Pak Wal, walaupun penembakan di dalam kampus/sekolah sudah beberapa kali terjadi, tetapi jumlah pelakunya biasanya TIDAK BANYAK. Jumlah korban (bukan pelaku) kali ini memang banyak dan keberadaan korban yang banyak ini IMO disebabkan oleh kebebasan mengakses SENJATA API.
Memang benar prilaku militer AS dalam kasus Irak bukan hanya sangat kejam, tetapi juga menyebabkan 'chaos' di semua sektor infrastruktur Irak dan keadaan ini menggiring ke konflik yg lebih luas dan lebih tak berprikemanusiaan. Tetapi tidak setuju jika kita melakukan generalisasi ke semua kasus2 dg mengklaim bahwa bangsa Amerika adalah bangsa kejam. IMO, suatu negara dikatakan memiliki penduduk/bangsa yang relatif suka kekerasan apabila JUMLAH PELAKU kekerasan di negara tsb relatif cukup banyak. Lihat aja berita2 TV di Indoesia pak Wal, setiap hari ada berita pembunuhan (dan karena kurang fasilitas, tak semua pembunuhan diberitakan). Di Amerika, apabila satu pelaku pembunuhan menghabisi nyawa korbannya satu per satu dalam selang beberapa bulan (walaupun mungkin total korbannya mencapai 5-6 orang), maka seluruh saluran berita TV pasti memberitakannya (sebab pembunuhan, kekerasan dan tindak kriminal di sana merupakan kejadian yg relatif langka dibandingkan dg Indonesia). Salam --- In [email protected], "walsuparmo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Salam, > Amerika adalah negara dengan masyarakat yang penuh kekerasan. Sijak > negara itu didirikan oleh pembunuh2 suku Indian dan beberapa orang > Presidennya dibunuh oleh rakyatnya sendiri. Jadi tidak mengerankan > jika stiap waktu timbul kekerasan serpeti di Universitas di > Virginia.Presiden Bush dengan alasan apapun ,yang memerintahkan > rakyatnya untuk menyerang negara lain.Ironisnya di negara itu juga > timbul gerakan2 HAM dan gerakan etis lainnya. > Wasalam, > Wal Suparmo > > > --- In [email protected], radityo djadjoeri > <radityo_dj@> wrote: > > > >). > > > > Apa mungkin dia keturunan Arab, atau Turki? Semoga bukan orang > Indonesia... > > > > > > > > Agus Hamonangan <agushamonangan@> wrote: > > > http://www.kompas.co.id/ver1/Internasional/0704/17/072245.htm >
