Klo untuk penggiat ekonomi syariah mah saya yakin insya Allah sepahit apapun 
perjuangan, tetap akan dilakukan.
 
Kebetulan sebagian besar masyarakat Indonesia yang muslim ini memiliki 
keyakinan bahwa untuk sistem perbankan, mereka akan memilih yang lebih nyaman, 
mudah dan menguntungkan dibandingkan karena alasan Iman, keyakinan, halal, 
barakah.
 
Kita bisa lihat bagaimana Rasulullah dulu berdakwah terlebih dahulu dengan 
peduli (care) kepada umatnya, bahkan di akhir hayatnya pun Rasulullah masih 
memikirkan umatnya dengan ungkapan yang terkenal ”ummatii, ummatii, ummatii.” 
Ekonomi syariah hanya bisa mengulangi kejayaan dakwahnya Rasulullah apabila 
kita semua peduli terhadap masyarakat di mana kita hidup. ”People don’t care 
how much you know, until they know how much you care.” (Kutipan Speech DSN-MUI 
pada ISE 2006).
 
Regards,
Ahmad Al Ifham
www.bankbagihasil.wordpress.com 


--- On Wed, 9/17/08, Ali Murtado <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Ali Murtado <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [ekonomi-syariah] Bank Syariah Masih Gak Laku
To: [email protected]
Date: Wednesday, September 17, 2008, 11:06 AM










Assalamu'alaikum Wr. Wb.
 
Menurut saya seharusnya bank syariah lebih fokus pada nasabah-nasabah 
emosionalnya, yang memilih bank syariah karena keyakinan mereka. Sebab bila 
ingin bersaing dengan bank konvensional, lebih-lebih bila menggunakan 
indikator-indikator mereka, maka sama saja bank syariah mengabaikan sebagian 
dari tujuan mulianya. 

Seperti indokator banyaknya dana simpanan, apakah itu mewakili besarnya 
barokah? Indikator besar-kecilnya perbandingan margin kredit, bila bunga kredit 
BK lebih kecil dari margin kredit BS, apakah berarti kredit BK lebih dirahmati 
Allah dari kredit BS? Maaf, bila berzina itu lebih mudah dan murah dari pada 
menikah dan membiayai anak istri, apakah berzina itu merupakan kemudahan dari 
Allah?

Hemat saya yang fair adalah membandingkan performa bank syariah dengan sesama 
bank syariah lainnya, karena baik BK maupun BS mempunyai keunikan masing2 yang 
tidak bisa dipukul rata begitu saja. Begitu...

Jadi sebenarnya tergantung kita juga ya pak, apakah akan menjadi orang yang 
sama-sama berjuang, atau cukup menunggu sampai keadaan nyaman dan 
menguntungkan, baru ikut bergabung. Memang biasanya dimana-mana yang mau ikut 
berjuang itu sedikit pak, karena perlu keyakinan yang kuat dan pengorbanan.

Sekedar pemikiran pribadi, terima kasih bila dimuat. 


Wallahu'alam


Ali Murtado


"Sesungguhnya orang yang memakan harta riba itu seperti berzina dengan ibu 
kandungnya sendiri" -alHadits-


--- Pada Sen, 15/9/08, A Nizami <[EMAIL PROTECTED] com> menulis:

Dari: A Nizami <[EMAIL PROTECTED] com>
Topik: Re: [ekonomi-syariah] Bank Syariah Masih Gak Laku
Kepada: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com
Tanggal: Senin, 15 September, 2008, 12:31 PM




Mau sekedar memberi masukan dan mudah2an tidak terjadi
perdebatan yang tidak perlu.

Insya Allah jika BS itu lebih baik, misalnya biaya
administrasi/ keuntungan/ tambahan pinjaman lebih ringan
dari BK, masyarakat termasuk non Muslim akan memilih
BS.

