Pertama soal riset bau badan. Sayang Anda tidak membaca link yang saya berikan. Yang mereka lakukan adalah meneliti keperibadian beberapa ratus responden berdasarkan daftar kepribadian dari si Goldenberg tadi, lantas "menyimpan" bau keringat orang-orang yang masuk kategori dominan di selembar kertas hisap dan meminta responden perempuan menciumnya. Ini cuma salah satu metode double-blind saja. Kalau daftar keperibadian yang di bawah dibuka ke respondennya tentu saja penelitiannya menjadi tidak objektif. Apakah kepribadian dominan dan komposisi kimia bau badan itu dibentuk oleh gen yang sama (begitu kan penjelasan yang paling gampang?), itu topik penelitian yang lain lagi.
Kalau Anda tidak setuju dengan hasilnya, ya tidak apa-apa, Pak; tinggal cari dimana yang salah dalam metodenya. Begitu kan ilmuwan yang benar? Cuma janganlah bawa-bawa Nazi segala apalagi menyebut orang sebagai binatang. Menepuk air di dulang namanya, Pak Yang kedua, saya tidak menafikan bahwa manusia itu punya akal dan hasil kerja akalnya kemudian membentuk bangunan moral. Hanya moral tadi belum tentu sebangun dengan kecenderungan fisik dan psikisnya. Tapi baca lagilah posting saya. Saya bersikukuh bicara soal evolusi (yang oleh Anda diolok-olok sebagai "pendekatan kebinatangan") karena moral itu sifatnya relatif terhadap waktu dan tempat. Kalau bahasa Maduranya, moral itu sifatnya kontemporer, Pak. Tidak beda dengan lagu Peterpan atau Samsons. Saya yakin, secara moral pandangan saya dan Anda mengenai poligami dan kesetaraan gender tidak jauh berbeda. Tapi kalaupun berbeda saya juga tidak berminat mendiskusikannya karena nantinya sudah masuk wilayah politik gender. Apakah moral sense yang Anda sebut itu mencegah kepunahan? Bisa diperdebatkan, Pak. Memberdayakan perempuan itu pilihan yang baik secara moral, politik, dan ekonomi. Tapi secara biologis? Yang terjadi sekarang kan dua-duanya (laki-laki dan perempuan) mementingkan aktualisasi diri di atas tugas berkembang biak. Anda sudah lihat prediksi jumlah penduduk Jepang dan Eropah seratus tahun ke depan? Soal reduktif, mungkin saya begitu. Tapi kalau Anda menolak pendekatan biologis dan cuma mengemukakan pendekatan moral, ya jadinya Anda menepuk air di dulang lagi. Jadi yang saya bicarakan tetap sama: di bawah sadarnya wanita itu memilih laki-laki yang dominan. Alasannya karena tuntunan evolusinya begitu. Tapi akal kan tidak bilang begitu? Benar. Cuma nilai moral monogami dan kesetaraan gender itu baru berusia ratusan tahun saja. Cetakan berusia jutaan tahun tidak semudah itu dihapus nilai-nilai moral baru lahir. Ngomong-ngomong saya juga mau dong dapat penjelasan bagaimana pendekatan "moral sense" itu bisa sejalan dengan upaya gen Anda melawan kepunahan? Saya utak-atik sendiri tidak ketemu. Andi --- In [email protected], Manneke Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Sekali lagi, tampaknya Anda sulit untuk bisa mengerti kenapa dalam soal poligami ini, riset pada hewan tak bisa dicangkokkan begitu saja pada kasus poligami manusia. Contoh singa dan monyet yang selalu Anda kemukakan itu tak sulit diterima, karena, seperti sudah ditegaskan berkali-kali, pada hewan tak terjadi evolusi moral sense. Keputusan poligami pada manusia tak hanya difasilitasi oleh kencederungan gen untuk sintas dan berketurunan, tetapi juga dibuat kompleks oleh adanya kecenderungan genetik lain pada domain moral, yang beroperasi untuk mengerem kecenderungan poligamis. > > Kalo untukmenjelaskan manusia Anda terus-menerus bersikukuh dengan contoh hewan, inilah yang disebut pendekatan reduktif. Artinya, Anda menyingkirkan variabel penting lain, yakni evolusi moral sense, dan hanya menonjolkan satu variabel saja, yakni reproduksi, untuk menjelaskan manusia. Sudah jelaskah di mana letak masalahnya? Moral sense adalah produk evolusi yang sangat penting, Pak, karena ini juga membantu mahkluk manusia untuk sintas dan mencegah kepunahan. > > Untuk bertahan hidup di bumi, manusia tak cukup hanya menjadi seperti singa, karena ia tak punya cakar, taring, serta otot yang kokoh seperti singa. Untuk mengompensasi kekurangan ini, kapasitas otak manusia berevolusi jauh lebih kompleks dari pada hewan, dan pada struktur otak inilah domain moral sense berkembang. Maka itu, bicara soal poligami pada manusia, tak cukup hanya berfokus pada kecenderungan genetik untuk reproduksi saja. Kecuali kalo kita menganggap diri kita 100% sama dengan singa atau monyet. Saya sih nggak mau, juga para miliser lain yang memberi tanggapan soal "pendekatan kebinatangan" yang Anda pakai. > > Jadi, mungkin pendukung atau pelaku poligami yang membenarkan poligami dengan memakai singa atau monyet sebagai eviden layak dikategorikan sebagai "binatang" yang tak punya moral sense. > > He he he, Pak Andi, saya jadi ragu apa Anda sudah baca Dawkins. Kalo soal panjang pendeknya leher jerapah sebagai produk evolusi, seratus tahun lalu Darwin sudah bicara soal ini. Bukan Dawkins. Dawkins berbeda dari Darwin secara fundamental: