Dear All, Dengan begitu, perbankan syariah harus koreksi diri, sampe2 Sekretariat Negara aja gak tahu dasar Undang-undangnya, juga pejabat asbun karena pengalaman pribadinya terhadap bank syariah. Pasti ada cara yang tidak tepat atau tidak optimal yang dilakukan oleh bank syariah sehingga terjadi hal-hal seperti itu. Berarti bank syariah masih (dianggap) kurang menarik, kurang unggul. Regards, Ahmad Ifham www.bankbagihasil.wordpress.com
--- On Tue, 9/16/08, Aak Surahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Aak Surahman <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Re: [ekonomi-syariah] Bank Syariah Masih Gak Laku To: [email protected] Date: Tuesday, September 16, 2008, 9:25 AM Maksudnya tindakan komprehensip seperti bagaimana? DI Malaysia, hampir seluruh pejabat, baik Melayu maupun CIna atau India, rata-rata fasih menjelaskan tentang bank Islam. Makanya tidak heran jika perbankan Islamnya maju. Di Indonesia, sekretariat negara aja masih nanya, perbankan syariah itu dasar undang-undangnya apa? (Ke laut aja pak! .... ). Ada teman yang cerita, Wapres Jusup Kalla kapok selalu bicara negatif tentang bank syariah. Yang diceritakan selalu kejelekan bank syariah. Padahal sebagai pejabat negara mestinya tidak kampanye negatif terhadap perkembangan bisnis suatu sektor. Apalagi ini karena didasarkan pengalaman pribadinya. (dasar asbun) Makanya kalau lagi hingar bingar kampanye pemilu, jangan terlena. Mending panggil calon-calon presiden-wapres untuk bicara tentang ekonomi-perbankan syariah. Lalu minta mereka menandatangani kontrak sosial, mau mengembangkan ekonomi syariah. Jika tidak mau, nggak usah dipilih. Kalau tidak ada yang mau, golput aja. Nggak dosa koq. Sejak jaman reformasi, nggak ada presiden di Indonesia ini yang peduli bank syariah. Kalaupun ada cuma hiasan bibir aja. --- On Sun, 9/14/08, Agus Herry <agus.herry.s@ gmail.com> wrote: From: Agus Herry <agus.herry.s@ gmail.com> Subject: Re: [ekonomi-syariah] Bank Syariah Masih Gak Laku To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com Date: Sunday, September 14, 2008, 9:09 AM Urun Sharing ( Dari Sisi Pandang Yang Lain ) : Terlepas dr penamaan apakah Bank Syariah (BS) atau Bank Bagi Hasil, yang jelas masyarakat pengguna bank syariah lebih melihat pada mutu pro- duk & layanan BS sebagaimana disebutkan pada alinea terakhir Bapak. Pengalaman istri saya wkt buka rekening tabungan di sebuah BS, petugas yg melayani tidak bisa menjawab lsg atas sebuah pertanyaan sederhana : "Berapa limit maksimum penarikan lewat ATM "? si petugas mesti bertanya dulu ke seniornya... Bisa dibayangkan jika yg membuka rekening tsb kurang memiliki rasa ingin turut serta memajukan atau setidaknya mendukung kehadiran BS... Mengapa hal spt itu terjadi ? Bank Konvensional ( BK ) Vs Bank Syariah ( BS ) : Sudah menjadi pengetahuan bersama & hrs diakui, secara umum SDM BK lbh baik dlm arti kualitas (peformance di bid perbankan ) dr SDM BS. Pertanyaannya mengapa SDM BK lbh bagus? selain system yg sdh mapan sebagaimana disebutkan dlm tulisan Bp Ahmad Ifham, juga para karyawan BK yg sebagian besar umat Islam tsb, sdh terlanjur merasa NYAMAN.... Sehingga yg ada dalam fikiran sdr2 kita tsb : untuk apa lagi pindah & turut memperkokoh BS ? Loh, kan gaji sbg karyawan di BK, KOTOR/ HARAM....? Keberadaan LAZ, turut melanggengkan Bank Konvensional (BK)?: Dari "pengamatan" scr pribadi wkt saya msh bekerja sbg karyawan BK, banyak karyawan ( sdr-sdr kita tsb ) yg berpendapat sbb : 1. Kalau uang gaji kita2 ini haram, mengapa LAZ memungut zakatnya ? saya yakin, gaji kita2 TIDAK HARAM...so, tdk masalah kerja di BK. 2. Pendapat kedua, pegawai yg menyadari bahwa Gajinya KOTOR krn bersumber dr RIBA....tapi berpendapat : KOTORan tsb sudah DIBERSIHKAN melalui cara dg Membayar 2,5% Per Bulan..... sbg Zakat Profesi..... ( LAZ lbh menyerupai/dianggap sbg fasilitas "Money Laundry" lah, shg mrk akan terbebas dr hisab di yaumil mashar nanti..... ) 3. Pegawai yg lain lagi, menunjuk kpd operasional Mesjid yg ada di gdg BK tsb. Kalau uang/gaji kita KOTOR/HARAM, mengapa mesjid mengedarkan kotak amal setidaknya setiap shalat Jumat ? lalu Ustadz/Penceramah tsb makan uang kotor/haram dong...? Perlu Kerjasama Komprehensif Untuk Mensosialisasikan BS. Dari apa yg saya sampaikan di atas ( "pengamatan" di atas saya lakukan scr pribadi & Lisan, tdk gunakan survey tertulis dg metode yg macam2 ).. Saya pribadi