Salaam'alaik. Kalo Nicholas Sarkozy dan Paus Benedictus XVI yang pemimpin dunia 
menjagokan ekonomi syariah sebagai alternatif ekonomi berikutnya, kenapa kita 
dengerin banget dan tersinggung banget dg kata2 dekan tsb? Yang kontribusinya 
sampai mana ybs? Ma laa yudroku kulluh laa yutroku kulluh everyone! Hope you 
all understand!

MGY
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "Edo Segara" <[email protected]>

Date: Wed, 27 May 2009 08:08:49 
To: <[email protected]>
Subject: [ekonomi-syariah] Re: PERNYATAAN DEKAN FE UI TTG EKONOMI SYARIAH 
BERBAU SARA


Pertama, saya ingin memberi masukan kepada Dekan FE UI Yth. tsb harus 
sekali-sekali magang di Bank Syariah, biar tau. Gak cuma mengkritik aja. 
Akademisi cuma bisa ngomong doang. Kedua, kalo saya c gak heran dengan Koran 
Tempo yang dipimpin Goenawan Muhamad ini mengangkat isu penolakan bank syariah, 
kebetulan ada kawan saya yang menjadi wartawan di Tempo. Namanya aja Muhamad 
tapi hatinya tidak seperti namanya. 

Salam,
Edo Segara
http://edosegara.blogspot.com

--- In [email protected], Faozan Amar <zanama...@...> wrote:
>
> Berikut saya sampaikan pernyataan Dekan FE UI tentang bisnis syariah di 
> Indonesia yang dimuat di Koran Tempo 25 Mei 2009.
> Menurut saya, pernyataannya sangat tendensius dan berbau SARA dan menimbulkan 
> conflik di kalangan umat Islam. Rasanya sebagai org terdidik kurang elok 
> kalau pernyataan menyakitkan sebagian umat.... Jadi kalu memang Mr. Fiz tdk 
> suka, ya sebaikanya amalkan hadits Nabi Muhammad SAW : Falyaqul khairan aw 
> yasmut : berkatalah yang baik atau diam. Apakah dia terlalu PD karena muda 
> sdh jadi dekan? Mohon komentar anggota milis
> 
> 
> 
> Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.
> JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi
> Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya
> ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--diKemasan Syariah Kurang Menarik
> Masyarakat Indonesia masih alergi dengan isu-isu sektarian.
> JAKARTA - Dekan Fakultas Ekonomi
> Universitas Indonesia Firmanzah berpendapat, masih belum bangkitnya
> ekonomi syariah--khususnya perbankan syariah--di Indonesia karena para
> pelaku bisnis syariah tidak mampu mengemas produk-produk syariah dengan
> menarik.
> "Wacananya selama ini kan hanya soal haram dan tidak haram saja," kata dia 
> dalam perbincangan dengan Tempo
> di kantornya, Rabu lalu. Karena itu, ia menyarankan agar pelaku bisnis
> syariah membuka diri, membuat ekonomi syariah menjadi lebih keren,
> bersahabat, dan tidak angker. Firmanzah juga mengingatkan, asosiasi 
> masyarakat terhadap
> bisnis syariah masih lekat dengan simbol-simbol seperti jenggot dan
> celana menggantung. Akhirnya pikiran yang muncul adalah bisnis yang
> seram. "Jadi, gimana mau ada yang datang ke bank syariah?
> Jangan-jangan nanti diceramahi," kata doktor bidang Strategi dan
> Manajemen Internasional dari University of Lille, Prancis, ini.
> Selain persepsi masyarakat yang keliru, Fiz menambahkan, masih
> banyak kendala lainnya yang membuat aset bank syariah jauh di bawah
> bank konvensional, termasuk regulasi, konsumen, dan budaya. "Ternyata
> masyarakat agak alergi dengan produk-produk yang berbau sektarian
> seperti Islam," ucapnya. Apalagi, meski bank syariah memiliki istilah dan 
> aturan main
> sendiri, benak konsumen masih belum lepas dari mekanisme di bank
> konvensional dalam membuat analisis investasi. Bahkan, dalam beberapa
> hal, mekanisme bagi hasil juga mengacu pada suku bunga.
> Bank Indonesia mengakui industri perbankan syariah tahun ini
> sulit meningkatkan persentase asetnya dari total aset perbankan
> nasional. Persoalannya adalah kurangnya tenaga profesional di bidang
> syariah. Saat ini aset bank syariah masih sebesar 2,2 persen dari total
> aset perbankan nasional.
> "Diharapkan tahun ini aset bank-bank syariah bisa mencapai 5
> persen," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono, Jumat
> lalu. Dia menjelaskan, pertumbuhan perbankan syariah selama tiga tahun
> terakhir sangat pesat. Namun, perbankan syariah masih kekurangan sumber
> daya manusia sekitar 15 ribu orang. EFRI RITONGA | ENDRI KURNIAWATI
>



Kirim email ke