Darwin berpendapat bahwa basis evolusi adalah organisme. Dawkins menentang itu dan mengemukakan bahwa basis evolusi adalah gen. Ini bedanya besar, Pak. Teori Drawin ortodoks dengan mudah bisa dipakai untuk mendiskriminasi manusia berdasarkan ras atau ciri-ciri fisik. Neo-Darwinisme yang dipelopori Dawkins dkk justru membuat teori evolusi tak dapat dengan seenaknya dipakai untuk tujuan sempit seperti itu. Pandangan bahwa basis evolusi adalah organisme menyebabkan manusia terpaksa menerima kondisi biologis dan fisiologisnya sebagai sesuatu yang pre-given. Sebaliknya, neo-Darwinisme membatasi kekuasaan gen dengan menyatakan bahwa gen hanya penyedia potensi, dan ada banyak kemungkinan serta kejadian yang bisa menyebabkan suatu potensi > menjadi terwujud atau tinggal sebagai potensi belaka. > > Soal daftar karakter dominan dan website ipip, di sini memang disediakan daftar panjang personality items yang bisa dimanfaatkan untuk riset psikologi, tapi tak ada upaya untuk mengaitkan personality ites ini dengan profil wajah atau bau tubuh yang diletakkan dalam kerangka gender. > > Riset yang bertujuan untuk mengatakan bahwa ada hubungan langsung antara ciri-ciri fisiologis dengan kepribadian adalah abuse yang sangat vulgar terhadap teori evolusi. Inilah yang dilakukan para ilmuwan pengabdi Nazi, yang memandang bahwa ras Aria dengan ciri-ciri fisiologis tertentu punya personality traits yang lebih unggul dari pada ras lain. Apalagi kalo dikaitkan dengan daya tarik laki-laki terhadap perempuan! Makin kacau saja. > > Saya masih belum menemukan bukti kuat bahwa seseorang dengan profil fisik tertentu memiliki traits dominan tertentu. Sekali lagi, ini bentuk Darwinian ortodoks dari masa 100 tahun silam. Yang ada baru data empirik berupa hasil survei dengan jumlah sampel terbatas. Data empirik ini mentah dan sangat terbuka pada pelbagai tafsir. Ia bukan merupakan sebuah simpulan tentang dirinya sendiri. Kalau ada riset yang bilang ada 100 laki-laki berperawakan X dengan sifat-sifat Y disukai oleh perempuan, tidak sulit untuk menghasilkan riset serupa yang memperlihatkan ada 100 perempuan yang tak suka pada laki-laki berperawakan X dengan sifat-sifat Y. Jika tak percaya, coba survei para perempuan di FPK ini dengan memakai variabel daftar sifat dominan + variabel ciri fisiologis macho. > > manneke > > si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Saya tidak bilang monyet betina memilih monyet jantan dominan > dengan "kesadaran", Pak. Hal itu terjadi karena evolusi menghasilkan > monyet betina yang begitu. Individu (atau mutasi gen individu) boleh > saja menghasilkan manusia homoseksual atau manusia DINKies (double > income no kids). Tapi hukum alam bilang, manusia seperti itu akan > punah pada akhirnya karena tidak berketurunan. > > Beginilah, kalau singa dominan anaknya lebih banyak itu karena dia > selalu menang rebutan betina dengan singa kelas dua. Kalau terus > semua singa betina ternyata lebih suka dipoligami sama singa jantan > dominan itu karena betina yang tidak mau begitu sudah punah. Kenapa? > Karena dia kawin dengan jantan kelas dua. Jantan kelas dua > keturunannya kelas dua juga, hidup mereka dihabiskan dengan > menjomblo. Akhirnya punah. Jelas bukan pilihan individu, toh? > > Sebaliknya, maunya individunya atau gennya itu sederhana saja: > beranak sebanyak mungkin dan berketurunan selama mungkin. Evolusi > yang menghasilkan perilaku individu yang seperti saya sebut. > > Keinginan mencari suami yang baik, setia, bertanggung jawab seperti > Pak Manneke, itu pilihan individu karena konstruksi moral kita yang > monogamis sekarang. Karakter itulah yang secara LOGIS diperlukan > dalam hidup monogami. Argumen saya, secara alamiah manusia itu > sebenarnya tidak begitu dan itu terlihat ketika sedang pacaran atau > memilih pacar karena ketika itu akal sehatnya bekerja tidak sekeras > alam bawah sadarnya. > > Kemudian soal Dawkins. Dawkins itu bukan menentang Darwin, Pak. Dia > cuma melengkapi karena Darwin dulu nebak-nebak saja ketika dia harus > berasumsi bahwa zaman dulu jerapah itu lehernya ada yang panjang dan > ada yang pendek untuk mendukung teorinya. Dawkinslah yang menjelaskan > bahwa leher panjang pendek itu adalah hasil kerja gen. > > Terakhir, karakter dominan itu didaftar sebagai berikut: > Try to surpass others' accomplishments. > Try to outdo others. > Am quick to correct others. > Impose my will on others. > Demand explanations from others. > Want to control the conversation. > Am not afraid of providing criticism. > Challenge others' points of view. > Lay down the law to others. > Put people under pressure. > > Bukan bikinan saya, tentu. Ini klasifikasi kepribadian standar > psikologi. Websitenya bisa dilihat di http://ipip.ori.org. > > Kalau mau lihat hasil riset lagi, silakan lihat Neave et al di > website Royal Society. Kalau kemaren bau badan, sekarang bentuk > wajah. Bentuk wajah yang menunjukkan karakter dominan ternyata lebih > disukai wanita. > > Andi >