Mungkin ada pegiat Ekonomi Syariah yang berkilah
karena BS masih baru, tentu belum bisa seefisien BK
yang sudah lama ada. Oleh karena itu memang
pembangunan BS harusnya dilakukan untuk jangka
panjang. Minimal 4 tahun. Jika performance bagus dan
lebih ringan, tanpa didukung fatwa haram BK oleh MUI
pun masyarakat pasti lebih memilih yang lebih baik.
Sehingga dalam 4 tahun jumlah deposan/peminjam BS
lebih besar daripada BK.

Sebaliknya jika lebih buruk atau pinjamannya lebih
berat daripada BK meski embel2nya syar'i, masyarakat
akan enggan meminjam di BS meski dibantu fatwa Haram
MUI.

Mungkin ada baiknya jika pegiat ES membandingkan
kredit antara BS dgn BK sehingga jelas mana yang lebih
ringan.

Misalnya untuk kredit rumah Rp 100 juta dalam waktu 10
tahun antara di BS dgn BK. Bandingkan:
1. Agunan
2. DP
3. Cicilan per bulan
4. Total uang yang harus dikembalikan.

Insya Allah Islam adalah solusi terbaik. Insya Allah
juga solusi Islam itu memudahkan. Bukan memberatkan.

Wassalam

--- Agus Herry <agus.herry.s@ gmail.com> menulis:

