hello kawan-kawan..semoga semuanya dalam keadaan sehat dan berbahagia....
ikutan nimbrung ya...

soal pak inu, aku sepakat dengan yang ditulis mbak yenny dalam 'sang whistle 
blower'..
seminggu terakhir saya mengamati intens ipdn dan beberapa kali ketemu pak 
inu...smsan juga...beliau sosok yang sederhana..ceplas ceplos..jujur...itu 
sekilas yang saya amati ya...

soal dia pernah mukul praja...dia mengakui...iya pernah mukul...walaupun dia 
menyampaikan alasannya mengapa dia mukul (misal : dia 'nge-grebeg praja berbeda 
jenis kelamin yang berada di tempat yang tidak seharusnya --you know what i 
mean lah)...dia mengakui itu tujuannya mendidik dan tidak menyebabkan 
kematian...hanya nempeleng dan tidak memukul atau menendang a la bruce 
lee...dia tahu batas...tapi tetep saja dia menyampaikan rasa bersalahnya dengan 
legowo dan meminta seisi ipdn 'diaudit' (termasuk dirinya), demi perbaikan 
ipdn...demi menghasilkan pamong yang berkualitas...itu bahasa beliau...karena 
itulah tujuan awal dibuatnya ipdn...yang dulunya bernama stpdn...yang dulunya 
lagi berasal dari apdn...oh ya pak inu juga sempat bilang di masa dia sekolah 
di apdn dulu...dia juga mengalami pemukulan oleh seniornya...

nah bayangkan berapa lama akar kekerasan itu dipelahara dan ditanamkan di ipdn 
ini....kemaren saya sempat bertemu dengan seseorang yang menceritakan ada 
semacam ungkapan di ipdn ini..yang entah siapa penemunya...saya merinding 
dengernya...
    1. junior boleh diapain aja, sisakan nyawanya!!!
    2. jika tidak bisa disentuh hatinya, sentuh ulu hatinya!!!

astaganaga..jadi anak2 baik dan manis di rumah yang masuk ipdn, dicekoki dengan 
pemikiran seperti ini...lama-lama mereka berpikir memang seperti ini yang 
benar...jadi kebohongan dan pembodohan oleh senior itu lama-lama jadi tertanam 
di dalam diri mereka...bahkan beberapa kali saya ngobrol dengan praja, mereka 
seperti merasa bahwa yang tidak bisa melalui 'kekerasan' di ipdn, adalah kaum 
yang lemah...mereka yang survive, adalah yang kuat...saya juga menangkap kesan, 
sebagian dari mereka lebih bersimpati terhadap para pelaku penganiayaan 
daripada korban...dalam kasus ini cliff muntu...ada praja yang bilang, cliffitu 
keanyakan ngambil ekskul..jadi kecapean...ya kalau udah kecapean trus dipukulin 
ya hasilnya bisa kita lihat sendiri..jatuh korban...

namun ada juga beberapa praja yang mengungkapkan kalau kekerasan itu hanya 
terjadi pada mereka yang ikut ekskul atau kegiatan tertentu, seperti pataka 
(pasukan pengibar bendera), drumband, serta polisi praja...yang lainnya tidak 
ada pukul-pukulan...sulit juga mengungkap mana yang valid...karena sekarang GTM 
(gerakan tutup mulut) dikalangan praja terhadap pihak luar, kuat sekali...

itu sekilas yang isa saya bagi dengan anda semua...

salam,
--gst.




----- Original Message ----
From: Hermawan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, April 19, 2007 10:41:28 AM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Inu Kencana PERNAH MEMUKUL PRAJA IPDN

Saya melihat seorang INU KENCANA dari perspektif yang berbeda.
Justru yang saya lihat adalah keberaniannya dalam mengungkap kejadian
di kampus IPDN. 
Tidak mudah bung menjadi "penghianat" IPDN diantara ratusan orang yang
seirama untuk berkonspirasi menutupi kebusukan. 
Seorang pemberani adalah orang yang sanggup dengan sadar menghadapi
resiko dari rantai sebab akibat. Saya yakin diapun sangat sadar akan
segala resiko yang akan dihadapi. 
Dan meninggalkan arena sebelum waktunya bukan sikap seorang satria.

Salam...

Kirim email ke