Selain masalah pengurukan ancaman reklamasi,
Nelayan Jakarta juga mengahadapi masalah limbah.
Kawasan industri di pantai utara Jakarta secara rutin
membuang sisanya ke laut. akibatnya semua jenis ikan
dan mahluk laut lainnya mati atau minggir dari kawasan tersebut..
Sampai saaat ini industri2 tersebut tidak ada yang ditindak.

Jakarta yang terkenal sebagai kota bahari ternyata tidak peduli 
dengan nelayannya. Gilannya lagi, Biro Pusat Statistik (BPS) tidak
memasukan Nelayan sebagai salah satu pekerjaan masyarakat jakarta..
Akibatnya, tidak ada anggaran untuk memperhatikan nasib nelayan...

"Nenek moyangku orang pelaut".. apa harus kita jadikan lagu kenangan untuk 
nelayan Jakarta???  


  ----- Original Message ----- 
  From: firdaus cahyadi 
  To: kaukus lingkungan ; Klh3 milis ; milis lingkungan ; milis LSM ; milis PKS 
; milis sahabat ; List Media ; himitekindo ; forum pembaca 
  Sent: Thursday, April 19, 2007 5:01 PM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Mari kita bela nelayan Jakarta !!!


  Kawan2,
  Rasanya kita tidak bisa membiarkan para pemilik modal secara terus-menerus 
memiskinkan saudara2 kita..

  Rasanya kita harus berbuat sesuatu untuk menghentikan reklamasi pantai utara 
jakarta...

  ----------------------------------------------------------
  Kompas Kamis, 19 April 2007 
  Lingkungan
  Nelayan Jakarta 
  Jakarta, Kompas - Sebagian nelayan miskin di pantai Jakarta menjadi pengelana 
setelah daerah pesisir diokupasi oleh banyak perusahaan. Pengurukan pantai 
besar-besaran menyebabkan mereka tersingkir, kehilangan tempat tambat perahu 
dan tempat tinggal. 
  "Kami semakin terdesak. Ada yang terpaksa hidup berpindah-pindah, dari pantai 
yang satu ke pantai lain di utara ini. Sekarang saja kampung kami sudah 
terkepung proyek pengurukan besar-besaran," kata Najib (32), warga Marunda 
Kepu, Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (18/4). 
  Pengurukan Pantai Marunda dilakukan oleh Kawasan Berikat Nusantara, seperti 
terlihat pada hamparan luas yang mengepung Kampung Marunda Kepu. Perahu atau 
armada tangkap nelayan yang tadinya ditambatkan di pantai dipindahkan ke alur 
banjir kanal timur. "Kami akan melawan jika digusur," kata Ajid. 
  Kampung nelayan Ancol Timur dan Ancol Barat juga sudah tiada, demikian juga 
di Pantai Marina dan Pantai Putri. "Nelayan di Pantai Putri dengan susah payah 
akhirnya pindah ke Muara Angke karena terdesak oleh adanya pengurukan untuk 
pembangunan rumah elite," kata Nurhaipin La Manna, anak seorang nelayan di 
Ancol Barat. 
  Nurhaipin yang juga aktivis Komunitas Peduli Lingkungan (Kompilasi) Jakarta 
Utara menuturkan, Pantai Indah Kapuk dan juga akan disusul Marunda, misalnya, 
menjadi daerah haram bagi nelayan. Tidak hanya itu, kawasan hutan pantai juga 
dihabisi. "Ini semua karena ambisi kapitalis," kata dia. 
  Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jakarta Yan Winatasasmita 
mengatakan, pengurukan pantai yang dilakukan secara besar-besaran oleh 
pengembang atau perusahaan tertentu berdampak buruk kepada nelayan. "Selain 
kehilangan tempat tinggal, juga tertutup bagi mereka mencari rezeki," katanya. 
  Yan mengatakan, jika proyek pengurukan pantai itu dikombinasikan lagi dengan 
reklamasi, itu merupakan mimpi buruk bagi warga Jakarta, termasuk nelayan. 
Harus ada kajian ulang terhadap proyek pengurukan dan reklamasi pantai dan, 
jika perlu, tidak dilanjutkan. (CAL) 




  ---------------------------------
  Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
  Check outnew cars at Yahoo! Autos.

  [Non-text portions of this message have been removed]



   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke