Mohon maaf, saya sih engga melihat ada nada "meremehkan orang-2 yang membeli motor" pada uraiannya pak Erlangga, malah sebaliknya, pada bait pertama tulisan anda saja saya sudah merasakan subjektivitas uraian anda. Bahwa kondisi lalu lintas beserta penanganan aturannya berikut seluruh faktor pendukungnya di kota Jakarta (khususnya) ini amat sangat "BRENGSEK" .. menurut saya sih ngga ada gunanya dibahas disini, alias buang waktu !!
Yang jelas .. kita ini PELAKU nya !! Mau roda nya berapa kek, semua brengsek, karena kita di izinkan brengsek !! Bahwa jumlah roda pada akhirnya mencerminkan kemampuan financial, itupun tak dapat dipungkiri. Tapi menurut saya, justru disitu POINT nya yang sangat menjengkelkan. Saat pengendara roda dua jelas-jelas akibat ke-DUNGU-an nya sendiri (mboncengi bini yg nggendong bayi plus balita dihimpitan dan di stang motor) nyelip kaya orang gila diantara mobil yang berhimpitan di perempatan jalan dan nerobos lampu merah, terus keserempet mobil yang giliran lampunya hijau, dan karena rodanya cuma dua, ya jatuh lah sekeluarga. Coba aja dalam kondisi kaya gini, si pengendara mobil berargumentasi secara akal sehat dengan keluarga yang terjatuh tersebut .. sama juga kita ngomong bahasa rusia sama orang dari ujung kulon !! Kaga bakal nyambung, tapi yang jelas pengendara mobil musti keluar duit, kecuali keluarin pistol, atau pake seragam ijo !! Itupun kalo berani ambil risiko dikerubutin sama pengendara motor lainnya. Tau ndiri, begitu ada pengendara motor keserempet, mereka ngegeriung cepet banget, kaya laler ijo ngerubutin "tai kebo" yang masih anget !! Sekali lagi maaf, saya terkesan cuma ngedumel tanpa memberikan kontribusi dalam membahas topik ini. Tapi ini fakta sehari-hari di lalu lintas Jakarta, yang sangat tidak mencerminkan keadilan dalam bermasyarakat yang tau ATURAN dan ADAT. Salam, Bodo --- In [email protected], "Ronal Baharuddin Hutagaol" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya RASA pengendara RODA 4 JUGA termasuk BRUTAL.., saya perhatikan (bahkan > banyak mobil2 pribadi) dibeberapa jalan pengendara RODA 4 ini tidak berada > dalam JALUR, kadang ada celah yang kira2 KOSONG dan muat lebarnya mobil di > EMBAT juga.. Jangan2 SIM-nya NEMBAK tuh (mungkin karena banyak uang kali > makanya pada NEMBAK), terkadang MAIN KLAKSON padahal belom LAMPU HIJAU, > kalau lagi HUJAN dan ada GENANGAN banyak2 pengguna MOBIL ini tidak peduli dengan sekitarnya (karena bukannya melambat digenangan AIR malah tambah kencang sehingga CIPRATAN airnya mengenai orang atau motor di SEKITARnya). > > Maaf saya berkata demikian, karena sepertinya dari gaya tulisanya p'Erlangga ini meremehkan orang2 yang membeli MOTOR... harusnya bisa lebih halus bukan denga kalimat2 begitu. Karena kalau kita cari siapa yang salah, MOTOR, > MOBIL, dll itu sih tergantung orangnya, mudah2an p'ERLANGGA bukan salah satunya. Saya pengendara MOTOR, setiap hari kekantor menggunakan ini, saya membeli motor karena COST penggunaan motor lebih EFISIEN dan EFEKTIF (dari Segi ONGKOS dan WAKTU) dibanding kendaraan UMUM. Untuk MOBIL belum MAMPU-lah saya membeli, apalagi kalau mengendari MOBIL baru, Jakarta TAMBAH SEMPIT AJA (sekarang masih bergaya beli mobil yang ukuran besar2). > > SALAM. > Pengendara MOTOR... > >
