Pak Kukuh,

  Ini sharing saja dari ingatan masa kecil, yang dilakukan kakek merubah 
komunitas dari tidak berpendidikan menjadi komunitas yang sadar betul dengan 
arti penting pendidikan, sampai sekarang anak-anak berpendidikan dari daerah 
tersebut masih terus bermunculan. Lalu mulai kupahami ketika ikut terlibat pada 
rencana ComDev di pulau 1000 dan pembuatan alat ukurnya . Pekerjaan seperti ini 
butuh waktu lama..karena berkaitan dengan perubahan mind set komunitas, dari 
profesi nelayan tangkap menjadi nelayan budidaya (di pulau 1000) atau yang 
lainnya. Nelayan tangkap yang sudah terbiasa dengan hasil seketika (setelah 
nangkap dan dapat ikan langsung dijual dan dapat uang)�lalu harus berubah 
menjadi �orang darat� yang mesti melalui proses sebelum mendapatkan hasil 
(mesti nunggu sebulan untuk dapat uang, mesti budi daya dengan waktu tertentu 
lalu baru dapat hasil...dst..). Kegiatan ini perlu waktu dan kontinuitas. Perlu 
waktu karena targetnya yang akan dirubah tidak kasat mata yaitu
 pola pikir/mind set yang akan terrepresentasikan pada perilaku yang muncul dan 
diharapkan---dan tentu saja perlu waktu yang tidak singkat, serta berkaitan 
dengan sosial budaya, ekonomi, politik, sejarah, perilaku sampai pada startegi 
marketingnya (kalau pemberdayaan komunitas untuk jenis pekerjaan yang sama), 
networking, organizing community, sampai pada kemandirian komunitas--tidak bisa 
bergantung pada pemerintah. Sabtu kemarin saya ketemu temen senior dan ngobrol 
tentang satu komunitas di daerah Jawa Timur yang berhasil melakukan perubahan 
pada komunitas tersebut..dari petani padi menjadi petani jeruk, padahal kondisi 
tanah tidak sesuai dengan keduanya, tapi hal itu menghalangi niat tersebut dan 
hasil jeruknya kualitas ekspor (dan memang di ekspor). Perubahan ini diawali 
dan dimotori oleh seorang mantan kepala sekolah yang prihatin dengan kondisi 
petani, dan sedikit demi sedikit usahanya mulai bergulir sampai akhirnya pada 
kemandirian komunitas tersebut menjadi petani
 jeruk.
  Setuju dengan pak Haniwar dengan pentingnya visi dan misi sebelum melangkah, 
paling tidak apa yang akan dikerjakan menjadi lebih jelas, konkret dan terarah. 
Tetapi perlu diingat bahwa kita (yang punya niat untuk melakukan sustainable 
program for community) tetap berada di luar ring karena fungsinya sebagai 
fasilitator, sehingga visi dan misi pun sebisa mungkin muncul dari mereka 
(tentu saja dengan �bimbingan� dari fasilitator). Fasilitator menjadi 
bagian integral dari komunitas tapi tetap tidak bisa (dan tidak boleh) menjadi 
�leader� bagi komunitas (kecuali hidup bersama mereka lho..).

  Sebenarnya banyak contoh cuma kita kurang perhatian dengan mereka karena 
terlalu asik melihat "orang lain"...
  Kira-kira sharingnya segitu dulu Pak.

  salam,
  -CI-
    .

     kukuh kumara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


          Rekan Ida Bagus Arka,

Sebenarnya sudah ada beberapa upaya untuk meningkatkan taraf hidup para 
nelayan, melalui berbagai penyuluhan dan pelatihan dan juga kesempatan ikut di 
perikanan industri seperti perikanan laut dalam yg salah satunya dilakukan oleh 
PT Samudra Besar di Denpasar Bali. Di Jakarta jenis perikanan laut dalam juga 
ada yg berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Muara Baru.

Sayangnya upaya penyuluhan Perikanan juga terkena lesu darah, sementara 
perikanan industri tidak bertumbuh kembang seperti yg diharapkan sehingga daya 
serapnya terhadap nelayan2 tradisional juga tidak cukup signifikan. Salah satu 
masalahnya adalah tidak dikuasainya jaringan pemasaran ikan tuna oleh Indonesia.

Ada juga keganjilan2 di bidang perikanan tangkap ini, banyak nelayan2 asing yg 
memasuki perairan Indonesia bai legal maupun ilegal. Melihat kenyataan ini kan 
tidak mungkin nelayan2 asing ini jauh2 datang ke Indonesia kalau usahanya tidak 
menguntungkan. Namun kalau kita tengok keluhan yg muncul dari "Nelayan" 
Indonesia salah satunya adalah mahalnya atau ketidak mampuan mereka membeli 
bahan bakar untuk operasi. Padahal hasil tangkapnya dijual/diekspot ke luar 
negeri. Bandingkan dengan nelayan2 asing yg datang ke perairan Indonesia?? Atau 
mereka dapat subsidi BBM dari pemerintah mereka???

Jadi banyak sekali masalah yg ada di dunia perikanan khususnya nelayan 
tradisional, yg saya pikir keadaannya/taraf hidupnya tak kunjung beranjak ke 
arah yg lebih baik. Tidak cukup hanya berteriak bahwa mereka harus ditolong, 
perlu pemikiran matang dan konsisten serta implementasi yg terukur dan terus 
menerus.

Salah satunya adalah memberdayakan lagi gabungan antara penyuluhan lapangan 
Perikanan dan penelitian dan pengembangan usaha.

Sebagai contoh setahu saya di daerah Jawa Timur ada nelayan yg juga petani, 
jadi manakala musim sedang tidak memungkinkan mereka melaut, maka mereka bisa 
beralih ke pertanian atau kerajinan/industri rumah tangga.

Salam
Kukuh Kumara

Kirim email ke