Saya perempuan, manusia perempuan tentu, bukan monyet perempuan, tapi saya tidak begitu ya. Mertua perempuan dan laki-laki saya juga tidak begitu. Tidak ada istilah dan praktek "suami yang memimpin".
Suami saya memilih saya justru karena saya tidak punya pikiran untuk dipimpin laki-laki, saya juga begitu memilihnya. Kita sama-sama memilih pasangan yang mau bekerjasama dalam membangun keluarga, menjadi relasi yang setara. Kedua, kalau Anda betul-betul mengerti soal dunia permonyetan (atau betul-betul menyukai discovery channel) apa Anda juga tahu monyet juga binatang kanibal, terutama si jantan yang bisa melahap anaknya sendiri? Terutama monyet yang berbadan besar? Tentu itu tidak berarti manusia laki-laki juga bisa memakan anaknya sendiri. Diskusi Anda justru sudah kemana-mana! Mariana > Balik lagi, biar diskusi enggak kemana-mana, premis saya masih sama, > perempuan itu lebih senang pasangannya yang memimpin dan itu bukan > cuma salahnya Mas Konstruksi Sosial tadi (kasian disalahkan melulu). > Ini sudah sejak zaman manusia dan monyet masih susah dibedakan. Kalau > nonton discovery channel, singa atau monyet yang punya harem banyak > selalulah yang dominan, yang badannya besar dan selalu menang > berkelahi. Sementara yang jantan kelas dua akhirnya hidup menjomblo > tidak punya keturunan. > Nah, padahal para hewan betina ini kan punya pilihan untuk kawin > dengan si kelas dua yang bakal lebih penurut ini. Tapi mengapa mereka > mau dipoligami sama si jantan yang dominan coba? Karena sifat-sifat > dominan ini dari sononya sudah terbukti menghasilkan keturunan yang > dominan juga dan berarti survival ratenya lebih tinggi. Jadi biar > anak-anaknya survive, hewan betina harus mencari pasangan yang > dominan. Tidak bisa yang kelas dua. > Berhubung 98% gen kita dan gen monyet itu sama, yang seperti ini > sudah terprogram juga dalam naluri manusia yang perempuan. Kalau > tidak ada informasi lain, maka pilihan pertamanya adalah lelaki yang > dominan; kulit luarnya tentu dari bentuk tubuh (tinggi besar) dan > kelakuan (percaya diri, jelas apa maunya). > CUMA, ada cumanya, berhubung manusia itu sudah lebih maju dari hewan, > maka faktor pandangan pertama itu lantas harus disuplemen dengan > pandangan kedua: apa orang ini bisa diandalkan, apa karena ganteng > terus jadi s3 (selingkuh sana sini), apa orang ini egois? Ini yang > menyebabkan pilihan logis jatuh pada orang mungkin dari luar tidak > kelihatan memimpin. Kalau tidak begitu ya kasian orang-orang yang > seperti saya ini... > Andi
