Saya tidak bilang monyet betina memilih monyet jantan dominan dengan "kesadaran", Pak. Hal itu terjadi karena evolusi menghasilkan monyet betina yang begitu. Individu (atau mutasi gen individu) boleh saja menghasilkan manusia homoseksual atau manusia DINKies (double income no kids). Tapi hukum alam bilang, manusia seperti itu akan punah pada akhirnya karena tidak berketurunan.
Beginilah, kalau singa dominan anaknya lebih banyak itu karena dia selalu menang rebutan betina dengan singa kelas dua. Kalau terus semua singa betina ternyata lebih suka dipoligami sama singa jantan dominan itu karena betina yang tidak mau begitu sudah punah. Kenapa? Karena dia kawin dengan jantan kelas dua. Jantan kelas dua keturunannya kelas dua juga, hidup mereka dihabiskan dengan menjomblo. Akhirnya punah. Jelas bukan pilihan individu, toh? Sebaliknya, maunya individunya atau gennya itu sederhana saja: beranak sebanyak mungkin dan berketurunan selama mungkin. Evolusi yang menghasilkan perilaku individu yang seperti saya sebut. Keinginan mencari suami yang baik, setia, bertanggung jawab seperti Pak Manneke, itu pilihan individu karena konstruksi moral kita yang monogamis sekarang. Karakter itulah yang secara LOGIS diperlukan dalam hidup monogami. Argumen saya, secara alamiah manusia itu sebenarnya tidak begitu dan itu terlihat ketika sedang pacaran atau memilih pacar karena ketika itu akal sehatnya bekerja tidak sekeras alam bawah sadarnya. Kemudian soal Dawkins. Dawkins itu bukan menentang Darwin, Pak. Dia cuma melengkapi karena Darwin dulu nebak-nebak saja ketika dia harus berasumsi bahwa zaman dulu jerapah itu lehernya ada yang panjang dan ada yang pendek untuk mendukung teorinya. Dawkinslah yang menjelaskan bahwa leher panjang pendek itu adalah hasil kerja gen. Terakhir, karakter dominan itu didaftar sebagai berikut: Try to surpass others' accomplishments. Try to outdo others. Am quick to correct others. Impose my will on others. Demand explanations from others. Want to control the conversation. Am not afraid of providing criticism. Challenge others' points of view. Lay down the law to others. Put people under pressure. Bukan bikinan saya, tentu. Ini klasifikasi kepribadian standar psikologi. Websitenya bisa dilihat di http://ipip.ori.org. Kalau mau lihat hasil riset lagi, silakan lihat Neave et al di website Royal Society. Kalau kemaren bau badan, sekarang bentuk wajah. Bentuk wajah yang menunjukkan karakter dominan ternyata lebih disukai wanita. Andi --- In [email protected], Manneke Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pandangan Darwin sudah dimodifikasi oleh para pengikutnya pada zaman ini, seperti Dennet dan Dawkins. Penyintasan, yang salah satunya diwujudkan dengan cara melanjutkan keturunan, adalah tujuan gen mereplikasi diri. Jika kemudian kemauan gen itu terwujud dalam perilaku manusia, itu karena gen menyediakan kemungkinan tersebut bagi organisme. Jadi, ini bukan semata-mata pilihan sadar organisme untuk beranak-cucu. > > Jika letaknya pada organisme/individu, bagaimana kita bisa menjelaskan adanya orang yang tak ingin menikah, atau tak ingin punya anak, atau membina hubungan dengan kaum sejenis? Karena, menurut teori ortodoks Darwin, dengan demikian mestinya bisa dipastikan bahwa semua orang ingin melanjutkan keturunan. > > Itu sebabnya teori Darwin yang ortodoks dimodifikasi. Dengan gen sebagai lokus evolusi, maka kepada organisme hanya disediakan potensi dan kemungkinan, tetapi sifatnya tidak deterministik. Ini lebih dapat menjelaskan mengapa ada orang yang memutuskan tak ingin