> 
> Urun Sharing ( Dari Sisi Pandang Yang Lain ) :
> 
> Terlepas dr penamaan apakah Bank Syariah (BS) atau
> Bank Bagi Hasil, 
> yang jelas masyarakat pengguna bank syariah lebih
> melihat pada mutu pro-
> duk & layanan BS sebagaimana disebutkan pada alinea
> terakhir Bapak. 
> 
> Pengalaman istri saya wkt buka rekening tabungan di
> sebuah BS, petugas 
> yg melayani tidak bisa menjawab lsg atas sebuah
> pertanyaan sederhana : 
> "Berapa limit maksimum penarikan lewat ATM "? si
> petugas mesti bertanya 
> dulu ke seniornya...
> 
> Bisa dibayangkan jika yg membuka rekening tsb kurang
> memiliki rasa ingin 
> turut serta memajukan atau setidaknya mendukung
> kehadiran BS...
> 
> Mengapa hal spt itu terjadi ?
> 
> 
> Bank Konvensional ( BK ) Vs Bank Syariah ( BS ) :
> 
> Sudah menjadi pengetahuan bersama & hrs diakui,
> secara umum SDM BK
> lbh baik dlm arti kualitas (peformance di bid
> perbankan ) dr SDM BS.
> 
> Pertanyaannya mengapa SDM BK lbh bagus? selain
> system yg sdh mapan 
> sebagaimana disebutkan dlm tulisan Bp Ahmad Ifham,
> juga para karyawan 
> BK yg sebagian besar umat Islam tsb, sdh terlanjur
> merasa NYAMAN....
> 
> Sehingga yg ada dalam fikiran sdr2 kita tsb : untuk
> apa lagi pindah & turut 
> memperkokoh BS ?
> 
> Loh, kan gaji sbg karyawan di BK, KOTOR/ HARAM....?
> 
> 
> Keberadaan LAZ, turut melanggengkan Bank
> Konvensional (BK)?:
> 
> Dari "pengamatan" scr pribadi wkt saya msh bekerja
> sbg karyawan BK, 
> banyak karyawan ( sdr-sdr kita tsb ) yg berpendapat
> sbb :
> 
> 1. Kalau uang gaji kita2 ini haram, mengapa LAZ
> memungut zakatnya ?
> saya yakin, gaji kita2 TIDAK HARAM...so, tdk
> masalah kerja di BK.
> 
> 2. Pendapat kedua, pegawai yg menyadari bahwa
> Gajinya KOTOR krn 
> bersumber dr RIBA....tapi berpendapat : KOTORan
> tsb sudah 
> DIBERSIHKAN melalui cara dg Membayar 2,5% Per
> Bulan.....
> sbg Zakat Profesi..... 
> ( LAZ lbh menyerupai/dianggap sbg fasilitas
> "Money Laundry" lah, 
> shg mrk akan terbebas dr hisab di yaumil
> mashar nanti..... )
> 
> 3. Pegawai yg lain lagi, menunjuk kpd operasional
> Mesjid yg ada di gdg 
> BK tsb. Kalau uang/gaji kita KOTOR/HARAM,
> mengapa mesjid 
> mengedarkan kotak amal setidaknya setiap
> shalat Jumat ? 
> lalu Ustadz/Penceramah tsb makan uang
> kotor/haram dong...? 
> 
> 
> Perlu Kerjasama Komprehensif Untuk Mensosialisasikan
> BS.
> 
> Dari apa yg saya sampaikan di atas ( "pengamatan" di
> atas saya lakukan 
> scr pribadi & Lisan, tdk gunakan survey tertulis dg
> metode yg macam2 ).. 
> 
> Saya pribadi berpendapat : "keberadaan LAZ di sebuah
> BK perlu diper-
> timbangkan kembali atau ditinjau ulang
> keberadaannya" ....krn ternyata ke-
> hadiran LAZ membuat karyawan yg sebgn besar muslim
> tsb merasa 
> "NYAMAN".... utk tetap bekerja di BK......
> 
> Maksud saya dipertimbangkan kembali adalah :
> Setidaknya, lbg zakat 
> nasional d.h.i BAZNAS perlu mempertimbangkan kembali
> seandainya 
> ada kerjasama yg terjalin bersama LAZ-LAZ tsb......
> ( bagaimanapun juga LAZ tsb didirikan oleh karyawan
> BK, yg tentu krg 
> pas bila minta utk DITIADAKAN. Yg mungkin adalah,
> memutus 
> BAZNAS sbg lbg yg "memayungi" LAZ tsb, shg saudara2
> kita yg jadi
> Operator/Amil di LAZ tsb akan mempertimbangkan
> kembali Aktivitas 
> mereka.....)
> 
> Diharapkan dengan tiadanya LAZ yg "nongkrong" di BK,
> akan menya-
> darkan Saudara2 kita yg bekerja di BK, bhw ummat
> tidak membutuhkan
> dana zakat yg bersumber dr gaji mereka selaku
> karyawan BK.......
> ( Satu dan lain hal, pendapat Sdr2 kita yg bergerak
> sbg Operator LAZ/
> amil ada yg berpendapat bhw : gaji karyawan BK bisa
> dipungut zakatnya 
> asal alokasi/penyalurann ya, bukan utk konsumtif, msh
> perlu dipertanyakan.
> Setahu saya, blm pernah ada ayat/hadist yg
> menyatakan bhw kebutuhan
> non konsumtif ( pembangunan jalan, fasum dll ) boleh
> dr dana haram.)
