Tega itu kan ungkapan kasih sayang, Mbak (juga buat Mbak Laura). 
Jangan dipolitisir begitu. Saya juga mana tega melihat isteri ngepel, 
tapi kalau sudah gilirannya ya mesti tega. Kalau tidak, karena sayang 
bisa-bisa semua kerjaan rumah tangga saya semua ngerjain. Saya 
percaya dia juga begitu melihat saya. Gitu lho.

Balik lagi, biar diskusi enggak kemana-mana, premis saya masih sama, 
perempuan itu lebih senang pasangannya yang memimpin dan itu bukan 
cuma salahnya Mas Konstruksi Sosial tadi (kasian disalahkan melulu). 
Ini sudah sejak zaman manusia dan monyet masih susah dibedakan. Kalau 
nonton discovery channel, singa atau monyet yang punya harem banyak 
selalulah yang dominan, yang badannya besar dan selalu menang 
berkelahi. Sementara yang jantan kelas dua akhirnya hidup menjomblo 
tidak punya keturunan. 

Nah, padahal para hewan betina ini kan punya pilihan untuk kawin 
dengan si kelas dua yang bakal lebih penurut ini. Tapi mengapa mereka 
mau dipoligami sama si jantan yang dominan coba? Karena sifat-sifat 
dominan ini dari sononya sudah terbukti menghasilkan keturunan yang 
dominan juga dan berarti survival ratenya lebih tinggi. Jadi biar 
anak-anaknya survive, hewan betina harus mencari pasangan yang 
dominan. Tidak bisa yang kelas dua.

Berhubung 98% gen kita dan gen monyet itu sama, yang seperti ini 
sudah terprogram juga dalam naluri manusia yang perempuan. Kalau 
tidak ada informasi lain, maka pilihan pertamanya adalah lelaki yang 
dominan; kulit luarnya tentu dari bentuk tubuh (tinggi besar) dan 
kelakuan (percaya diri, jelas apa maunya).

CUMA, ada cumanya, berhubung manusia itu sudah lebih maju dari hewan, 
maka faktor pandangan pertama itu lantas harus disuplemen dengan 
pandangan kedua: apa orang ini bisa diandalkan, apa karena ganteng 
terus jadi s3 (selingkuh sana sini), apa orang ini egois? Ini yang 
menyebabkan pilihan logis jatuh pada orang mungkin dari luar tidak 
kelihatan memimpin. Kalau tidak begitu ya kasian orang-orang yang 
seperti saya ini...

Andi


--- In [email protected], theresia sri endras 
iswarini <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kok ada kata 'tega'nya Bung? Kalau Anda masak-nyuci-ngepel dengan 
kesadaran ingin meringankan beban istri ya tidak perlu bilang 'istri 
saya sudah terbiasa tega....." Lha itu sebenarnya sama saja, Anda 
sendiri sebenarnya tidak yakin bahwa kesetaraan itu ada di rumah, di 
ruang privat. 
>    
>   Kalau soal perempuan lebih senang dipimpin ya faktanya memang ada 
tetapi fakta itu dibentuk (dikonstruksi) karena perempuan DIBIASAKAN 
(DIBENTUK) untuk tidak menjadi pemimpin.  Jadi soalnya bukan mengakui 
tidak mengakui lho Bung, tetapi soal konstruksinya itu lho. 
>    
>   Soal amunisi jangan kuatir, silakan dibeberkan di sini, saya 
tunggu kok meski seminggu ke depan saya juga akan rapat dan 
kehilangan akses internet.   Yang penting menurut saya, buka hati dan 
pikiran, karena hanya dengan kejujuran dan ketulusan maka kesetaraan 
perempuan dan laki-laki akan lebih mudah dicapai. 
>    
>   Salam hangat,
>   Rini
> 
> si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Hahaha kalah taruhan Anda, Pak. Kami di rumah tak punya 
pembantu. 
> Jadi isteri saya sudah terbiasa tega melihat saya masak-nyuci-
ngepel, 
> apalagi kalau cuma ngangkat tas golf (yang "cuma" kira-kira 20 
> kiloan).
> 
> Tapi saya masih percaya kalau perempuan itu lebih senang dipimpin 
> (walaupun mbak-mbak di sini tidak mau mengakui...hehehe). Soal 
apakah 
> si lelaki nanti menjadi lebih akomodatif itu hasil dinamika 
hubungan 
> keduanya kalau sudah mapan dan juga tuntutan keadaan.
> 
> Masih banyak amunisi saya, sebenarnya. Sayang tiga hari kedepan 
saya 
> tidak ada akses internet dan topik ini akan hilang sudah ditelan 
> gelombang.
> 
> Andi
> 
> --- In [email protected], Manneke Budiman 
> <mannekebudiman@> wrote:
> >
> > He he he, Pak Andi ketiban apes. Ini akibat terlalu "macho" 
> mungkin? Coba deh sekali-sekali bawa istri maen golf, dan Pak Andi 
> yang jadi "caddy"-nya. Berani taruhan istrinya pasti nggak akan 
tega. 
> Tapi, kalo dia mengira Pak Andi cowok macho, bukan cuma stick golf 
> yang disuruh bawain. Mobil golf-nya pun bisa-bisa disuruh memikul 
> karena dikira doyan angkat berat.
> > 
> > manneke
> > 
> > si_andi <si_andi@> wrote:
> > Walah, Mbak Dhaniar, saya jangan disatukeranjangkan dengan Eko, 
> dong. 
> > Sumpah saya tidak bawa-bawa agama, wibawa, apalagi soal driver. 
> > Driver cukuplah buat main golf saja.
> > 
> > Andi
> >
> 
> 
> 
>          
> 
>  
> ---------------------------------
> Need Mail bonding?
> Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke