Assalamu'alaikum Warahmatullah. Saya setuju dengan pendapat teman-teman yang membedakan tarif (harga) berdasarkan tingkatan dan biaya operasional. Misalnya, Tarif pendidikan SD berbeda dengan tarif Perguruan Tinggi. Saya juga setuju pendapat yang mengatakan bahwa para ilmuwan harus dihargai dan dihormati. Namun, saya sama sekali tidak setuju dan kurang memahami logika Mas Faishal yang membedakan biaya training ekonomi syariah dengan training ekonomi ribawi. Permbedaan itu sangat tidak tepat Mas. Dalam konteks biaya, tidak mungkin kita menggratiskan training bank syariah, karena alasan mengajarkan nilai Sebagaimana kerangka pikir Mas faishol, Sebab pelatihan itu membutuhkan biaya tempat, makan, modul dan honor trainer handal dan EO. Jadi argumentasi Mas kelihatan seperti menegakkan benang basah. Dalam masalah biaya training antara keduanya hampir bersamaan, tetapi materi training dan tujuan berbeda.
Jenis Training untuk mahasiwa S1 dan para CEO tentu berbeda, Jangan semua disamakan. Begitu banyak respon dalam milis ini yang sudah meluruskan / menjelaskan kepada Mas Faishal, seharusnya mas Faishal bisa memahami secara rasional dan logis serta batas-batas kewajaran. Jaminan Sosial Umar bin Abdul aziz, tidak relevan digunakan untuk mengkaji tarif-tarif biaya pendidikan dan latihan. terlalu jauh Mas. Wassalam. HI di Pekanbaru Demikian --- Pada Kam, 17/6/10, AYeeP <[email protected]> menulis: Dari: AYeeP <[email protected]> Judul: Re: [ekonomi-syariah] Mengapa biaya pelatihan amat mahal? Kepada: [email protected] Tanggal: Kamis, 17 Juni, 2010, 4:45 AM Salam, Beberapa teman milis di sini mengaitkan biaya training ekonomi syariah dengan training ekonomi ribawi. Rupanya saya salah memahami, selama ini, saya pikir kalau ekonomi syariah itu beda dengan ekonomi ribawi kapitalis mengingat dalam syariah ada "nilai" yang jauh berbeda dengan "nilai kapitalis". Salah maneh aku! Jaminan sosial ala Umar bin Abdul Aziz yang gotong sekarung gandum hanya cerita komik layaknya karya HC Andersen yang tidak selari dengan budaya kita. (Beberapa cerita sejenis diangkat oleh seorang pembicara saat berbicara peran nilai dalam ekonomi syariah. Saya berpikir sang pembicara sedang bermimpi). Saya mencoba bikin itung-itungan sebuah training untuk "mare" (mahasiswa kere) dengan konsentrasi penekanan pada keimuan itu sendiri, bukan tetek bengek "training life style". Asumsi peserta : 20 orang Acara : 10.00 - 14.00 (4 jam) Biaya : snack seadanya + makan seadanya (Rp. 14.000,-) Diktat atau sejenisnya : sesuai biaya fotokopi dan penjilidan (tidak lebih tidak kurang. Gak usah "nembak") Lokasi dan sound system : Cari teman yang punya ruang dengan sedikit ruang parkir dan sound system yang mau dibayar sesuai biaya energi listrik terpakai plus uang terimakasih 200 ribu karena pakai tempat (toh bangunan -gampang ngomong- bukan aset cepat rusak). Kursi plastik : Rp. 1.000,-/buah Biaya trainer : Nah ini dia masalahnya yang terpenting dari segala sudut! Adakah trainer bagus yang mau dibayar pakai uang sisa biaya snack, makan siang, biaya listrik dan uang terimakasih pakai tempat untuk 4 jam ilmunya. Saya pikir ini bukan ide edan. Amat masuk akal dengan syarat "kita" tidak flashback menghitung berapa biaya belajar kita seperti matematika "berapa biaya saya kuliah untuk menjadi dokter". Juga jangan menjadikannya sebagai acara pelatihan seremonial "membantu yang tidak mampu" 1 tahun 1 kali, sementara yang setahun 12 kali adalah bisnis sebagaimana biasanya. Dalam salah satu kesempatan, salah satu anggota lembaga para kyai di Indonesia pernah mengemukakan keterkejutannya ketika untuk pertama kalinya dalam salah satu seminar ekonomi syariah -hanya untuk bicara 1 jam- beliau diberi "uang bahagia" sebesar 2 juta rupiah. Dia tidak menyangka sebesar itu. Guru TPA -untuk waktu yang sama bisa kok- hanya dibayar 300 ribu / bulan, tanpa mempertimbangkan "biaya jengkel" ngurusin anak-anak dengan pelbagai karakter yang sering susah diatur. Padahal dia mengajar hal penting yang amat mendasar, yaitu membaca Al Qur`an, Kitab Suci, Pegangan Hidup Muslim, Sumber Kebahagian Dunia dan Akhirat (Wualaaaah). Mungkin masyarakat (sakit) kita sedang berpikir, apa yang dimakan oleh sang kyai pemberi seminar berbeda dengan apa yang dimakan oleh seorang guru TPA. Yang satu makan emas, yang satu lagi makan nasi aking. Ironi khan? Kalau anda bilang, tidak ironi dan wajar, anda sedang berbohong dengan nurani anda sendiri. Jika anda bilang, tidak ironi dan wajar (sambil berhitung membandingkannya dengan biaya yang anda keluarkan saat belajar dulu yang berjut-jut) anda sedang berlogika "meraih keuntungan sebesar-besarnya" , kapitalis berselendang syariah -jika itu diungkapkan oleh penggemar ekonomi syariah. Sebagian menulis, masalah kayak gini kok dibahas. Saya menjawab, ini bukan sekedar "masalah kayak gini". Jika direnungi dan mau jujur dengan nurani, ini masalah besar. Masalah pendidikan (dengan segala bentuknya yang mahal, termasuk yang membawa bendera syariah) dan masalah ketidak-adilan dan ketimpangan dalam memandang pendidikan yang didikotomikan sebagai pendidikan dunia dan pendidikan agama. Teringat isi serat Kalatida, saya ikut menumpahkan kekesalan hati bersama Raden Ngabehi Ronggo Warsito yang menulis: amenangi jaman édan, éwuhaya ing pambudi, mélu ngédan nora tahan, yén tan mélu anglakoni, boya keduman mélik, kaliren wekasanipun, ndilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, luwih begja kang éling klawan waspada. Artinya apa ini? Tanya mbah Google. Ada yang tanya, lha terus apa yang sudah saya perbuat. Saya jawab, "menggugah". Kali aja ada yang mau bantuin teriak seperti saya dengan resiko mati misterius seperti Ronggo Warsito. Salam hangat Faishol
