Salam,

Untuk Pak Faishol, membaca tulisan Bapak, saya yakin Bapak telah lama menyadari 
fenomena biaya training yang mahal. Saya ingin bertanya apa yang sudah atau 
akan Bapak lakukan menyadari fenomena ini? Saya yakin, alangkah baiknya opini 
ditunjang dengan tindakan yang nyata, jadi kita disini tidak hanya sekedar 
bertukar opini,bersilang pendapat, namun mampu melahirkan tindakan yang nyata 
sebagai solusi sebuah masalah, dalam kaitannya dengan hal ini adalah bagaimana 
membuat seminar yang bermutu namun terjangkau. Saya yakin solusi yang 
ditawarkan dapat menjadi masukan bagi pengurus MES, sehingga opini tidak hanya 
sekedar tulisan, keluhan, teriakan,  dan berhenti di mailing list, namun bisa 
melahirkan sebab tindakan yang nyata.

Bagi pengurus MES, saya yakin ini sebuah tantangan juga, bagaiman membuat 
seminar ekonomi syariah Islam dengan biaya terjangkau bagi seluruh lapisan 
ekonomi masyarakat, tanpa mengurangi mutu dan tentunya tetp memiliki prestige

Salam,

Wina





________________________________
From: AYeeP <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, June 22, 2010 1:05:48 AM
Subject: Re: [ekonomi-syariah] Mengapa biaya pelatihan amat mahal?

  
Salam,

Terimakasih yang mendalam atas tanggapan teman-teman
Dan mohon maaf atas logika saya yang berantakan.

Saya ingin menyusun kembali yang berantakan tersebut secara umum,

Masalah pertama,
Sadar atau tidak sadar, tren biaya training yang mahal adalah bagian dari 
sakitnya
sebuah sistem pendidikan kita. Realita pendidikan ini -setuju atau tidak-
adalah pantulan yang berasal dari cahaya pikir kapitalis (atau apapun
istilahnya) yang pada intinya memasukkan pendidikan sebagai komoditi yang dalam
nalar generasi saat ini diterima begitu saja sebagai sesuatu yang layak jual.
Sehinga tercipta image : "wajar" bahwa pendidikan bermutu adalah
mahal. Sehingga -diakui atau tidak- pendidikan bermutu adalah "milik"
mereka yang ber-uang. Implikasinya menjadi : "wajar" orang kaya lebih
berkualitas dari pada orang miskin.
Jangan katakan bahwa tidak ada orang miskin yang belajar. Jangan katakan tidak
ada sekolah murah bermutu. Sebab yang dikemukakan di sini adalah fakta dominan
dan persepsi umum. Bukan kasus pengecualian yang jumlahnya amat sedikit
sehingga tidak sesuai dengan metode pengambilan kesimpulan.
Isu training yang mahal yang diangkat pada dasarnya adalah salah satu fenomena
dari fakta umum dunia pendidikan.
Saya sama sekali tidak bicara biaya pendidikan yang gratis tis (tanpa biaya
sama sekali dari pihak manapun) yang menurut saya sendiri sungguh tidak logis.
Bahkan saya tidak mendukung itu sama sekali. Masalah urgensi zaad (sangu/biaya) 
belajar adalah fakta yang tidak bisa ditolak. Saya yakin sebagian yang
ada di sini masih ingat senandung alaa lan tanaalul 'ilma illaa bi sittatin ... 
Isu kita adalah kemahalannnya.

Pendidikan adalah bagian dari jaminan sosial yang seharusnya menjadi
tanggungjawab masyarakat -jika pemerintah enggan menyebutnya sebagai
tanggungjawabnya- demi terciptanya generasi atau bangsa (muslim) yang hebat.
Contoh Umar putra Abdul Aziz yang pernah dikemukakan di sini sebelumnya adalah
untuk mengingatkan bahwa kepentingan mendasar suatu bangsa seharusnya tidak
dibebani kepada masyarakat itu sendiri, apalagi yang tidak mampu.
Faktanya ketidakmampuan memenuhi sangu ini adalah problem
umum masyarakat kita, masyarakat Indonesia. Untuk itu kita
tidak perlu mencari sample dari pedalaman Kalimantan. Wong dekat jakarta saja
sudah banyak sample.
Kecuali jika anda mengatakan "salahmu sendiri kenapa kere!". Namun
-pasti- ungkapan itu bukan solusi.

