Jangan-jangan persoalannya: positioningnya ingin sebagai bank SYARIAH, tapi 
prakteknya tidak terlalu SYARIAH. Akhirnya, masyarakat melihatnya sebagai SAMA 
SAJA. Walhasil, tidak menjadi alternatif!

Differentiate or Die kata Jack Trout.

Yuni Prihadi Utomo
blog: xprihadime.wordpress.com


--- On Wed, 9/10/08, Ahmad Ifham <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> From: Ahmad Ifham <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [ekonomi-syariah] Bank Syariah Masih Gak Laku
> To: [email protected]
> Date: Wednesday, September 10, 2008, 12:27 AM
> Sekedar share,
> Bank Syariah merupakan sistem luhur, adil, dan sudah barang
> tentu menguntungkan. Kendala serta kelemahan di sana sini
> juga masih dianggap wajar. Di Indonesia sendiri, perbankan
> syariah pernah mengalami puncak tumbuh kembang yang sangat
> pesat. Namun, saat ini mulai tumbuh melambat. Tampaknya
> tumbuh kembang pesat bank syariah semata bukan karena
> permintaan pasar mayoritas.
> Tentu, itu semua terjadi tak lepas dari positioning bank
> syariah sebagai bank yang sesuai syariah, bank yang tidak
> memberlakukan riba, serta sebuah sistem yang halal. Yup!
> Istilah/kata “syariah” itu sendiri juga udah identik
> dengan sesuatu yang religius, berafiliasi dengan agama
> tertentu (Islam). Sifatnya yang eksklusif masihlah gak bisa
> ketinggalan. Bahkan yang masih jadi ironi, bank syariah
> masih gak laku di kalangan umat Islam Indonesia.
> So, jika bank syariah pengen inklusif, bisa “dipakai”
> oleh semua dan ”segera” menasional serta meng-Indonesia,
> penggunaan istilah bank syariah perlu diganti dengan “bank
> adil” atau “bank bagi hasil” misalnya. Nah! Itu juga
> lebih sulit, kecuali jika ada semacam revolusi dalam sistem
> perbankan syariah.
> Tampaknya penggunaan istilah (baca: positioning sebagai)
> bank syariah tetep lebih nyaman terdengar dan diterima di
> hati penggiat dan penggemarnya. Jika bank syariah pengen
> merebut pasar mayoritas, maka upaya lebih keras lagi yang
> harus dilakukan dengan mengkomunikasikan bank syariah sesuai
> bahasa pasar mayoritas, bukan semata semacam bahasa ilmuwan,
> akademisi, dan praktisi. Perlu upaya menyampaikan edukasi
> kepada masyarakat dengan bahasa yang ringan, biasa-biasa
> saja dan “tidak terkesan” menggurui. Lebih banyak lagi
> perlu melibatkan emosi “awam” mereka. Pintu sudah
> terbuka lebar.
> Dan upaya itu belum bisa optimal jika dari segi produk dan
> layanan, belum seunggul bank konvensional yang udah
> terlanjur sangat mapan itu. Mari terus berjuang, bersama!
> Regards,
> Ahmad Ifham
> www.bankbagihasil.wordpress.com


      

Kirim email ke