Pandangan Darwin sudah dimodifikasi oleh para pengikutnya pada zaman ini, 
seperti Dennet dan Dawkins. Penyintasan, yang salah satunya diwujudkan dengan 
cara melanjutkan keturunan, adalah tujuan gen mereplikasi diri. Jika kemudian 
kemauan gen itu terwujud dalam perilaku manusia, itu karena gen menyediakan 
kemungkinan tersebut bagi organisme. Jadi, ini bukan semata-mata pilihan sadar 
organisme untuk beranak-cucu. 
   
  Jika letaknya pada organisme/individu, bagaimana kita bisa menjelaskan adanya 
orang yang tak ingin menikah, atau tak ingin punya anak, atau membina hubungan 
dengan kaum sejenis? Karena, menurut teori ortodoks Darwin, dengan demikian 
mestinya bisa dipastikan bahwa semua orang ingin melanjutkan keturunan.
   
  Itu sebabnya teori Darwin yang ortodoks dimodifikasi. Dengan gen sebagai 
lokus evolusi, maka kepada organisme hanya disediakan potensi dan kemungkinan, 
tetapi sifatnya tidak deterministik. Ini lebih dapat menjelaskan mengapa ada 
orang yang memutuskan tak ingin punya keturunan (kini jumlahnya kian banyak 
yang seperti ini), meski gen dalam dirinya di-program untuk sintas.
   
  Saya tidak membuat dugaan apa-apa, Pak Andi. Jadi, Anda salah alamat kalo 
menyalahkan saya. Semuanya ini saya pelajari dari orang lain yang memang 
berkecimpung dalam bidang ini. Silakan browse di Google nama-nama seperti 
Richard Dawkins, Dan Dennet, Leda Cosmides, dan John Tooby. Mereka semua adalah 
ahli biologi evolusi dan psikologi evolusi.
   
  Sekali lagi, teori Darwinian ortodoks kini dianggap problematik karena gen 
sesungguhnya tak berkelamin, jadi tak mungkin perilaku organisme laki-laki dan 
perempuan menjadi berbeda akibat faktor genetik. Yang berbeda antara kedua 
mahkluk itu adalah jenis kelaminnya. sementara itu, perilakunya yang berbasis 
gender tidak ditentukan oleh genetika. Jadi, tak ada gunanya terus membenarkan 
poligami atau patriarki dengan memakai genetika sebagai tumbal.
   
  Mengenai percobaan yang Anda ceritakan itu, boleh tau nggak gimana sih 
caranya menentukan bahwa bau badan satu orang laki-laki lebih "dominan" 
daripada seorang laki-laki lainnya? Parameternya apa? Sudah ada ilmunya toh? He 
he he. Coba deh jelaskan, Kalo tidak, saya malah akan menganggap argumen Anda 
makin kehilangan arah alih-alih makin mengerucut.
   
  manneke
  
si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Pertama terima kasih untuk kata-kata "penyintasan". Lama benar saya 
mencari padanan kata untuk survival. Sekarang bertambah lagi ilmu saya

Saya bicara hal yang sama, kok.

Yang berevolusi tetap individu, Pak Manneke. Yang berusaha untuk 
survive (menyintas? bersintas?)itulah gen kita. Saya punya anak agar 
informasi genetika saya tidak putus, tapi terus berlanjut. Hasil 
penggabungan gen saya dan isteri saya menghasilkan keturunan yang 
akan diuji menghadapi lingkungannya. Kalau hasil penggabungan ini 
kalah bersaing dengan individu lain, maka kemungkinan dia akan mati 
atau tidak punya keturunan. Itulah evolusi menurut Darwin.

Dalam dunia hewan, pejantan yang tidak dominan jarang diberi 
kesempatan mengawini para betina karena 2 hal (1)selalu dihalau oleh 
pejantan dominan dan (2)tidak disukai para betina. Akibatnya gen 
pejantan kelas dua ini tidak bisa terus berlanjut. Dalam persaingan 
evolusi dia kalah. 

Jadi salah dugaan Anda, Pak Manneke. Pandangan saya justru bahwa 
makhluk betinalah yang paling concern dengan kualitas keturunannya, 
sehingga dia selalu mencari pejantan yang gen-nya paling mungkin 
berlanjut. Makhluk jantan sebenarnya lebih concern terhadap 
kuantitas, karena jutaan sel sperma yang tersimpan harus menjadi 
individu baru sebanyak mungkin. Tapi itu nantilah. Nanti saya dituduh 
pro-poligami lagi. Sudah cukup saya disangka macho..hahaha.

Kecenderungan yang sama pada manusia sedikit-sedikit terhapus karena 
aturan sosial yang "mewajibkan" hubungan monogami. Karakter dominan 
ini jadi harus ditambahi dengan karakter setia, baik hati, bisa 
diandalkan dan lain-lain. Pokoknya karakter yang penting dalam 
hubungan monogami.

Tapi secara naluriah, kecenderungan ini masih bisa dideteksi ketika 
hubungannya masih sebatas kencan atau taksir-menaksir. Itulah yang 
sedang dibuktikan dalam penelitian, salah satunya yang saya kutip di 
bawah. Ringkasannya, ketika subyek percobaan diberi aneka bau badan 
laki-laki, ternyata para perempuan yang sedang dalam masa subur 
memilih bau badan dari laki-laki yang dominan atau dalam bahasa 
politik gendernya, patriarkis.

Argumen saya masih mengerucut kan?

Andi

Kirim email ke