Masalahnya adalah cara berpikir kita -sebutlah cara pikir kapitalis- yang
terlanjur menilai wajar jika lembaga pendidikan adalah lembaga bisnis.
Kalau sudah bicara kepentingan uang dan bisnis maka siapapun dia, termasuk saya
-biasanya- akan berusaha membela diri, mencari pembenaran atau legitimasi. Pada
saat itulah -sadar atau tidak sadar-  kita
lepas dari prinsip “pendidikan bermutu adalah hak setiap orang, bukan hak
segelintir orang”.
Realitanya sebaliknya (yaitu pendidikan bermutu untuk segelintir orang berduit)
malah yang nge-tren, bahkan dalam institusi yang membawa bendera agama rahmatan
lil 'alamiin (sebuah agama untuk kesejahateraan semesta) sekalipun.
Jika dikatakan mau bagaimana lagi? Wong kondisinya sudah begini? Jawabanya,
perlu penggugahan demi kesadaran untuk kembali pada rel yang sebenarnya.
Tergugah (meskipun tidak bisa mewujudkan) lebih baik karena -paling tidak-
tergugah membuat seseorang untuk tidak ikut larut atau malah ikut-ikutan
mendukung secara nyata fenomena (meresahkan) di atas.
Saya melihat di sini bahwa unsur prestige layak
dikambinghitamkan. Prestige sering sekali bertengkar dengan kesederhanaan.
Kesederhanaan -yang merupakan ciri konsumsi / belanja islami- kini bagaikan 
kisah-kisah
HC Andersen, kecuali jika mau dianggap rendah, gak level dan kelas kacangan. 
Jadilah
prestige menjadi ukuran ideal dengan segala fasilitasnya (yang sebenarnya tidak 
esensi). Prestige naik harga naik karena fasilitas naik. Kenapa fasilitas gak 
dikurangi saja sedemkian rupa sehingga harga murah dan banyak yang bisa ikut 
merasakan. Tetapi iya juga ya, kalau fasilitas kurang jadi gak ada prestige 
lagi.

Jika dalam beberapa
perbincangan ekonomi syariah kita sering mengangkat kisah sahabat Umar (semoga
Allah meridhainya) dengan idenya yang brilian dalam banyak kebijakan
ekonominya, kita lupa kisah Umar ra yang sama (bukan Umar yang berbeda) yang 
ditenukan utusan raja PersiaKisra
Anu Syirwan, sedang
tertidur di atas tanah, di bawah pohon. (Tampaknya beliau tidak belajar tentang 
prestige dan pencitraan. padahal di era yang sama Persia dan Romawi sedang 
dalam masa kejayaan materialnya. Seharusnya beliau bisa belajar dengan mereka). 
Jangan bilang, saya ingin para pemimpin
dunia, para pemang keputusan, para pemilik modal untuk melakukan hal sama 
seperti Umar ra.
Tidak, bukan itumaksudnya.Tetapi kesederhanaan!

Pendidikan, termasuk training mahal di dalamnya, sudah keluar dari semangat
ini. Prestige menjadi standar yang -tentunya - terkait dengan seberapa banyak
uang yang anda keluarkan. Perstige -biasanya- berbanding lurus dengan mahal.
Tetapi apakah dalam waktu yang sama lembaga pendidikan ber-prestise identik
dengan lembaga pendidikan bermutu? Saya tidak tahu.
Sekolah Bertaraf Internasional yang sedang digarap
pemerintah -dalam salah satu harian hari ini- mendapat kritiknya karena dana
yang ada terkonsentrasi pada material kebendaan daripada kualitas pengajaran
atau bahkan pendidikan itu sendiri. Bahkan lagi-lagi -cerita lama- ICW mencium
aroma semerbak penyelewengan. Paragraph ini hanya sekedar tambahan saja.

