Gorontalo. Saya percaya bahwa sebenarnya
sudah banyak mereka yang bergelut dengan perkembangan IT
untuk memenuhi kebutuhan pemerintah daerahnya, salah satunya
adalah Mas Ibenk. Saya pikir ratusan seperti beliau yang berserakan
dan ingin maju. Namun, masalah lingkungan dan birokrasi organisasi
sering membuat mereka tidak berdaya. Arsip diskusi di e-gove
menjelaskan hal ini.
Keberhasilan pembangunan bangsa ini salah satunya semakin
banyaknya mereka yang berpendidikan menjadi Transitional
Leaders. Ini tentu beda dengan jaman Orba. Kalau melihat
dialog interaktif di berbagai stasiun TV, rasa hati ini semakin
bangga. Hampir disegala bidang sosial, teknologi, hukum,
budaya muncul tokoh-tokoh baru yang luar biasa dan selam
ini tidak dikenal. Paling tidak semakin melihat bahwa demikian
banyak ahli IT termasuk ahli IT forensik serta Mobile Computing
dan bahkan Pervasive Computing. sehinga bukan hanya
KRMT RS saja sepertyi yang selama ini dikenal.
Jadi, sudah selayaknya dan sepantasnya kalau media center
yaitu media menjadi pusat informasi melalui perkembangan
teknologi digital sehingga kemajuan bangsa ini semakin merata
dan dirasakan manfaatnya oleh semua. Jaman kooptasi itu sudah
berlalu. Publik yang sekarang menjadi pusat dan media adalah
penyambung suaranya. Misal Kick Andy dalam Peradilan
Sesat http://kickandy.com/video/2010/02/12/1793/1/1/1/PERADILAN-SESAT-
Ada beberapa hal lain yg kritikal bagi kelangsungan e-gov disana ...
tapi lain kali sajalah, rekan-rekan mungkin sdh mulai emosi dgn komentar
saya ... :)
Kalau anda tertarik bagi kemajuan e-gov disana dan umunnya di
Indonesia agar bisa menjadi pembelajaran dan bangsa ini menjadi a
learning nation, maka mestinya and membuka itu dengan niat baik.
Tetapi kalau takut terjerat UU ITE yan monggo saja he... he...
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - www.avg.com
Version: 9.0.733 / Virus Database: 271.1.1/2687 - Release Date: 02/14/10
14:35:00