Bonjour Monsiour Wijaya,
Je suis d'accord avec votre avis. Ah...harus berbahasa Indonesia, ntar harus
melapor ke yang berwajib jika pakai bahasa asing (hee...heee..).
Saya baru saja mau menjawab pendapat suadara ddynasti, tetapi anda sudah
dengan sangat tepat menjawabnya duluan. Merci beaucoup.
Dan saudara ddynasti mungkin tidak tahu bahwa untuk bisa ikut dalam JAMBORE,
harus melakukan banyak kegiatan social yang akan mendapatkan "badge" (lencana),
dan harus sangat cerdas dalam menyelesaikan problems yang dihadapi dengan tepat
dan trampil. Juga dengan tingkah laku, dan akal budi yang hampir sempurna dalam
melayani masyarakat. Tidak sembarangan Pramuka bisa ikut JAMBORE. Mereka-mereka
ini dipilih dengan ketat di daerah-daerah (kabupaten) atau Propinsi. Jika lulus
seleksi baru bisa mengikuti nya.
Mungkin pak Bondan Winarno, bisa menjawab nya juga. Karena beliau dulu
terpilih sebagai pemenang JAMBORE seluruh JAWA TENGAH, yang diadakan di
Semarang, dan beliau dikirim ke USA karena kemenangan-nya tersebut, sebagai
representative "BOY SCOUT" dari Indonesia.
Saya masih di SD, saat itu, dan kagum akan pak Bondan (sudah di SMA) akan
kemenangan nya di JAMBORE tersebut, dari itulah saya rajin ikut kumpulan
Pramuka. Untuk jadi Pramuka yang baik itu sangat "ngrekoso", harus bisa tidur
ditanah hanya dengan sealas kain atau tikar dan makan seadanya (selagi
berkemah), bisa hidup dengan kamar mandi yang sangat amat "darurat", dsb.
Dan seperti anda katakan, bahwa melalui olah raga juga bisa membuat perasaan
"Patriotik" dan "Nasionalis", misalnya "soccer"; "cricket" dan "rugby", bagi
bangsa Inggris; Perancis, New Zealand dan Australia. Tidak perlu latihan wajib
militer, mereka akan menjadi fanatik dan patriotik juga nasionalistik kalau
negara mereka memenangkan pertandingan dalam permainan olah raga diatas
tersebut.
Indonesia dengan badminton-nya, betapa bangga nya kita jika Indonesia
memenangkan Thomas Cup dan Ubber Cup. Apalagi jika kita menonton-nya di
Inggris, weleh...weleh....tenggorokan sampai kering untuk menjerit-jerit
menyemangati pahlawan-pahlawan kita. Dan tangan sampai pegel untuk
melambai-lambaikan bendera merah putih.
Dan didalam tubuh Pramuka lah rasa "kesaudaraan" terhadap semua rekan sangat
amat akrab dan tulus serta tidak ada saling menjegal (seperti di MILITER).
Dan saya tidak takut akan bayangan saya sendiri, saudara ddynasti. Karena
bayangan saya menunjukan saya yang sejujurnya.
Maka dari itu menurut pendapat saya, "budget" untuk Wajib Militer yang
milyaran tersebut, bisa dihibahkan ke badan PRAMUKA, untuk dapat selalu
mengadakan JAMBORE setiap tahun-nya di Indonesia.
Salam Pramuka,
Yuli
Endiarto Wijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Siapa bilang Pramuka hanya untuk anak ingusan dan anak kecil??????
Siapa bilang kegiatan Pramuka melulu hanya "have fun" dan tidak banyak porsi
kegiatan yang bersifat pengabdian masyarakat dan pelestarian lingkungan??????
Pak/ Bu, sesekali mungkin sebaiknya berkunjung ke kantor Kwartir Cabang Pramuka
di kota Anda atau Sanggar Pramuka di Kampus-Kampus. Mohon saya diberi info,
jika Pramuka yang di sana ingusan semua.
Anggota Pramuka memang ada yang anak-anak (Siaga) tapi ada yang Pandega
(mahasiswa) dan bahkan para senior Pembina.
Maaf, saya bukan aktivis Pramuka, tapi saya berpendapat :
PRAMUKA BUKAN KUMPULAN ANAK INGUSAN.
Jika dikatakan bahwa (quote)"...... hanya diajarkan
masalah2 kepanduan dan sedikit masalah sosial,lingkup mereka sempit
dan usia mereka realitf hijau untuk mengerti dgn benar akan arti
penting gerakan pramuka itu sendiri, lebih banyak dari mereka yg
tahunya cuma rasa suka karena bisa berkumpul dgn teman2 dari lain
daerah atau sekolah, kemah bersama atau menjelajah, just for fun
saya kira bagi otak anak-anak ingusan tersebut "(end of quote)
Saya jadi bertanya apakah Anda pernah mengetahui kegiatan Pramuka seperti World
Community Development Camp (World COMDECA), JOTA (Jambore on The Air), JOTI
(Jamboree on The Internet), Latihan SAR Pramuka dll??????
Kecakapan Pramuka Indonesia tidak kalah dengan Pramuka negara lain (para
anggota World Organisation of The Scout Movement). Saya pernah melihatnya
secara langsung kecakapan para Pramuka itu dalam 1st World COMDECA. Pramuka
memiliki berbagai "Saka" yang mewadahi para anggota Pramuka sesuai dengan minat
dan kemampuan masing-masing, seperti : Saka Dirgantara, Saka Taruna Bumi. Saka
Husada Bakti, Saka Bhayangkara, Saka Kencana/ keluarga Berencana dll.
Tentang penanaman rasa disiplin, rasa cinta saudara sebangsa dan rasa cinta
tanah air, saya kira Wajib Militer bukan satu-satunya cara.
Pramuka memang merupakan salah satu wahana untuk tujuan-tujuan seperti itu.
Begitu pula kegiatan-kegiatan lain seperti olah raga. Dalam olah raga beladiri,
misalnya, terdapat peraturan-peraturan yang mesti dipatuhi sehingga dapat
menumbuhkan sikap "disiplin".
Terutama karena pertimbangan efektivitas, efisiensi dan efek disfungsionalnya,
saya tidak setuju jika sikap disiplin, rasa cinta saudara sebangsa dan rasa
cinta tanah air ditanamkan lewat latihan Wajib Militer/ Samapta atau apapun
namanya namun berbau militer.