Salam,
Beberapa teman milis di sini mengaitkan biaya training ekonomi syariah dengan
training ekonomi ribawi. Rupanya saya salah memahami, selama ini, saya pikir
kalau ekonomi syariah itu beda dengan ekonomi ribawi kapitalis mengingat dalam
syariah ada "nilai" yang jauh berbeda dengan "nilai kapitalis". Salah maneh aku!
Jaminan sosial ala Umar bin Abdul Aziz yang gotong sekarung gandum hanya cerita
komik layaknya karya HC Andersen yang tidak selari dengan budaya kita.
(Beberapa cerita sejenis diangkat oleh seorang pembicara saat berbicara
perannilai dalam ekonomi syariah. Saya berpikir sang pembicara sedang bermimpi).
Saya mencoba bikin itung-itungan sebuah training untuk "mare" (mahasiswa kere)
dengan konsentrasi penekanan pada keimuan itu sendiri, bukan tetek bengek
"training life style".
Asumsi peserta : 20 orang
Acara : 10.00 - 14.00 (4 jam)
Biaya : snack seadanya + makan seadanya (Rp. 14.000,-)
Diktat atau sejenisnya : sesuai biaya fotokopi dan penjilidan (tidak lebih
tidak kurang. Gak usah "nembak")
Lokasi dan sound system : Cari teman yang punya ruang dengan sedikit ruang
parkir dan sound system yang mau dibayar sesuai biaya energi listrik terpakai
plus uang terimakasih 200 ribu karena pakai tempat (toh bangunan -gampang
ngomong- bukan aset cepat rusak).
Kursi plastik : Rp. 1.000,-/buah
Biaya trainer : Nah ini dia masalahnya yang terpenting dari segala sudut!
Adakah trainer bagus yang mau dibayar pakai uang sisa biaya snack, makan siang,
biaya listrik dan uang terimakasih pakai tempat untuk 4 jam ilmunya.
Saya pikir ini bukan ide edan. Amat masuk akal dengan syarat "kita" tidak
flashback menghitung berapa biaya belajar kita seperti matematika "berapa biaya
saya kuliah untuk menjadi dokter". Juga jangan menjadikannya sebagai acara
pelatihan seremonial "membantu yang tidak mampu" 1 tahun 1 kali, sementara yang
setahun 12 kali adalah bisnis sebagaimana biasanya.
Dalam salah satu kesempatan, salah satu anggota lembaga para kyai di Indonesia
pernah mengemukakan keterkejutannya ketika untuk pertama kalinya dalam salah
satu seminar ekonomi syariah -hanya untuk bicara 1 jam- beliau diberi "uang
bahagia" sebesar 2 juta rupiah. Dia tidak menyangka sebesar itu.
Guru TPA -untuk waktu yang sama bisa kok- hanya dibayar 300 ribu / bulan, tanpa
mempertimbangkan "biaya jengkel" ngurusin anak-anak dengan pelbagai karakter
yang sering susah diatur. Padahal dia mengajar hal penting yang amat mendasar,
yaitu membaca Al Qur`an, Kitab Suci, Pegangan Hidup Muslim, Sumber Kebahagian
Dunia dan Akhirat (Wualaaaah).
Mungkin masyarakat (sakit) kita sedang berpikir, apa yang dimakan oleh sang
kyai pemberi seminar berbeda dengan apa yang dimakan oleh seorang guru TPA.
Yang satu makan emas, yang satu lagi makan nasi aking.
Ironi khan?
Kalau anda bilang, tidak ironi dan wajar, anda sedang berbohong dengan nurani
anda sendiri.
Jika anda bilang, tidak ironi dan wajar (sambil berhitung membandingkannya
dengan biaya yang anda keluarkan saat belajar dulu yang berjut-jut) anda sedang
berlogika "meraih keuntungan sebesar-besarnya", kapitalis berselendang syariah
-jika itu diungkapkan oleh penggemar ekonomi syariah.
Sebagian menulis, masalah kayak gini kok dibahas. Saya menjawab, ini
bukan sekedar "masalah kayak gini". Jika direnungi dan mau jujur dengan
nurani, ini masalah besar. Masalah pendidikan (dengan segala bentuknya yang
mahal, termasuk yang membawa bendera syariah) dan masalah ketidak-adilan dan
ketimpangan dalam memandang pendidikan yang didikotomikan sebagai pendidikan
dunia dan pendidikan agama.
Teringat isi serat Kalatida, saya ikut menumpahkan kekesalan hati bersama Raden
Ngabehi Ronggo Warsito yang menulis:
amenangi jaman édan,
éwuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya keduman mélik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling klawan waspada.
Artinya apa ini? Tanya mbah Google.
Ada yang tanya, lha terus apa yang sudah saya perbuat. Saya jawab, "menggugah".
Kali aja ada yang mau bantuin teriak seperti saya dengan resiko mati misterius
seperti Ronggo Warsito.
Salam hangat
Faishol