"Para feminis" itu tidak monolitik, Bu Cornelia. Gerakan feminisme sangat kaya 
dan majemuk, dan tak semua aktivis feminis sepaham dalam segala hal. 
Masing-masing punya prioritas sendiri: ada yang concern pada trafficking, ada 
yang berfokus pada pornografi, ada yang komitmennya ditujukan pada hak 
perempuan pekerja, ada yang khusus mengabdikan diri pada soal-soal perempuan 
Dunia Ketiga, dan masih banyak lagi. Jadi, mengharapkan adanya "titik pijak" 
yang sama pada semua aktivis perempuan bukan hanya mustahil, tapi juga 
mendangkalkan kemajemukan gerakan mereka.
   
  Namun, saya kira semua yang mengaku feminis sepakat bahwa saat ini masih 
banyak perempuan yang mengalami peminggiran, dan bahwa perempuan masih perlu 
untuk terus diberdayakan agar tidak tergantung pada laki-laki. Karena, 
ketergantungan dan peminggiran inilah akar dari ketidaksetaraan antara 
perempuan dan laki-laki.
   
  Masih kerap bukan kita dengar komentar-komentar miring tentang perempuan 
dalam berbagai bidang? Buktinya, lihat saja posting-posting di milis ini. 
Rata-rata, pengirim posting-nya ngaku nggak bias gender, tapi dalam setiap 
posting mereka kita bisa melihat konsistensi pola pandang yang negatif terhadap 
perempuan. Jika Anda gagal melihat ini semua, itu karena Anda tidak memakai 
perspektif perempuan dalam memandang persoalan (meski Anda sendiri perempuan).
   
  Tapi, ngomong-ngomong, karena Anda sudah bilang punya pemahaman sendiri 
tentang feminisme, tolong dong dibagi ke kita-kita ini. Biar bisa dilihat 
sumbangan apa yang dapat diberikan oleh pemahaman Anda itu pada kemajuan 
gerakan perempuan.
   
  Catatan tambahan untuk matrilineal di Minangkabau: power tetap ada di tangan 
laki-laki. Ninik Mamak itu laki-laki lho, bukan perempuan.
   
  manneke

Cornelia Istiani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Ha..ha...pak Manneke..karena saya bukan "feminis"---istilah ini masih 
belum kupahami betul--saya hanya ingin pemahaman sebagai titik pijak dari para 
akitivis perempuan itu. Jadi maaf saya memang punya penjelasan sendiri tapi 
dari sisi saya lho, yang belum tentu sepaham dengan para feminis...gitu loh. 

Mengenai budaya matrilineal ( bukan matriarki ya?? nanti saya cek literatur 
ya)..kok bisa yang berkuasa tetap laki-laki?? setahu saya kok para wanita nya 
yang punya power dan garis ibu kan yang menentukan keturunan??

-CI-


Kirim email ke