Soal bela petani atau nelayan... memang perlu pelurusan.. dan perlu 
kesamaan visi  ;(
Saya juga maunya punya misi membela rakyat kecil...tapi menurut sy tidak 
harus dgn mempertahakan dia dlaam professinya..

Soal becak di Jakarta misalnya... sy berpendapat.. becak memang bukan modus 
angkutan yg tepat buat Jakarta yg harusnya berorienstasi mass rapid 
transportation.. , kalau beca.. sudag nggak bisa mass  .. eh lamabt  pula..
Tapi kan nggak menghilangkah kesempatan si tukang becak.. utk membecak 
diluar Jakarta .. atau .. kerja di Jakarta  yang bukan mbecak..

Soal sulitnya cari kerja.. itu masalah umum.. khususnya di era SBY dimana 
kemiskinan bertambah.. lowongan kerja makin sedikit bila di banding 
pertambahan angkatan kerja...

Jadi jalan keluarnya memang .. ya pemerintah harus mampu menciptakan 
laangan kerja,.. bukan mengadakan lapangankerja yg salah seperti becak di 
jakarta..

Sekarang soal nelayan  atau petani....menurut sy .. diseluruh duni.. 
trendnya yg bekerja di bidang pertanian ini memang terus menurun.. dengan 
yg kerja di industri meningkat.. Cuma bedanya di LN.. itu tidak diiringi 
menurunnya produksi.. bahlan sebaliknya .. produksi meningkat walau jumlahg 
yg kerj adi bidang itu berkurang/.. Artinya petani/nelayan yg "tertnggal " 
di bidnag itu makin sejahter..

Lalu .. bagaimana yg pindah lapangan kerja  ?? mereka juga lebih makmur dgn 
bekerja di industri..

Kita.... kita berusaha melestarikan mereka dengan menjadi petani/nelayan 
subsisten.. , kita mau mrk tetap bekerja disitu .. tapi tetap miskin ??


Yang seru lagi... ketika pertanian dan nelayan tidak mampu memenuhi pasokan 
hasl pertanian.bagi industri  ., bidang industri dicegah mengimpor .. 
katanya takut menjatuhkan harga pertanian/perikanan dalam negeri..


Itulah yang membuat... ya farm  ya processing kita nggak maju maju...

Farmnya karena  kebanyak jadi permainan politik... industri jadi korban 
permainan politik...

Jalan keluarnya..utk farm  . memang tingkatkan priduktivitas.. perluasan 
lahan.. intensifikasi ... perbaikan prasarana...

bukan sekedar memaksa  mrk tetap pd bidangnya... yg sebenarnya nggak 
menguntungkan mereka..

dilain pihak  ... utk industri pengolahan... sementara pasokan dalam negeri 
belum cukup, buka impor bahan baku untuk di beri nilai tambah... serta 
membuka lapangan kerja... dan  nantinya jika pertanian./perikaanannya sudah 
cuku out putnya, ya baru industri berhenti impor..

Catat .. bhw yg di buka adalah hanya yg untuk diolah kembali... , dan tidak 
boleh masuk utk mengjhaqncurkan pasar konsumsi

Pernah bayangkan.. berapa besarnya .. industri terigu .. yang menghasilkan 
industri mie instant, kue  dan roti/... ??? luarbiasa... !!!l ihat dimana 
mana  orang makan mie dan roti.. , berapa orang yg kerja di bidang 
pengolahan gandum jd terigu.., pengolahan terigu jadi mie, pengolahan 
terigu jadi roti, lalu di pemasarannya..???., berapa orang  yg kerja jualan 
mie, roti , kue kue... .???.
Ya besar sekali.......penciptaan lapangan kerja yg sangat significant..

dan tak satu gram pun.. atau  satu butir gandum pun diproduksi dalam negeri...

Industri makanan di Vietnam dan Cina maju pesat... Indonesia tidak dilirik 
oleh investor..., habis bahan baku nya nggak ada..dan sulit diadakan sih..


Dengan itu..di vietnam dan cina  dunia farmnya juga bergerak maju..

Kita dipaksa bergerak atas.kecepatan gerbong terlambat.. jadi kita terseok 
seok..

terus aja teriak tentang mempertahankan pekerja di bidang tani dan 
nelayan..dengan . tanpa/belum  benar benar memberi input  yg cukup utk 
menibgkatkan pendpaatan petani/nelayannya..

Kalo lg bicara begini.. dikalangan politisi pertanian.( orang yg 
memanfatakan pertanian utk kemashalatan posisi politik dia) . aku langsung 
diteriakkan... nggak nasionalis...lah... nggak memihak 
petani/peternak/nelayan  lah..

Padahal yg bicara itu sebenarnya sedang bicara mempertahankan atau 
merebut  posisi menguntungkannya di bidang itu dengan menggencet petani..

Jadi ingat "sukarnoisme to kill Sukarno and Sukarnoisme'...ketika ada yg 
bilang bela Bung Karno padahal dia  jadi Yudasnya..

Begitulah mrk berteriak bela petani.. sambil sesungguhnya menggencet petani 
kecil


orientasi kita seharusnya .. adalah untuk meningkatkan kesejahteraan 
rakyat..termausk yg kebetulan jd nelayan ataupetani.. bukan mempertahankan 
jumlah nelayan atau jumlah petani...



Nggak ngerti... ya nantilah  bersambung... kalau diskusi nya jalan... smile..

Salam,
Haniwar


At 09:49 PM 4/20/2007, you wrote:

>Tanpa reklamasi pun nelayan tradisional di pantai utara nasibnya tidak 
>berubah dari jaman kakek mereka masih jadi nelayan, bahkan sekarang 
>bertambah sulit. Untuk masuk dan jual hasil tangkap mereka setidaknya ada 
>kurang lebih sembilan pos yg harus diberi setoran ikan atau apa saja. 
>Setidaknya itulah yg pernah saya lihat di tahun 70-an dan saya rasa tidak 
>banyak berubah saat ini ditahun 2000an.....
>
>Dengan peralatan yg mereka miliki tidak banyak yg bisa diperoleh dari laut 
>yg semakin kotor dan tidak ramah bagi mereka terutama di kala musim 
>"barat"....saya pernah merasakan sakitnya sudah satu dua hari dilaut 
>pulang dengan tangan hampa, kalau masih ada sisa ikan kering lah yg 
>dimakan satu keluarga.....dan ini terjadi di depan Jakarta....
>
>Saya benar2 ingin "membela" atau membantu mereka tolong kasih tahu 
>bagaimana caranya yg pas.....jaraj jangkau operasi mereka cuma paling2 12 
>mil laut.....mereka susah dapat untung, yg untung kebanyakan adalah 
>tengkulaknya.....
>
>Salam
>Kukuh

Kirim email ke