Bau badan itu, Boss, dibentuk oleh banyak hal. Yang namanya keringat itu ya bisa mengandung deodoran, ditentukan oleh makanan, oleh kondisi kesehatan tubuh pada suatu waktu tertentu, oleh proses-proses kimiawi dan fisiologis yang terjadi dalam tubuh. variabel-nya bejibun! Makanya, ketika digathuk-gathukin sama kepribadian, jadinya ajaib! Riset yang Anda bawa-bawa ke milis ini memakai begitu saja asumsi bahwa ada hubungan antara bau badan manusia dan kepribadian TANPA menguraikan secara ilmiah bagaimana, apa, dan mengapa hubungan itu terbentuk. Nah, karena Anda yang promosikan riset tersebut, bisa nggak dijelaskan di sini, persisnya gimana sih kok bau badan alias keringat bisa terkait dengan kepribadian? Kalau yang dimaksud bahwa orangnya jarang mandi, atau mandinya nggak sabunan, atau tiap mandi pake Lux maka wangi selalu, ini bisa diterima akal sehat dan bisa dibuktikan secara ilmiah. Tapi, kalo bau keringatnya X karena dia sifatnya Y, ini sulapan! Cowok macho metroseksual yang konon bersifat "dominan" itu rata-rata yak pernah meninggalkan rumah tanpa menyemprot sekujur tubuhnya pake deodoran dulu. Namanya juga mau memikat perempuan. Justru kalo nggak pake wangi-wangian, itu bukan casanova namanya. Saya manahan diri dulu untuk tak buru-buru terima hasil riset itu sebelum ada penjelasan, baik di website yang Anda sertakan maupun dari Anda pribadi, bagaimana persisnya kaitan bau badan/keringat sama kepribadian. Hasil eksperimentasi ilmiah yang saya minta, Pak, bukan cuma pengumpulan data empirik. Gampang toh? Menyebut Nazi sebagai ekstrimis evolusi adalah menepuk air di dulang? Coba dijelaskan, Bung. Jangan asbun. Ini cuma asal cuap saja tapi minus argumentasi. orang-orang Nazi ini berpikir dengan kerangka sama seperti riset Anda itu. Fisik dipakai untuk menentukan sifat. Ini bukan Darwinian, ini Hitlerian! Lalau, kalau ada orang yang ngeyel mau membenarkan poligami pada manusia dengan terus-menerus pakai contoh singa dan monyet, apakah ini bukan "menyamakan"manusia dan hewan? Kok dibolak-balik malah saya yang dibilang menganggap manusia sebagai hewan? Anda ini lagi mabok atau kebanyakan minum obat? Soal moral sense dan biologisme yang Anda puter-puter nggak karuan di paragraf sebelum terakhir dari postingan Anda, sudah saya jelaskan di posting saya yang lain buat menanggapi Anda. Sebaiknya tak saya ulangi lagi di sini, supaya nggak kian melenceng dan melebar terusssss... Tapi, saya akan kasih satu contoh bagaimana hubungan moral sense dan kepunahan. Pernah dengar berita tentang wartawan foto yang karyanya dapat Pulitzer? Dia memotret anak Afrika yang sedang sekarat akibat kelaparan. Setelah itu, bukannya menolong si anak, dia ngeloyor pergi. Belakangan ketauan si anak akhirnya mati. Si wartawan dapat Pulitzer. Tapi apa yang terjadi? Dia lalu bunuh diri karena tak tahan dihantui rasa bersalah membiarkan anak itu mati. Kalo saat itu moral sense-nya difungsikan dengan baik, maka 1) anak itu kemungkinan bisa diselamatkan (jadi ada kaitan dengan kesintasan spesies manusia), dan 2) si wartawan sangat mungkin tak akan bunuh diri, karena ia tak dikejar-kejar rasa bersalah (jadi ada kaitannya dengan kesintasan individu). Jelas, nggak, Boss? Ada pertanyaan lain? Mau diutak-atik lagi lebih jauh sampai ketemu? Silaken, silaken... manneke
si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pertama soal riset bau badan. Sayang Anda tidak membaca link yang saya berikan. Yang mereka lakukan adalah meneliti keperibadian beberapa ratus responden berdasarkan daftar kepribadian dari si Goldenberg tadi, lantas "menyimpan" bau keringat orang-orang yang masuk kategori dominan di selembar kertas hisap dan meminta responden perempuan menciumnya. Ini cuma salah satu metode double-blind saja. Kalau daftar keperibadian yang di bawah dibuka ke respondennya tentu saja penelitiannya menjadi tidak objektif. Apakah kepribadian dominan dan komposisi kimia bau badan itu dibentuk oleh gen yang sama (begitu kan penjelasan yang paling gampang?), itu topik penelitian yang lain lagi. Kalau Anda tidak setuju dengan hasilnya, ya tidak apa-apa, Pak; tinggal cari dimana yang salah dalam metodenya. Begitu kan ilmuwan yang benar? Cuma janganlah bawa-bawa Nazi segala apalagi menyebut orang sebagai binatang. Menepuk air di dulang namanya, Pak Yang kedua, saya tidak menafikan bahwa manusia itu punya akal dan hasil kerja akalnya kemudian membentuk bangunan moral. Hanya moral tadi belum tentu sebangun dengan kecenderungan fisik dan psikisnya. Tapi baca lagilah posting saya. Saya bersikukuh bicara soal evolusi (yang oleh Anda diolok-olok sebagai "pendekatan kebinatangan") karena moral itu sifatnya relatif terhadap waktu dan tempat. Kalau bahasa Maduranya, moral itu sifatnya kontemporer, Pak. Tidak beda dengan lagu Peterpan atau Samsons. Saya yakin, secara moral pandangan saya dan Anda mengenai poligami dan kesetaraan gender tidak jauh berbeda. Tapi kalaupun berbeda saya juga tidak berminat mendiskusikannya karena nantinya sudah masuk wilayah politik gender. Apakah moral sense yang Anda sebut itu mencegah kepunahan? Bisa diperdebatkan, Pak. Memberdayakan perempuan itu pilihan yang baik secara moral, politik, dan ekonomi. Tapi secara biologis? Yang terjadi sekarang kan dua-duanya (laki-laki dan perempuan) mementingkan aktualisasi diri di atas tugas berkembang biak. Anda sudah lihat prediksi jumlah penduduk Jepang dan Eropah seratus tahun ke depan? Soal reduktif, mungkin saya begitu. Tapi kalau Anda menolak pendekatan biologis dan cuma mengemukakan pendekatan moral, ya jadinya Anda menepuk air di dulang lagi. Jadi yang saya bicarakan tetap sama: di bawah sadarnya wanita itu memilih laki-laki yang dominan. Alasannya karena tuntunan evolusinya begitu. Tapi akal kan tidak bilang begitu? Benar. Cuma nilai moral monogami dan kesetaraan gender itu baru berusia ratusan tahun saja. Cetakan berusia jutaan tahun tidak semudah itu dihapus nilai-nilai moral baru lahir. Ngomong-ngomong saya juga mau dong dapat penjelasan bagaimana pendekatan "moral sense" itu bisa sejalan dengan upaya gen Anda melawan kepunahan? Saya utak-atik sendiri tidak ketemu. Andi