Masalah kedua
Sayangnya -dan ini semakin menjadi aneh, saat pendidikan
berbiaya mahal menjadi kewajaran, sikap yang sama tidak ditunjukkan kepada
pendidikan TPA yang gurunya dibayar Rp. 300.000,- untuk satu bulan mengajarkan 
cara baca Al Qur`an, yang oleh Nabi saw sendiri dinilai sebagai
pengajaran yang paling layak untuk memungut upah.
Ironi! Di satu sisi kita bilang pendidikan mahal adalah wajar, namun di sisi
lain pasti kita berteriak marah-marah, merasa aneh dan gak terima jika seorang
guru TPA minta gaji Rp. 3.000.000,- per bulan (bukan empat jam kursus)
karena mengajarkan anak kita belajar baca Al Qur`an, sebuah kebutuhan untuk
"pasca masa depan" yang cerah. Dalam email saya sebelumnya, saya
sebut penyikapan ini sebagai indikator atau gejala masyarakat sakit (dalam
pengertian islami).
Mengapa kita berteriak marah-marah? Lagi-lagi cara pikir kapitalis materialis 
menjawabnya,
"Beda dong pendidikan yang memberikan masa depan cerah (baca: keuntungan
balik berupa materi) dengan pendidikan masa depan suram (bisa ngaji khan gak
ada hubungannya sama duwe duit!)." Bisa ngaji Al Qur`an itu gak ada
gengsinya! Ini fakta di masyarakat kita! Kalau jadi dokter wouuwwww. Pasti
banyak orang siap mengambilnya menjadi menantu! Punya menantu guru ngaji Al
Qur`an di TPA sama saja menjebloskan putrinya ke lembah hitam kemiskinan. Gak
peduli tajwidnya sehebat As Sudaysi! Gak payu!
Tidak ada hukum syar'iy yang dilanggar sama sekali dengan
penerapan biaya tinggi dalam pendidikan. Sebuah lembaga yang mengorganisir guru
tentu layak menarik pungutan. Guru "ngomong" tentu layak diberi
kompensasi, minimal atas nama energi ngomong-nya meskipunilmune mboh-mbohan.
Dan tidak ada standar pengambilan keuntungan, tetapi tentu tidak "ghabn fahisy" 
(meminjam istilah muamalah dengan makna yang berbeda)! “Ghabn
faahisy” itu ya kamahalan! “Gabhn Fahisy sistemik” dalam dunia pendidikan 
mengakibatkan
banyak orang kelimpungan dan berujung pada ketidakadilan. Khususnya
ketidakadilan dalam mendapatkan pengetahuan.
Jangan bilang belajar khan bisa di mana saja! Itu jawaban klise, lalu mengapa 
kita
masuk sekolah? Kenapa gak baca buku dan koran aja di rumah!

Terakhir
Kepala kapitalis selalu berisi logo dollar dan dollar (maaf
tidak menyebut dinar, karena belum "kesampaian" ).
Sementara kepala islamis berisi logo dollar yang halal (dengan stempel kehalaan
MUI :) ) serta thayyiban.
Halaalan thayyiban adalah dua kata yang tidak sinonim. Thayyiban dalam hemat
saya adalah keberkahan -meskipun banyak tafsir tidak mengatakan demikian.
Halaalan thayyiban adalah rezeki yang halal dan berkah.
Keberkahan lebih sering tidak match atau tidak "ketemu" dengan harga
prestige. 
Unsur keberkahan ditentukan oleh banyak hal, diantaranya tidak "membuat
sakit hati" orang miskin. Sakit hati di sini tidak harus dalam bentuk
sakit hati betulan. Ia diterjemahkan sebagai ketimpangan. itu sebabnya saya
tulis dalam tanda petik.
Makan ayam versi Amerika di ruang yang dibatasi kaca transparan sementara
pengemis lalu lalang di sekitarnya adalah salah satunya fenomema memakan yang
halal tapi "bikin miris". Tidak berkah!
Pesta perkawinan yang hanya mengundang kelas-kelas sosial tinggi dengan hadiah 
aksesoris bunga-bungaan yang terbuat dari lembaran uang adalah contoh
fenomena ketidakberkahan. Namun sebaliknya dengan tujuan pencitraan dan
seremonial juga tidak baik, meskipun halal.

