Matrilineal di Minangkabau itu berasal dari kehidupan komunal 
sebelum masuknya budaya Hindu/Buddha/Islam ke Nusantara.

Konsepnya kira-kira semua keturunan seorang perempuan tinggal di 
sebuah rumah bersama yang disebut rumah gadang dan memperoleh 
penghasilan dari sawah/ladang bersama yang disebut harta pusako. 
Kalau keturunan si perempuan ini ditanya dari keluarga mana dia 
berasal, dia akan menunjuk ke ibunya atau neneknya; bukan bapaknya.

Laki-laki di Minangkabau tidak berhak atas bagian dari rumah bersama 
atau sawah/tanah bersama tersebut. Kalau ibunya meninggal, maka 
rumah gadang tersebut otomatis jatuh ke anak-anak perempuannya. 

Setelah menikah, seorang laki-laki akan "menginap" di rumah gadang 
isterinya (bersama keluarga isterinya yang lain) dan "membantu" 
mengolah sawah ladang keluarga isterinya. 

Saya katakan "menginap" dan "membantu" dalam tanda kutip karena 
secara adat dia masih anggota rumah gadang ibunya. Dia hanya tamu di 
rumah gadang isterinya. Bahkan anaknya pun secara adat bukan 
tanggungjawabnya, melainkan tanggungjawab kakak/adik ipar lelakinya. 

Tanggung jawab utama laki-laki di Minangkabau adalah membesarkan 
kemenakannya (anak-anak adik perempuannya). Peranan ini disebut 
mamak. Mamak inilah (biasanya anak laki-laki tertua) yang 
berkonsultasi dengan ibunya mengenai masalah kemenakannya dan 
masalah harta pusako (yang semua atas nama ibunya) sambil dia 
mengolah sawah ladang keluarga isterinya.

Benar bahwa adat Minangkabau itu matrilineal; tapi tidak mudah 
mengklasifikasikan apakah dia lantas menjadi matriarki atau 
patriarki. Keputusan atas masalah keluarga, terutama anak adik-adik 
perempuannya, memang diambil oleh mamak. Tapi di lain pihak 
penguasaan harta benda dipegang oleh ibunya. Pada prakteknya di 
sebuah rumah gadang selalu ada dua kekuasaan besar: si ibu dan si 
mamak. Jarang saya melihat keputusan diambil oleh satu orang saja.

Perhatikan juga bahwa adat ini berdasarkan kehidupan komunal ribuan 
tahun yang lalu dimana konsep "harta pribadi" dan "nuclear family" 
tidak dikenal. Di Minangkabau pun tidak ada yang bisa menjalankan 
adat ini dengan murni. Jadi akan sulit menilainya berdasarkan konsep 
zaman sekarang yang lebih individualistis.

Andi


--- In [email protected], Cornelia Istiani 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ha..ha...pak Manneke..karena saya bukan "feminis"---istilah ini 
masih belum kupahami betul--saya hanya ingin pemahaman sebagai titik 
pijak dari para akitivis perempuan itu. Jadi maaf saya memang punya 
penjelasan sendiri tapi dari sisi saya lho, yang belum tentu sepaham 
dengan para feminis...gitu loh. 
>    
>   Mengenai budaya matrilineal ( bukan matriarki ya?? nanti saya 
cek literatur ya)..kok bisa yang berkuasa tetap laki-laki?? setahu 
saya kok para wanita nya yang punya power dan garis ibu kan yang 
menentukan keturunan??
>    
>   -CI-
>    
>   
> 
> manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           Lha, soal stereotipe, bukannya Anda mestinya lebih 
ngerti? Kan bidangya psikologi toh? Hal ini banyak dikaji dalam 
cognitive psychology. Lebih baik Bu Cornelia yang menerangkan di 
sini dari pada saya ngeracau panjang lebar.
> 
> Satu lagi, budaya Minang itu bukan "matriarki" 
melainkan "matrilineal." kedua hal ini bedanya seperti laut dan 
gunung. Budaya matriarki cuma ada dalam mitos dan legenda, seperti 
legenda bangsa Amazon yang konon semuanya perempuan, misalnya. Kalo 
matrilineal, penguasanya tetap laki-laki. Kan tokoh kunci dalam 
sistem ini adalah Ninik Mamak, yang nota bene adalah laki-laki?
> 
> manneke
>


Kirim email ke