punya keturunan (kini jumlahnya kian banyak yang seperti ini), meski gen dalam dirinya di-program untuk sintas. > > Saya tidak membuat dugaan apa-apa, Pak Andi. Jadi, Anda salah alamat kalo menyalahkan saya. Semuanya ini saya pelajari dari orang lain yang memang berkecimpung dalam bidang ini. Silakan browse di Google nama-nama seperti Richard Dawkins, Dan Dennet, Leda Cosmides, dan John Tooby. Mereka semua adalah ahli biologi evolusi dan psikologi evolusi. > > Sekali lagi, teori Darwinian ortodoks kini dianggap problematik karena gen sesungguhnya tak berkelamin, jadi tak mungkin perilaku organisme laki-laki dan perempuan menjadi berbeda akibat faktor genetik. Yang berbeda antara kedua mahkluk itu adalah jenis kelaminnya. sementara itu, perilakunya yang berbasis gender tidak ditentukan oleh genetika. Jadi, tak ada gunanya terus membenarkan poligami atau patriarki dengan memakai genetika sebagai tumbal. > > Mengenai percobaan yang Anda ceritakan itu, boleh tau nggak gimana sih caranya menentukan bahwa bau badan satu orang laki-laki lebih "dominan" daripada seorang laki-laki lainnya? Parameternya apa? Sudah ada ilmunya toh? He he he. Coba deh jelaskan, Kalo tidak, saya malah akan menganggap argumen Anda makin kehilangan arah alih-alih makin mengerucut. > > manneke > > si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Pertama terima kasih untuk kata-kata "penyintasan". Lama benar saya > mencari padanan kata untuk survival. Sekarang bertambah lagi ilmu saya > > Saya bicara hal yang sama, kok. > > Yang berevolusi tetap individu, Pak Manneke. Yang berusaha untuk > survive (menyintas? bersintas?)itulah gen kita. Saya punya anak agar > informasi genetika saya tidak putus, tapi terus berlanjut. Hasil > penggabungan gen saya dan isteri saya menghasilkan keturunan yang > akan diuji menghadapi lingkungannya. Kalau hasil penggabungan ini > kalah bersaing dengan individu lain, maka kemungkinan dia akan mati > atau tidak punya keturunan. Itulah evolusi menurut Darwin. > > Dalam dunia hewan, pejantan yang tidak dominan jarang diberi > kesempatan mengawini para betina karena 2 hal (1)selalu dihalau oleh > pejantan dominan dan (2)tidak disukai para betina. Akibatnya gen > pejantan kelas dua ini tidak bisa terus berlanjut. Dalam persaingan > evolusi dia kalah. > > Jadi salah dugaan Anda, Pak Manneke. Pandangan saya justru bahwa > makhluk betinalah yang paling concern dengan kualitas keturunannya, > sehingga dia selalu mencari pejantan yang gen-nya paling mungkin > berlanjut. Makhluk jantan sebenarnya lebih concern terhadap > kuantitas, karena jutaan sel sperma yang tersimpan harus menjadi > individu baru sebanyak mungkin. Tapi itu nantilah. Nanti saya dituduh > pro-poligami lagi. Sudah cukup saya disangka macho..hahaha. > > Kecenderungan yang sama pada manusia sedikit-sedikit terhapus karena > aturan sosial yang "mewajibkan" hubungan monogami. Karakter dominan > ini jadi harus ditambahi dengan karakter setia, baik hati, bisa > diandalkan dan lain-lain. Pokoknya karakter yang penting dalam > hubungan monogami. > > Tapi secara naluriah, kecenderungan ini masih bisa dideteksi ketika > hubungannya masih sebatas kencan atau taksir-menaksir. Itulah yang > sedang dibuktikan dalam penelitian, salah satunya yang saya kutip di > bawah. Ringkasannya, ketika subyek percobaan diberi aneka bau badan > laki-laki, ternyata para perempuan yang sedang dalam masa subur > memilih bau badan dari laki-laki yang dominan atau dalam bahasa > politik gendernya, patriarkis. > > Argumen saya masih mengerucut kan? > > Andi >