> 
> Demikian pula halnya dg Ustadz yg memberikan ceramah
> di mesjid2 yg 
> ada di BK. Sudah waktunya lembaga2 Islam
> memikirkan utk memberi
> biaya Transportasi bagi da'i / ustadz yg memberikan
> ceramah di mesjid2
> tsb, shg tidak membutuhkan dana transport yg dikasih
> oleh Tamir Mesjid
> dimana dana bersumber dr sumbangan/kencleng para
> pegawai BK... 
> 
> Dengan dilakukannya hal-hal tsb, diharapkan Saudara2
> kita yg bekerja
> di BK akan TERSADARKAN dan segera Hijrah ke Bank
> Syariah....
> yg pada gilirannya hijrahnya mereka mudah2an akan
> dapat meningkatkan 
> performance BS shg ckp mampu bersaing dg BK. 
> 
> Keberadaan LAZ di BK, seolah menunjukkan ketidak
> tegasan para peme-
> gang kewenangan agama dalam mensikapi RIBA.. HARAM
> atau HALAL?
> 
> Sekali lagi, ini hanya Pendapat Saya Pribadi dr
> hasil bincang2 dg bbrp
> rekan pegawai yg hingga saat ini mrk msh BETAH
> mengabdi di BK.
> 
> Semoga bisa menjadi bahan masukan, dr sisi yg
> lain....
> (Dibutuhkan Tindakan yg
> Komprehensif. ......... ......)
> 
> 
> Wassalam,
> 
> Agus Herry S
> ( Mantan Kary BK - BUMN )
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: Ahmad Ifham 
> To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com 
> Sent: Wednesday, September 10, 2008 2:27 PM
> Subject: [ekonomi-syariah] Bank Syariah Masih Gak
> Laku
> 
> 
> 
> Sekedar share, 
> 
> Bank Syariah merupakan sistem luhur, adil,
> dan sudah barang tentu menguntungkan. Kendala serta
> kelemahan di sana sini juga masih dianggap wajar. Di
> Indonesia sendiri, perbankan syariah pernah
> mengalami puncak tumbuh kembang yang sangat pesat.
> Namun, saat ini mulai tumbuh melambat. Tampaknya
> tumbuh kembang pesat bank syariah semata bukan
> karena permintaan pasar mayoritas. 
> 
> Tentu, itu semua terjadi tak lepas dari
> positioning bank syariah sebagai bank yang sesuai
> syariah, bank yang tidak memberlakukan riba, serta
> sebuah sistem yang halal. Yup! Istilah/kata
> “syariah” itu sendiri juga udah identik dengan
> sesuatu yang religius, berafiliasi dengan agama
> tertentu (Islam). Sifatnya yang eksklusif masihlah
> gak bisa ketinggalan. Bahkan yang masih jadi ironi,
> bank syariah masih gak laku di kalangan umat Islam
> Indonesia. 
> 
> So, jika bank syariah pengen inklusif, bisa
> “dipakai” oleh semua dan ”segera” menasional
> serta meng-Indonesia, penggunaan istilah bank
> syariah perlu diganti dengan “bank adil” atau
> “bank bagi hasil” misalnya. Nah! Itu juga lebih
> sulit, kecuali jika ada semacam revolusi dalam
> sistem perbankan syariah. 
> 
> Tampaknya penggunaan istilah (baca:
> positioning sebagai) bank syariah tetep lebih nyaman
> terdengar dan diterima di hati penggiat dan
> penggemarnya. Jika bank syariah pengen merebut pasar
> mayoritas, maka upaya lebih keras lagi yang harus
> dilakukan dengan mengkomunikasikan bank syariah
> sesuai bahasa pasar mayoritas, bukan semata semacam
> bahasa ilmuwan, akademisi, dan praktisi. Perlu upaya
> menyampaikan edukasi kepada masyarakat dengan bahasa
> yang ringan, biasa-biasa saja dan “tidak
> terkesan” menggurui. Lebih banyak lagi perlu
> melibatkan emosi “awam” mereka. Pintu sudah
> terbuka lebar. 
> 
> Dan upaya itu belum bisa optimal jika dari
> segi produk dan layanan, belum seunggul bank
> konvensional yang udah terlanjur sangat mapan itu.
> Mari terus berjuang, bersama! 
> 
> Regards, 
> 
> Ahmad Ifham 
> 
> www.bankbagihasil. wordpress. com 
> 
> 
> 
> 
> 

===
Paket Umrah Mulai Rp 15,4 juta
Informasi selengkapnya ada di:
http://www.media- islam.or. id

Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://syiarislam. wordpress. com

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Dapatkan alamat Email baru Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ id/




Cari tahu ramalan bintang kamu - Yahoo! Indonesia Search.
 














      

Kirim email ke