Pak Goen, saya bisa memahami cara berpikir anda melihat persoalan lesbian atau homoseksual pada umumnya. Pertama, anda memahami homoseksualitas itu sebagai perbuatan dosa karena dilarang agama. (di sini anda menyandarkan persoalan ini pada iman) Kedua, anda memahami homoseksualitas itu sebagai penyakit kejiwaan dan sosial. (lewat pernyataan2 yang penuh keprihatinan: kehilangan pegangan, kenormalan, kasih dll)
Saya tertarik untuk mendiskusikannya satu per satu. Bukannya ingin menjadi narsis kalau saya mereflesikan pergulatan yang saya alami selama memahami jatidiri dalam hal orientasi seksual. saya dan pasangan saya sekarang (kami sama-sama berumur 21-something) memutuskan bersama-sama karena memiliki spirit yang sama tentang kedalaman transendensi. Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang hadir dalam kebersamaan kami. Kami punya laku batin yang paralel dilakukan karena kami saat ini masih tinggal di kota terpisah. Soal ridha atau tidak, sama seperti pertanyaan ini: mana yang bergerak, angin atau bendera? ternyata pikiran kita yang bergerak. Bahwa menurut pikiran anda, Tuhan menciptakan manusia untuk bereproduksi, tapi kenyataannya tidak semua populasi itu subur. berarti memang Tuhan punya kehendak tidak semua manusia punya hak reproduksi. Dalam opini saya, reproduksi adalah hak bukan kewajiban. Maka wajar, kemudian ada yang infertil, homoseksual, inabsentia, selibat, kontrasepsi dan warna-warni lain sesuai dengan hak manusia sebagai makhluk. Yang kedua, kontroversi tentang homoseksualitas sebagai penyakit kejiwaan harusnya sudah selesai dari sejak tahun 70-an. Asosiasi Psikiater Amerika telah mengeluarkan homoseksualitas dari daftar penyakit kejiwaan. Sekarang, jika sebagian jatidiri kita ditekan oleh society dan agama, siapa yang tidak akan tertekan? Depresi? kehilangan pegangan? Saya rasa ini kondisi psikis dari pihak-pihak yang mengalami diskriminasi. Bukan cuma karena orientasi sosial, tapi juga diskriminasi ras, agama, golongan. Perjuangan (atau pergulatan) untuk mencapai pembebasan dari diskriminasi ini memang perlu pengorbanan. Ada yang memilih resiko, ada juga yang menutupi dengan diam-diam, lalu menikah dan menjalani kehidupan sebagai hetero. Semua sesuai dengan kapasitas masing-masing untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Sulit memang. Terutama karena sebagian besar dari kita berpikir bahwa kebahagiaan itu ada dalam perkawinan, bahwa tujuan hidup paripurna itu keluarga yang bahagia. Nah, sekarang bahagia mana : perkawinan hetero yang dipaksakan atau hubungan dengan kekasih jiwa yang saling mengayomi? Sebagai lesbian, saya pilih yang kedua. Bagi orang hetero pilihannya : perkawinan dengan kekasih jiwa yang saling mengayomi dong. Selamat, karena INSTITUSI agama dan negara memberkati anda. salam, nata --- In [email protected], "goenardjoadi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > bagaimana kalau istri anda yang berubah lesbian? > > kelainan jiwa itu kita pikir masalah biasa, padahal mereka butuh > pertolongan, jangankan kehilangan istri yang jadi lesbian, atau > ketularan lesbian kehilangan handphone saja kita sedih, > > apalagi yang mengalami lesbian itus endiri, kehilangan pegangan, > kehilangan norma, kehilangan kenormalan, kehilangan karunia terbesar > dari Tuhan, kasih yang diridhoi. > > salam, > GG