berpendapat : "keberadaan LAZ di sebuah BK perlu diper- timbangkan kembali atau ditinjau ulang keberadaannya" ....krn ternyata ke- hadiran LAZ membuat karyawan yg sebgn besar muslim tsb merasa "NYAMAN".... utk tetap bekerja di BK...... Maksud saya dipertimbangkan kembali adalah : Setidaknya, lbg zakat nasional d.h.i BAZNAS perlu mempertimbangkan kembali seandainya ada kerjasama yg terjalin bersama LAZ-LAZ tsb...... ( bagaimanapun juga LAZ tsb didirikan oleh karyawan BK, yg tentu krg pas bila minta utk DITIADAKAN. Yg mungkin adalah, memutus BAZNAS sbg lbg yg "memayungi" LAZ tsb, shg saudara2 kita yg jadi Operator/Amil di LAZ tsb akan mempertimbangkan kembali Aktivitas mereka.....) Diharapkan dengan tiadanya LAZ yg "nongkrong" di BK, akan menya- darkan Saudara2 kita yg bekerja di BK, bhw ummat tidak membutuhkan dana zakat yg bersumber dr gaji mereka selaku karyawan BK....... ( Satu dan lain hal, pendapat Sdr2 kita yg bergerak sbg Operator LAZ/ amil ada yg berpendapat bhw : gaji karyawan BK bisa dipungut zakatnya asal alokasi/penyalurann ya, bukan utk konsumtif, msh perlu dipertanyakan. Setahu saya, blm pernah ada ayat/hadist yg menyatakan bhw kebutuhan non konsumtif ( pembangunan jalan, fasum dll ) boleh dr dana haram.) Demikian pula halnya dg Ustadz yg memberikan ceramah di mesjid2 yg ada di BK. Sudah waktunya lembaga2 Islam memikirkan utk memberi biaya Transportasi bagi da'i / ustadz yg memberikan ceramah di mesjid2 tsb, shg tidak membutuhkan dana transport yg dikasih oleh Tamir Mesjid dimana dana bersumber dr sumbangan/kencleng para pegawai BK... Dengan dilakukannya hal-hal tsb, diharapkan Saudara2 kita yg bekerja di BK akan TERSADARKAN dan segera Hijrah ke Bank Syariah.... yg pada gilirannya hijrahnya mereka mudah2an akan dapat meningkatkan performance BS shg ckp mampu bersaing dg BK. Keberadaan LAZ di BK, seolah menunjukkan ketidak tegasan para peme- gang kewenangan agama dalam mensikapi RIBA.. HARAM atau HALAL? Sekali lagi, ini hanya Pendapat Saya Pribadi dr hasil bincang2 dg bbrp rekan pegawai yg hingga saat ini mrk msh BETAH mengabdi di BK. Semoga bisa menjadi bahan masukan, dr sisi yg lain.... (Dibutuhkan Tindakan yg Komprehensif. ......... ......) Wassalam, Agus Herry S ( Mantan Kary BK - BUMN ) ----- Original Message ----- From: Ahmad Ifham To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com Sent: Wednesday, September 10, 2008 2:27 PM Subject: [ekonomi-syariah] Bank Syariah Masih Gak Laku Sekedar share, Bank Syariah merupakan sistem luhur, adil, dan sudah barang tentu menguntungkan. Kendala serta kelemahan di sana sini juga masih dianggap wajar. Di Indonesia sendiri, perbankan syariah pernah mengalami puncak tumbuh kembang yang sangat pesat. Namun, saat ini mulai tumbuh melambat. Tampaknya tumbuh kembang pesat bank syariah semata bukan karena permintaan pasar mayoritas. Tentu, itu semua terjadi tak lepas dari positioning bank syariah sebagai bank yang sesuai syariah, bank yang tidak memberlakukan riba, serta sebuah sistem yang halal. Yup! Istilah/kata “syariah” itu sendiri juga udah identik dengan sesuatu yang religius, berafiliasi dengan agama tertentu (Islam). Sifatnya yang eksklusif masihlah gak bisa ketinggalan. Bahkan yang masih jadi ironi, bank syariah masih gak laku di kalangan umat Islam Indonesia . So, jika bank syariah pengen inklusif, bisa “dipakai” oleh semua dan ”segera” menasional serta meng-Indonesia, penggunaan istilah bank syariah perlu diganti dengan “bank adil” atau “bank bagi hasil” misalnya. Nah! Itu juga lebih sulit, kecuali jika ada semacam revolusi dalam sistem perbankan syariah. Tampaknya penggunaan istilah (baca: positioning sebagai) bank syariah tetep lebih nyaman terdengar dan diterima di hati penggiat dan penggemarnya. Jika bank syariah pengen merebut pasar mayoritas, maka upaya lebih keras lagi yang harus dilakukan dengan mengkomunikasikan bank syariah sesuai bahasa pasar mayoritas, bukan semata semacam bahasa ilmuwan, akademisi, dan praktisi. Perlu upaya menyampaikan edukasi kepada masyarakat dengan bahasa yang ringan, biasa-biasa saja dan “tidak terkesan” menggurui. Lebih banyak lagi perlu melibatkan emosi “awam” mereka. Pintu sudah terbuka lebar. Dan upaya itu belum bisa optimal jika dari segi produk dan layanan, belum seunggul bank konvensional yang udah terlanjur sangat mapan itu. Mari terus berjuang, bersama! Regards, Ahmad Ifham www.bankbagihasil. wordpress. com
