Mengganti nama sebuah brand berisiko 50% gagal atau 50% menanjak. Sebenarnya nama syariah juga gak apa-apa, jangan ikut arus islamophobia. Apalagi dalam sistem nasional perbankan telah diluncurkan dan digencarkan kampanye IB (islamic bank). Kalau banyak orang belum bergabung dan menyimpan “kapitalnya” di bank syariah, menurut keyakinan saya pasti karena belum memahami bank syariah seperti yang Bapak sampaikan. Ini ibarat ROKOK. Sudah diberitahu (empiris berdasar penelitian kesehatan yang ilmiah) bahwa merokok itu menyebabkan …berbagai penyakit…. eee.. berapa juta orang yang gak peduli gak mau tahu? Kalau ditengok pakai bahasa dalam Alqur’an, afalaa yatafakkaruun (Apakah gak bisa berpikir?). Kita tidak boleh putus asa, kita harus terus ikut menyampaikan berita bahwa RIBA bank konvensional telah dihukumkan HARAM oleh ahlinya (MUI) karena sudah ada bank syariah. salam, faisol
--- On Wed, 9/10/08, Ahmad Ifham <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Ahmad Ifham <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [ekonomi-syariah] Bank Syariah Masih Gak Laku To: [email protected] Date: Wednesday, September 10, 2008, 3:27 AM Sekedar share, Bank Syariah merupakan sistem luhur, adil, dan sudah barang tentu menguntungkan. Kendala serta kelemahan di sana sini juga masih dianggap wajar. Di Indonesia sendiri, perbankan syariah pernah mengalami puncak tumbuh kembang yang sangat pesat. Namun, saat ini mulai tumbuh melambat. Tampaknya tumbuh kembang pesat bank syariah semata bukan karena permintaan pasar mayoritas. Tentu, itu semua terjadi tak lepas dari positioning bank syariah sebagai bank yang sesuai syariah, bank yang tidak memberlakukan riba, serta sebuah sistem yang halal. Yup! Istilah/kata “syariah” itu sendiri juga udah identik dengan sesuatu yang religius, berafiliasi dengan agama tertentu (Islam). Sifatnya yang eksklusif masihlah gak bisa ketinggalan. Bahkan yang masih jadi ironi, bank syariah masih gak laku di kalangan umat Islam Indonesia . So, jika bank syariah pengen inklusif, bisa “dipakai” oleh semua dan ”segera” menasional serta meng-Indonesia, penggunaan istilah bank syariah perlu diganti dengan “bank adil” atau “bank bagi hasil” misalnya. Nah! Itu juga lebih sulit, kecuali jika ada semacam revolusi dalam sistem perbankan syariah. Tampaknya penggunaan istilah (baca: positioning sebagai) bank syariah tetep lebih nyaman terdengar dan diterima di hati penggiat dan penggemarnya. Jika bank syariah pengen merebut pasar mayoritas, maka upaya lebih keras lagi yang harus dilakukan dengan mengkomunikasikan bank syariah sesuai bahasa pasar mayoritas, bukan semata semacam bahasa ilmuwan, akademisi, dan praktisi. Perlu upaya menyampaikan edukasi kepada masyarakat dengan bahasa yang ringan, biasa-biasa saja dan “tidak terkesan” menggurui. Lebih banyak lagi perlu melibatkan emosi “awam” mereka. Pintu sudah terbuka lebar. Dan upaya itu belum bisa optimal jika dari segi produk dan layanan, belum seunggul bank konvensional yang udah terlanjur sangat mapan itu. Mari terus berjuang, bersama! Regards, Ahmad Ifham www.bankbagihasil. wordpress. com
