Pertama terima kasih untuk kata-kata "penyintasan". Lama benar saya mencari padanan kata untuk survival. Sekarang bertambah lagi ilmu saya
Saya bicara hal yang sama, kok. Yang berevolusi tetap individu, Pak Manneke. Yang berusaha untuk survive (menyintas? bersintas?)itulah gen kita. Saya punya anak agar informasi genetika saya tidak putus, tapi terus berlanjut. Hasil penggabungan gen saya dan isteri saya menghasilkan keturunan yang akan diuji menghadapi lingkungannya. Kalau hasil penggabungan ini kalah bersaing dengan individu lain, maka kemungkinan dia akan mati atau tidak punya keturunan. Itulah evolusi menurut Darwin. Dalam dunia hewan, pejantan yang tidak dominan jarang diberi kesempatan mengawini para betina karena 2 hal (1)selalu dihalau oleh pejantan dominan dan (2)tidak disukai para betina. Akibatnya gen pejantan kelas dua ini tidak bisa terus berlanjut. Dalam persaingan evolusi dia kalah. Jadi salah dugaan Anda, Pak Manneke. Pandangan saya justru bahwa makhluk betinalah yang paling concern dengan kualitas keturunannya, sehingga dia selalu mencari pejantan yang gen-nya paling mungkin berlanjut. Makhluk jantan sebenarnya lebih concern terhadap kuantitas, karena jutaan sel sperma yang tersimpan harus menjadi individu baru sebanyak mungkin. Tapi itu nantilah. Nanti saya dituduh pro-poligami lagi. Sudah cukup saya disangka macho..hahaha. Kecenderungan yang sama pada manusia sedikit-sedikit terhapus karena aturan sosial yang "mewajibkan" hubungan monogami. Karakter dominan ini jadi harus ditambahi dengan karakter setia, baik hati, bisa diandalkan dan lain-lain. Pokoknya karakter yang penting dalam hubungan monogami. Tapi secara naluriah, kecenderungan ini masih bisa dideteksi ketika hubungannya masih sebatas kencan atau taksir-menaksir. Itulah yang sedang dibuktikan dalam penelitian, salah satunya yang saya kutip di bawah. Ringkasannya, ketika subyek percobaan diberi aneka bau badan laki-laki, ternyata para perempuan yang sedang dalam masa subur memilih bau badan dari laki-laki yang dominan atau dalam bahasa politik gendernya, patriarkis. Argumen saya masih mengerucut kan? Andi --- In [email protected], Manneke Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pandangan bahwa hanya makhluk jantan saja yang punya concern akan penerusan keturuan kini tak lagi dominan dalam biologi evolusi. Pandangan ini lahir karena Darwin menganggap bahwa yang berevolusi adalah organisme (individu), maka dengan mudah lalu dibuat perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Tak heran jika lalu dikatakan individu laki-laki berkecenderungan memimpin dan individu perempuan berkecenderungan dimpimpin. > > Perkembangan teori Darwin pada masa kini, yang dikenal dengan neo- Darwinisme, memodifikasi pandangan Darwin dengan berpendapat bahwa yang berevolusi adalah gen. mengapa? Karena gen-lah yang punya kemampuan mereplikasi diri. > > Dalam hal ini, tak dikenal adalanya gen laki-laki atau gen perempuan, dan semua gen punya satu tujuan yang sama: penyintasan (survival) dan penerusan keturunan. Ini berlaku untuk semua makhluk hidup, termasuk baik monyet maupun manusia. > > manneke > > si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mbak Mariana, > > Tentu saja saya bisa ngomong begini: "Secara biologis kecenderungan > memilih pasangan dari pejantan dominan bisa ditelusuri dari keinginan > menjaga informasi genetika agar bisa diwariskan selama mungkin. Teori > evolusi Darwin mendukung bahwa pejantan yang dominan selalu memiliki > keturunan lebih banyak akibat seleksi alam. Kecenderungan yang sama > juga sedang diteliti pada manusia." > > Tidak