Saya malah melihat sebaliknya. Para presiden di republik BBM ini adalah presiden impian saya, karena mereka bisa melucu, bisa mendngarkan dan bisa diajak bicara. Dan ketika mereka dikritik mereka bisa mengangguk setuju, bisa juga menolak dan berargumentasi dengan gayanya masing-masing.
Rasanya damai sekali. Saya tidak melihat ada kejelekan di antara mereka, saya melihat kebahagiaan, kekompakan. Misalnya ketika tema tentang "wanita listrik" buat saya itu pembahasan solusi yang luar biasa. Begitu juga ketika episode banjir, Gus Mur, Jarwo Kuat dll ikut memakai jas hujan dan menggulung celananya sebagai keprihatinan. Jangan sampai acara ini dicabut. Satu lagi tanda bagi kemunduran luar biasa di negeri ini. Salam, Mariana Monday, March 5, 2007, 11:38:55 AM, you wrote: > Pak Effendi Gazali dan Yang Mulia Presiden Si Butet Yogya, > Berdasarkan pengamatan saya, acara Republik BBM (Baru Bisa Mimpi) > memang baru bisa mimpi saja alias baru bisa berangan-angan untuk bisa > menjadi tokoh-tokoh pimpinan tertentu. > Sayangnya sudah terkesan melecehkan tokoh-tokoh pimpinan tersebut dan > membuat kita terpingkal-pingkal, tapi tidak berhasil menawarkan suatu > SOLUSI untuk perbaikan. Akhirnya tokoh-tokoh pimpinan tersebut > mungkin merasa mendapatkan hal yang negatif saja tetapi tidak > mendapatkan usul/saran/ide perbaikan. > Saran saya adalah sebaiknya Republik BBM tidak hanya bisa mengupas > kejelekan/kelemahan tokoh-tokoh pimpinan tertentu, tapi juga bisa > melangkah satu tahap lagi ke tahap pengajuan usul/saran/ide perbaikan > tentunya dengan menghadirkan pakar yang kompeten di bidangnya. > Singkat kata: > Jangan Baru Bisa Mimpi > Best Regards, > Rudyanto > --- In [email protected], "Agus Hamonangan" > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> >> Saya posting di luar Topik, >> >> Effendi Gazali anggota milis FPK >> Butet Kertaredjasa anggota milis FPK >> >> Kita tunggu tanggapan dari petinggi acara Republik BBM di milis FPK. >> >> Salam, >> AH
