Menurut panduan EYD yang diterbitkan Pusat Bahasa, cara penulisan berbeda untuk Tuhan dan manusia sebagaimana dipaparkan Sdr. Marthajan ini memang betul. Tampaknya ada kesadaran di kalangan para polisi Bahasa Indonesia untuk membedakan kedua entitas itu dengan cara membedakan cara penulisannya demi menghindari kerancuan. manneke
marthajan04 <[EMAIL PROTECTED]> wrote: saya pikir anda kurang jeli dalam melihat persoalan. ada beda yang besar antara sebutan maha untuk Tuhan dan manusia. dalam contoh : Maha Kuasa dengan mahasiswa, banyak beda. I. Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Pengasih, Maha Penyayang dll. Kuasa, besar, pengasih, penyayang adalah kata sifat bukan kata benda. Artinya, tak ada lagi yang bisa menandingi dalam hal kuasa, besar, pengasih, penyayang dll. Sedang mahasiswa dan mahaguru : siswa dan guru adalah kata benda. jadi disini maha-siswa/maha-guru adalah maha dari yang terbatas pada manusia yang bernama siswa/guru saja. II Menulisnya juga beda. Maha untuk Tuhan dipisah : Maha Kuasa sedang maha untuk siswa/guru , disambung : mahasiswa/mahaguru. ini mah hasil pengamatan saya saja. benar tidaknya ya enggak tahu sebab saya bukan ahli bahasa indonesia. MJ