Apa hubungan keberkahan dengan masalah kita di sini? Jawabnya, salah satu 
penentu
keberkahan adalah kesederhaan yang jujur dan tulus.
Kesederhanaan dalam pendidikan diwujudkan dalam bentuk yang tidak membuat
"miris orang lain" dan tidak menimbulkan ketidakadilan/ ketimpangan
yang diakibatkan oleh perbedaan "kepemilikan uang". Masyarakat -jika
pemerintah tidak mau- bertanggungjawab untuk mewujudkan itu, bukan malah ikut
turun menikmati fenomena trendy. 

Jika dikaitkan dengan eknomi syariah, maka ekonomi syariah adalah ekonomi
kesederhaan berlandaskan halaalan thayyiban.
Ia adalah sebuah sistem yang tidak memihak kepada pemodal besar sehingga
membuat miris pemodal dengkul. Ketika Rasul (kasih sayang dan keagungan Allah
untuk beliau) enggan menerapkan price fixing saat harga barang melonjak di
Madinah, jangan diartikan ini bahwa beliau memihak kepada pedagang atau
saudagar atau pemodal besar. Beliau saw -seperti dikemukakannya- tidak ingin
melakukan kezaliman dengan price fixing. 
Keluar dari topik, saya berharap keengganan Rasul saw
menerapkan price fixing jangan dipahami bahwa ekonomi Islam menganut sistem
mekanisme pasar seperti yang diyakini oleh sebagian ekonom syariati. Tidak
demikian. Pada intinya beliau tidak mau ada kezaliman. Jadi kezalimanlah
puncanya. Ketika  kezaliman ditengarai ada
maka ia harus dihindari, tidak peduli mau nganut sistem mekanisme pasar atau
tidak. Imam Malik amat cerdas memahami hal ini saat fiqh-nya secara eksplisit
mengijinkan price taxing. Beliau tidak sedang membantah Rasulullah saw.
Sebaliknya beliau memahami dengan baik keinginan Rasul.


Kembali ke topik. Dalam salah satu buku terkait ekonomi syariah diceritakan
bahwa Rasulullah (kasih sayang Allah dan kedamaian untuknya) biasa menyimpan 
makanan
untuk keperluan keluarganya dalam satu tahun. Dengan cerita ini lalu kita 
mendapatkan
pijakan untuk menyimpan uang demi masa depan pendidikan anak-anak kita dan
istri. Takut-takut nanti kalau ditinggal mati gak punya apa-apa. kasihan
mereka.
Sayangnya, buku itu tidak menurunkan juga kisah pagi hari saat beliau saw masuk
rumah dan bertanya kepada Aisyah ra, "Apakah kamu punya sesuatu (untuk
dimakan)?"
Aisyah ra menjawab, "Tidak."
Lalu beliau saw berkata, "Kalau begitu aku puasa."
Jika saya berada di situ saat itu maka saya –dengan santun- akan bertanya
kepada beliau (kasih saying untuknya) ,"Lho stock makanan untuk satu tahun
itu lalu kemana, kanjeng Rasul?"
Coba hayoo kemana?
Apa yang didapat dari cerita ini? Jawabnya adalah urgensi kepedulian
kepada sesama yang jujur dan tulus dan tidak suka melihat ketimpangan dan
ketidakadilan dalam makna yang luas. Akankah ada yang tergugah untuk ide
keadilan (maaf, tidak ada sangkut paut dengan nama partai tertentu) dan
pemerataan penyebaran ilmu pengetahuan yang bermutu dengan biaya murah. Apapun
itu ilmunya. Atau anda ingin larut berenang dalam kolam bisnis pendidikan yang
menguntungkan?
Sentil saya jika pikiran yang mengganggu kepala saya ini dinilai
"mengganggu" . Maklumi saya juga jika isi pikiran ini terasa ndeso, gak mutu dan
gak nalar di era silaunya pusat perbelanjaan yang serba wauuu.

Salam Hangat dan Kasih
Faishol “Ndeso”

 


      

Kirim email ke