pakai monyet kan? Cuma ya ngobrolnya jadi tidak enak; jadi kaya > seminar. > > Penelitian soal ini juga ada. Salah satu yang menarik bisa Anda lihat > di: > > www.natur.cuni.cz/~flegr/MANUSCRI/domin.pdf > > Saya bicara monyet biar diskusi lebih santai dikit, kalau Mbak > Mariana terus menanggapi dengan fokus ke monyetnya, ya silakan. Tapi > saya masih ngomongin topik yang sama; soal pacaran pakai bumbu > biologi sedikit, soal naluri wanita yang cenderung kepada lelaki yang > bisa memimpin. Tidak kemana-mana, kok. > > Andi > > > --- In [email protected], Mariana Amiruddin > wrote: > > > > Saya perempuan, manusia perempuan tentu, bukan monyet perempuan, > > tapi saya tidak begitu ya. Mertua perempuan dan laki-laki saya > > juga tidak begitu. Tidak ada istilah dan praktek "suami yang > > memimpin". > > > > Suami saya memilih saya justru karena saya tidak punya pikiran untuk > > dipimpin laki-laki, saya juga begitu memilihnya. Kita sama-sama > > memilih pasangan yang mau bekerjasama dalam membangun keluarga, > > menjadi relasi yang setara. > > > > Kedua, kalau Anda betul-betul mengerti soal dunia permonyetan (atau > > betul-betul menyukai discovery channel) apa Anda juga tahu monyet > > juga binatang kanibal, terutama si jantan yang bisa melahap anaknya > > sendiri? Terutama monyet yang berbadan besar? > > > > Tentu itu tidak berarti manusia laki-laki juga bisa memakan anaknya > > sendiri. > > > > Diskusi Anda justru sudah kemana-mana! > > > > Mariana > > > > > Balik lagi, biar diskusi enggak kemana-mana, premis saya masih > sama, > > > perempuan itu lebih senang pasangannya yang memimpin dan itu > bukan > > > cuma salahnya Mas Konstruksi Sosial tadi (kasian disalahkan > melulu). > > > Ini sudah sejak zaman manusia dan monyet masih susah dibedakan. > Kalau > > > nonton discovery channel, singa atau monyet yang punya harem > banyak > > > selalulah yang dominan, yang badannya besar dan selalu menang > > > berkelahi. Sementara yang jantan kelas dua akhirnya hidup > menjomblo > > > tidak punya keturunan. > > > > > Nah, padahal para hewan betina ini kan punya pilihan untuk kawin > > > dengan si kelas dua yang bakal lebih penurut ini. Tapi mengapa > mereka > > > mau dipoligami sama si jantan yang dominan coba? Karena sifat- > sifat > > > dominan ini dari sononya sudah terbukti menghasilkan keturunan > yang > > > dominan juga dan berarti survival ratenya lebih tinggi. Jadi biar > > > anak-anaknya survive, hewan betina harus mencari pasangan yang > > > dominan. Tidak bisa yang kelas dua. > > > > > Berhubung 98% gen kita dan gen monyet itu sama, yang seperti ini > > > sudah terprogram juga dalam naluri manusia yang perempuan. Kalau > > > tidak ada informasi lain, maka pilihan pertamanya adalah lelaki > yang > > > dominan; kulit luarnya tentu dari bentuk tubuh (tinggi besar) dan > > > kelakuan (percaya diri, jelas apa maunya). > > > > > CUMA, ada cumanya, berhubung manusia itu sudah lebih maju dari > hewan, > > > maka faktor pandangan pertama itu lantas harus disuplemen dengan > > > pandangan kedua: apa orang ini bisa diandalkan, apa karena > ganteng > > > terus jadi s3 (selingkuh sana sini), apa orang ini egois? Ini > yang > > > menyebabkan pilihan logis jatuh pada orang mungkin dari luar > tidak > > > kelihatan memimpin. Kalau tidak begitu ya kasian orang-orang yang > > > seperti saya ini... > > > > > Andi > > > > > > --------------------------------- > New Yahoo! Mail is the ultimate force in competitive emailing. Find out more at the Yahoo! Mail Championships. Plus: play games and win prizes. > > [Non-text portions of this message have been removed] >
